24.4 C
Yogyakarta
Senin, Oktober 26, 2020

Pesan Haedar Nashir dalam Menghadapi Tahun Politik 2019

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Guru SMP Aisyiyah Boarding School Pinrang Ikuti Pelatihan Figur

PINRANG- SMP Aisyiyah Boarding School (ABS) Pinrang mengutus 2 guru mengikuti Pelatihan pembuatan video Pembelajaran yang digelar oleh Figur (Forum Inspirasi Generasi...

UMSU Peduli Kemajuan Masyarakat Melayu

MEDAN, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Sumater Utara (UMSU) peduli akan kemajuan masyarkat melyayu. Di usianya yang genap setahun, Pakat Melayu merasa...

Haedar Nashir: Dokter Pelopor Kemanusiaan dan Kenegarawan

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Menyambut Hari Dokter Indonesia 24 Oktober 2020, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir, MSi berharap...

AMM Jetis Bantul Droping Air Bersih Serentak di Gunungkidul

GUNUNGKIDUL, Suara Muhammadiyah - Angkatan Muda Muhammadiyah Jetis Bantul sukses menyelenggarakan Droping Air Bersih #02 di wilayah Gunungkidul Ahad, 18 Oktober 2020....

Universitas Muhammadiyah Papua untuk Kemajuan Pendidikan Bumi Cendrawasih

JAYAPURA, Suara Muhammadiyah – STIKOM Muhammadiyah Papua bertransformasi menjadi Universitas Muhammadiyah Papua. Berdirinya Universitas Muhammadiyah Papua adalah untuk kemajuan pendidikan Bumi Cendrawasih.
- Advertisement -

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dalam pengajian refleksi akhir tahun 2018 di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta turut memberikan beberapa wejangan dalam menghadapi tahun politik 2019. Menurutnya, ajang demokrasi semisal pemilu, pilpres, pileg, merupakan peristiwa biasa yang terjadi setiap lima tahun sekali. Oleh karena itu, menyikapinya tidak boleh secara berlebihan.

Haedar menyatakan bahwa politik itu adalah urusan muamalah duniawiyah. Prinsipnya ibahah atau boleh, tidak diatur secara rigid di dalam nash. Politik dibutuhkan dalam mengatur urusan dan mendistribusikan keadilan.

Politik merupakan wilayah domain partai politik. “Muhammadiyah itu ormas. Bukan partai. Tugasnya berbeda dengan parpol,” ungkapnya. Antara partai dan ormas memiliki peran serta tugas yang berbeda.

Dalam kontestasi politik, selalu ada pihak yang menang dan kalah. “Yang menang, jalankah amanah dengan baik dan hormati yang kalah. Yang kalah, hormati yang menang dan terus belajar,” ujarnya.

Menurut Haedar, Muslim dalam berpolitik harus menunjukkan akhlak mulia, yang berbeda dengan cara orang sekuler berpolitik. “Kita sebagai muslim menggunakan nilai-nilai mulia yang diajarkan agama. Kampanye dengan hikmah dan mauizah hasanah. Rebut hati orang, bukan dengan mencaci maki,” katanya.

Haedar juga mengingatkan bahwa perjuangan amal shaleh tidak hanya bisa dilakukan melalui bidang politik. Masih ada banyak bidang yang lain yang sama mulianya dan perlu diberi perhatian.

Dalam menghadapi tahun politik, kata Haedar, juga dibutuhkan bekal ilmu. Dalam menghadapi apa pun, harus dengan ilmu. Islam sejak awal menggaungkan spirit ilmu. Wahyu pertama justru berisi perintah membaca.

Sisi lain, umat Islam perlu untuk tidak terlena dengan tahun politik. Umat Islam harus berpacu membangun pusat-pusat keunggulan. Dengan itulah, Islam bisa kembali menjadi umat yang berkualitas dan diperhitungkan.

Umat Islam sebagaimana yang disebut dalam al-Quran, juga harus menjadi khairu ummah. Menjadi syuhada ala al-nas. Pelaku kebaikan. Menjadi contoh teladan bagi umat lainnya.

Di tahun politik, kata Haedar, hal yang juga perlu menjadi perhatian bersama adalah soal ukhuwah dan kebersamaan. Tiada bangsa besar tanpa persatuan. (ribas)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles

- Advertisement -