Haedar Nashir: Jangan Semaikan Benih Pragmatisme di Dalam AUM

Haedar Nashir
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah- Bangsa Indonesia saat ini tengah mengalami distorsi dalam kebangsaan. Liberalisasi dan sifat-sifat pragmatis mewarnai suasana kebangsaan saat ini. Menyikapi hal tersebut, Muhammadiyah sebagai sebuah persyarikatan yang mempunyai banyak Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di berbagai bidang harus mendasarkan gerakannya pada nilai perjuangan Islam.

“Kuncinya adalah jangan disemai atau menyemaikan benih-benih pragmatisme dan oportunisme di dalam Amal Usaha. Pondasi menggerakkan nilai perjuangan Islam harus menjadi patokan,” ungkap Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam Workshop Pejabat Struktural UM Magelang yang digelar di Hotel UNY pada Jumat (17/2).

Revitalisasi ideologi dan nilai-nilai Muhammadiyah dalam pengembangan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), kata Haedar, harus menekankan pada pengorbanan dalam perjuangan atau jihad fii sabilillah. “Niatkan pada jihad fii sabilillah. Jalan yang membawa pada keridhoan Allah, berbisnis dengan Tuhan yakni berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Haedar menjelaskan terdapatnya 3 point penting yang perlu diperhatikan dalam menjalakan persyarikatan. “Pertama, Muhammadiyah misinya sebagai gerakan Islam. Pondasinya Islam, bingkainya Islam, cita-citanya Islam. Kedua, Muhammadiyah ini menggerakan dakwah, membawa misi dakwah. Ketiga, Muhammadiyah mempunyai misi pembaharuan, menjadi masyarakat yang mandiri, yang maju,” jelasnya.

Di akhir pemaparannya, Haedar berpesan kepada peserta workshop dengan menekankan perlunya pengorbanan dalan keikhlasan dalam menjalankan perjuangan Islam dan Kemuhammadiyahan.

“Perjuangan di dalam Islam, di dalam Muhammadiyah ini merupakan jihad. Ketika kita menerima gaji, itu merupakan pahala di dunia. Di samping itu kita juga dituntut untuk ikhlas melakukan suatu pekerjaan. Semakin kita ikhlas, maka akan semakin baik kehidupan kita,” tandasnya (Yusri).

Baca Juga:   Kyai Dahlan dan Nyai Walidah Wariskan Konsep Ideal Relasi Gender Muhammadiyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here