22.9 C
Yogyakarta
Kamis, Juli 9, 2020

Al-Qur’an Basis Epistemologi

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Ketua LSBO PP Muhammadiyah Resmikan Rumah Kaligrafi Syaiful Adnan

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Pimpinan PusatMuhammadiyah, Drs Syukriyanto, M.Hum kemarin melakukan kunjungan silaturahmi ke Rumah...

PCIM Arab Saudi dan Suara Muhammadiyah Adakan Pelatihan Jurnalistik

MAKKAH, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Arab Saudi (PCIM Arab Saudi) bekerja sama dengan Suara Muhammadiyah (SM) menggelar pelatihan jurnalistik...

BTM Artha Surya Kabupaten Tegal Sinergikan Pengembangan AUM Pendidikan

TEGAL, Suara Muhammadiyah - Membangun sinergi antar Amal Usaha Muhammadiyah BTM Artha Surya kabupaten Tegal peduli dengan pengembangan tindak lanjut. Yaitu merencanakan...

Covid Talk: Dakwah dan Pendidikan Muhammadiyah berbasis Teknologi

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Berkenaan dengan adanya wabah Covid-19 di era generasi Z, maka teknologi merupakan sebuah media yang tidak boleh tertinggal...

Menghadapi Covid-19 Perlu Strategi dan Kemitraan

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Allaster Cox, Kuasa Usaha Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia menyampaikan bahwa Australia sangat prihatin dengan kondisi di Indonesia...
- Advertisement -

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah–  al-Qur’an merupakan pedoman hidup umat muslim yang fundamental. Al-Qur’an sebagai mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW ini terdiri atas 30 juz, 114 surat dan 6.236 ayat. Didalamnya terdapat 160 ayat yang berkaitan dengan hukum dan 800 ayat yang berkaitan dengan alam (ayat kauniyah). Agus Purwanto Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Hisab dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) mengajak untuk merenungkan ayat-ayat kauniyah tersebut, menjadikannya sebagai basis epistemologi pada Seminar Nasional di Universitas Islam Indonesia (UII), Kamis (22/12).

Sudah sekitar sepuluh abad, kata penulis buku nalar ayat-ayat semesta itu, sains dan teknologi dilupakan oleh ulama dan umat. Akibatnya dunia Islam mengalami kelumpuhan dan ketergantungan terhadap bangsa lain.

Adanya fakta bahwa umat Islam sekarang dianggap miskin, bodoh dan terbelakang, lanjut Agus, salah satu penyebabnya karena pemimpin di Negara Muslim kurang memberikan perhatian lebih tehadap iptek. “Kurangnya perhatian akan kemajuan di bidang iptek ini dapat kita lihat dari anggaran yang disiapkan pemerintah untuk biaya penelitian yang masih rendah,” tutur Agus.

Lemahnya umat dalam mengambil hikmah akan penciptaan alam ini, sambung dosen Institute Teknologi Surabaya itu, Islam tereduksi sebatas amalan fisik dan tasawuf. Sementara ekonomi dan politik dikuasai orang lain, munculah anggapan yang keliru tentang dunia adalah surga bagi orang kafir.

Bojonegoro dan Papua, ia mencontohkan, merupakan salah satu pusat sumber daya alam yang kaya raya, namun kedua daerah tersebut dikenal memiliki keterbelakangan sosial yang lebih tinggi daripada daerah lain. Akar permasalahannya karena masyarakat dibuat bodoh, diberikan pemahaman bahwa belajar arsitek, menjadi insinyur menjadikan mereka sekuler.

“Sejatinya problem kita bukanlah kapitalisme, akan tetapi teologis. Untuk itulah, mari kita kembalikan peradaban merujuk kepada al-Qur’an. Kita posisikan al-Qur’an sebagai basis epistemologi, menggali pengetahuan berawal dari al-Qur’an” pungkas Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu (Mas DF/g/r).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles