23.2 C
Yogyakarta
Senin, Agustus 10, 2020

Bina Ideologi Penggerak Media Muhammadiyah, Haedar: Harus Paham Muhammadiyah Secara Menyeluruh

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Lazismu Medan Jaring Milenial Berdayakan UMKM

MEDAN, Suara Muhammadiyah - Pembinaan UMKM menjadi demikian ditengah hawa resesi yang semakin panas. UMKM memiliki dayatahan dalam menghadapi guncangan ekonomi. Hal itu...

Uji Kompetensi 14 Skema LSP UMP Bersama BNSP

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Lembaga Sertifikasi Profesi Universitas Muhammadiyah Purwokerto tengah melakukan penambahan ruang lingkup LSP. Hal in ditandai...

Peduli UMKM di Saat Pandemi, KKN 117 UMY Kembangkan Potensi Batik Trisno Idaman

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Tim 117 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melakukan pengabdian masyarakat di Batik Trisno Idaman.  Sebuah...

UMSU Dampingi Peningkatan Kualitas Ponpes Kwala Madu

MEDAN, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara berkomitmen mendamping pengelolaan dan pengembangan pendidikan pesantren modern Kwala Madu, Langkat.

Mencegah Cyber Bullying Dimulai dari Keluarga

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Perkembangan internet yang semakin cepat dan meluas memunculkan berbagai dampak, tidak hanya positif tetapi juga negatif. Salah satu...
- Advertisement -

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah– Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah bekerjasama dengan Majelis Pendidikan Kader (MPK) PP Muhammadiyah menggelar Pembinaan Ideologi penggerak media Muhammadiyah selama 1 hari. Dalam kesempatan tersebut Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan bahwa di tangan para penggerak media Muhammadiyah nasib masa depan informasi.

Dengan dinamika media yang kian dahsyat, selain menghadapi persaingan, media Muhammadiyah harus memperkuat identitas dan basis ideologi yang dimilikinya agar terbawa arus. “Jika tidak bisa hadir secara dinamis Muhammadiyah juga akan kewalahan menghadapi kondisi yang ada di luar,” tutur Haedar di Kantor PP Muhammadiyah Cik Ditiro, Rabu (14/6).

Menurut Haedar kondisi saat ini menunjukkan bahwa seluruh informasi mampu dikemas sedemikian rupa dan menunjukkan bahwa tidak ada media yang betul-betul objektif. Sedangkan di saat yang sama, kondisi dunia saat ini dipenuhi oleh kontestasi tafsir.

“Dunia ini dibangun di atas tafsir bahwa siapa yang punya kekuatan hegemoni maka ia yang akan menguasai. Kalau tidak pandai-pandai orang Muhammadiyah baik yang sudah lama ataupun awam bisa terbawa. Oleh karena itu harus benar-benar paham Muhammadiyah secara keseluruhan,” lanjutnya.

Haedar menambahkan bahwa pembahasan terkait manhaj Muhammadiyah yang dicuatkan pada pengajian Ramadhan lalu merupakan respons menanggapi situasi banyaknya tafsir dan pemikiran yang berkembang di dalam Muhammadiyah. Tidak jarang, arus tersebut membuat warga Muhammadiyah sendiri kehilangan arah.

“Warga Muhammadiyah tak terkecuali, termasuk para penggerak media hendaknya paham betul apa perbedaan antara gerakan Muhammadiyah dengan gerakan-gerakan lainnya yang ada di luar sana. Karena banyak yang salah kaprah mengasosiasikan Muhammadiyah dengan berbagai gerakan Islam lainnya,” tandas Haedar.

Pembinaan Ideologi tersebut dihadiri sekurangnya 50 peserta dari sejumlah media Muhammadiyah yang ada. Di antaranya Suara Muhammadiyah, Website Muhammadiyah, TV Muhammadiyah (TVMu), RadioMu, dan Menara 62. (Th)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles