24 C
Yogyakarta
Minggu, Agustus 9, 2020

Terkait Serangan Gas Beracun di Idlib dan Rudal Tomhawk milik AS, Ini Sikap PP Muhammadiyah

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Berita Hoax Covid-19 Lebih Cepat Menjangkiti Dibanding Virusnya

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Sudah beberapa kali ini berita hoax terkait Covid-19 terus bermunculan dan meresahkan masyarakat luas. Berita hoax Covid-19 justru...

Salurkan KUR Syariah, Menko Perekonomian Dukung UMKM Pemuda Muhammadiyah

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dampak dari Pandemi Covid-19 tidak bisa dipungkiri menghantam semua sendi dan aspek kehidupan masyarakat, semua lapisan tanpa pandang...

Sinau Manajemen Humas bersama Komunikasi UNISA Yogyakarta

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Program Studi Komunikasi UNISA Yogyakarta menggelar Dibkom (Diskusi Bersama Komunikasi UNISA) seri keempat dengan mengangkat tema  Sinau Manajemen...

Ketua PWM Sulsel Resmi Lantik Mudir Darul Arqam Muhammadiyah Gombara

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Prof. DR. KH. Ambo Ase, M.Ag. Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan resmi melantik KH. Ahmad Tawalla...

Memaknai Kebersamaan Idul Adha MI Muhammadiyah Garongan

KULON PROGO, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka memperingati perayaan Idul Adha 1441 H, MI Muhammadiyah Garongan, Panjatan, Kulon Progo melakukan kegiatan silahturahmi...
- Advertisement -

JAKARTA, Suara Muhammadiyah- Saat ini kurang lebih 88 orang yang 29 di antaranya adalah anak-anak, telah menjadi telah menjadi korban dari serangan gas beracun di Khan Sheikhoun, Idlib, Suriah dilansir dari Aljazeera. Menurut Syrian American Medical Society (SAMS) hingga Rabu (5/4), 550 orang terluka karena serangan tersebut.

Meskipun belum diketahui secara pasti, gas beracum tersebut ditengarai diluncurkan oleh pasukan pemerintah Bashar el-Assad pada Selasa (4/4) dan sekutunya. Pengunaan gas beracun atau senjata kimia tersebut merupakan kejahatan perang yang melanggar hukum Internasional. Sebelumnya, rezim Assad juga dianggap sebagai pihak yang bertanggungjawab akan 3 serangan gas klorin.

Tidak lama setelahnya, Kamis (6/4) lalu, Amerika Serikat meluncurkan Rudal Tomahawk ke pangkalan udara pesawat yang membawa senjata kimia tersebut sebagai respons dari serangan gas beracun di Idlib.

Ketua PP Muhammadiyah, Bachtiar Effendi dalam pernyataan resmi nomor 177/PER/I.0/I/2017 yang dikeluarkan oleh PP Muhammadiyah dan ditandatangani oleh Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti pada Jum’at (7/4) kemarin menegaskan bahwa langkah yang diambil oleh AS tersebut telah melanggar kedaulatan Suriah dan juga hukum serta norma Internasional. Sehingga, hanya akan memperparah situasi konflik yang mengguncang Suriah bahkan mempengaruhi stabilitas negara-negara Timur Tengah lainnya.

Melihat kondisi tersebut, berikut pernyataan sikap PP Muhammadiyah:

  1. PP Muhammadiya mengecam serangan gas yang dilakukan oleh pihak yang bertikai sehingga mengakibatkan jatuhnya korban tidak berdosa. PP Muhammadiyah juga mendesak PBB untuk melakukan investigasi atas serangan gas ini dan menghukum pelakunya sesuai Hukum Internasional.
  2. PP Muhammadiyah mengecam tidakan serangan rudal Tomahawk yang diluncurkan AS ke Suriah. Serangan ini merupakan pelanggaran kedaulatan Suriah dan melanggar Hukum Internasional. Selain itu, serangan ini hanya akan memperburuk situasi keamanan di Suriah dan terutama akan membuat rakyat Suriah semakin menderita.
  3. PP Muhammadiyah mendesak kepada negara-negara adikuasa untuk tidak menjadikan Suriah sebagai arean pertempuran (battlefield) konflik kepentingan negara-negara mereka. Hal demikian hanya akan mengorbankan rakyat Suriah dan mendorong radikalisme dan terrorisme.
  4. PP Muhammadiyah menyerukan perdamaian kepada seluruh pihak terkait.
  5. PP Muhammadiyah mendorong transisi damai menuju Suriah yang sejahtera, damai dan bermartabat dnegan mediasi PBB dan bukan oleh institusi level negara (unilateral).

 

 

 

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles