31 C
Yogyakarta
Kamis, Agustus 6, 2020

Kisah Maba UMM Asal Yaman Tertahan Sepekan di Daerah Konflik

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

SMK Mutu Tegal Unggul, Jadi Pusat Studi Banding

TEGAL, Suara Muhammadiyah - SMK Muhammadiyah  1 (SMK Mutu) Kota Tegal merupakan salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Muhammadiyah unggul di Jawa Tengah....

Haedar Nashir Ajak Warga Bermitra dengan BulogMU

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dalam kunjungannya ke Grha Suara Muhammadiyah, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyempatkan melihat lokasi BulogMU pusat...

FKKS Muhammadiyah Jateng Gelar Rakor, Fokuskan Tiga Pembahasan

SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Forum Komunikasi Kepala sekolah Muhammadiyah Jawa Tengah gelar Rapat koordinasi di Semarang pada Rabu, 5 Agustus 2020. Dihadiri...

Mentari Covid-19, Upaya Ekstra Muhammadiyah Tangani Wabah

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Adanya perkembangan kasus wabah Covid-19 yang terus meningkat di Indonesia, membuat Muhammadiyah tidak bisa tinggal diam. Sebagai organisasi...

ICBAE UMP Dukung Akademisi Sukseskan Program SDGs

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Banyumas, Jawa Tengah, melalui Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) menggelar seminar internasional bertajuk “The...
- Advertisement -

MALANG, Suara Muhammadiyah – Semangat untuk melanjutkan pendidikan mengalahkan segala hambatan. Demi cita-cita,  apapun akan dilakukan.

Semangat ini juga hidup di diri Abdullah, mahasiswa baru (Maba) Program Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) asal Yaman. Berhasil meraih beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) dari Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Republik Indonesia, Abdullah harus berjuang untuk bisa sampai di UMM guna menempuh studi masternya.

“Saya pernah sekali berkunjung ke UMM dan saya berpikir kampus ini adalah pilihan terbaik untuk saya segera menyelesaikan jenjang pendidikan master saya,” paparnya, Sabtu (8/9).

Ia mengisahkan, untuk bisa sampai di UMM, ia membutuhkan waktu tak kurang dari 11 hari perjalanan. Padahal,  jika dalam keadaan normal waktu yang dibutuhkan hanya empat hari.

“Saya ada permasalahan kelengkapan surat izin di daerah perbatasan Oman dan Yaman sehingga harus menunggu,” jelas mahasiswa Program Studi Magister Manajemen UMM tersebut.

Menanti keluarnya surat ijin melewati perbatasan hingga sepekan, tak mematahkan semangat Abdullah. Saat itu ia berpikir bahwa harus tetap pergi ke Indonesia, karena baginya UMM telah menanti dirinya untuk berproses dan mencari pengalaman.

“Selama satu minggu berada di perbatasan dengan suhu 40 derajat, tapi saya tetap semangat untuk berangkat ke UMM,” jelasnya.

Menjadi salah satu dari 7500 Maba UMM adalah kebanggan tersendiri bagi Abdullah. Ia ingin segera mendapatkan pengalaman baru seperti yang telah diperoleh teman-temannya semasa studi di Indonesia,  khususnya UMM.

“Saya sangat senang berteman dengan teman-teman di Indonesia, mereka banyak merubah saya dan saya ingin memperoleh pengalaman baru saat di UMM,” tandasnya.

Tahun 2018 ini,  tidak kurang dari 192 mahasiswa asing kuliah di UMM. Seluruh mahasiswa asing tersebut diterima melalui beberapa program di antaranya Regular Mandiri, Beasiswa Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB), Beasiswa Darmasiswa, UMM Partial Scholarship, Learning Express (LEx), Confusius Institute, dan Internship. Kehadiran mahasiswa asing ini semakin menguatkan visi internasional UMM mejadi a local campus with an International touch. (Humas UMM/Riz)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles