Hargai Kepakaran, Pakar jangan Arogan

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

UMS Kembali Menjadi Kampus Swasta Terbaik di Indonesia

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menjadi perguruan tinggi swasta terbaik di Indonesia. Berdasarkan lembaga perangkingan perguruan tinggi internasional,...

UMY Kampus Swasta Terbaik DIY

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali berhasil menempati peringkat pertama sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Terbaik se-Daerah Istimewa Yogyakarta.

Keputusan Menteri Agama Tidak Memberangkatkan Jamaah Haji Indonesia Tahun 2020

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Tahun 2020 ini tidak akan ada pemberangkatan jamaah haji dari Indonesia. Hal ini telah diputuskan oleh pemerintah melalui...

Siswi SMK Ahmad Dahlan Pinrang Juara Kultum Provinsi Sulsel

PINRANG, Suara Muhammadiyah - SMK Ahmad Dahlan (AD) Muhammadiyah Pinrang sukses mengakat nama baik Pinrang di tingkat provinsi. Dalam...

Gelar Silaturrahmi Idul Fitri, Pimpinan UHAMKA Optimis Hadapi Covid-19

JAKARTA, Suara Muhammadiyah-Civitas akademika Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka melaksanakan silaturrahmi Idul Fitri 1441 H. Dalam acara yang dilaksanakan secara daring ini,...
- Advertisement -

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Ketua Umum PP Muhammadiyah 1998-2005 Prof Ahmad Syafii Maarif mengajak warga bangsa untuk menyadari realitas yang berubah. Saat ini, dunia dijangkiti suatu era pasca kebenaran secara massif.

Asalkan sesuai dengan kecenderungan pribadi dan dekat secara emosi, akan dianggap sebagai kebenaran, tanpa dikonfirmasi lagi. “Pasca kebenaran, orang tidak lagi berpegang pada kebenaran, fiksi lebih dipercaya,” tuturnya di Grha Suara Muhammadiyah.

Buya Syafii merekomendasikan buku The Death of Expertise karya Tom Nichols yang mengulas tentang matinya kepakaran di era ini. “Kepakaran atau otoritas itu perlu dihargai. Tapi para pakar jangan sombong dan arogan, apalagi bersekongkol dengan penguasa,” ungkapnya. Ketika para pakar arogan, maka publik menjadi tidak percaya.

Dalam Qur’an, dikatakan, “Bertanyalah pada ahlinya jika kamu tidak tahu.” QS. An-Nahl [16] ayat 43 ini menjadi legitimasi bahwa Islam menghargai otoritas dan kepakaran. Orang yang ahli di bidang tertentu harus didengarkan. “Kita harus critical. Jika tidak punya ilmu, jangan ikut-ikutan. Jangan taklid,” ulasnya. Apalagi menelan mentah-mentah informasi di media sosial.

Kadang ketika berkaitan dengan syahwat kekuasaan, orang menjadi tidak waras, dan menghalalkan segala cara untuk membela kepentingannya. Bahkan memaksa Tuhan berpihak padanya. “Otoritas kebenaran menjadi kacau. Saya khawatir lama-lama orang sudah tidak lagi percaya dokter, lebih percaya google, percaya dukun,” katanya.

Dalam kondisi seperti ini, kebenaran menjadi seolah kabur. Terlebih ketika kebohongan yang diulang-ulang, kelak dipercaya sebagai kebenaran. “Dalam agama, ada ayat bahwa kalau kebenaran sudah datang, maka yang batil itu menjadi lenyap,” ujarnya. (ribas)

Ulasan selengkapnya tentang: era pasca kebenaran, infobesitas, dan matinya kepakaran, bisa disimak di Majalah Suara Muhammadiyah edisi nomor 2 tahun 2019

Baca juga:

Dakwah Digital: Narasi Alternatif Muhammadiyah

Narasi Alternatif di Dunia Virtual

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles

- Advertisement -