23.5 C
Yogyakarta
Jumat, Agustus 14, 2020

Filantropi Wujud Gerakan Reflektif

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Pengabdian, Dosen Manajemen UMY dan Warga Bausasran Adakan Penghijauan

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Sempitnya lahan tidak menyurutkan keinginan warga RW 11 Bausasran Kecamatan Danurejan Kota Yogyakarta untuk menghijaukan wilayahnya.

Asah Kreativitas, PMM UMM Ajari Anak-Anak Seni Kolase

BLITAR, Suara Muhammadiyah - Kelompok Pengabdian Mahasiswa untuk Masyarakat (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang melakukan pengabidan masyarakat dengan mengajari anak-anak membuat kolase. Kegiatan...

Dosen FEB UMY Latih Jamaah Pengajian Membuat Kain Shibori

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pengabdian masyarakat merupakan salah satu bentuk kewajiban dalam Catur Dharma Perguruan Tinggi. Disamping itu pengabdian masyarakat di era...

Semua Siswa Dapat, SMK Mutu Tegal Bagikan Perdana Plus Kuota untuk PJJ

TEGAL, Suara Muhammadiyah - Bentuk pelayanan selama diberlakukannya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dalam masa covid 19. SMK MUTU Tegal berikan kartu perdana...

Islam, Alam, dan Tugas Manusia

Alam akan membawa manfaat dan berkah bagi manusia, manakala telah melaksanakan tugasnya terhadap alam, yakni mengembalikan alam ke jalan yang benar. Yakni...
- Advertisement -

Oleh: Baharuddin Rohim

“Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”. (H.R. Bukhari)

Istilah Filantropi berasal dari bahasa latin, philanthropia, atau bahasa Yunani, Philo dan Anthropos, yang berarti “cinta manusia’. Filantropi Adalah kepedulian seseorang atau sekelmpok orang kepada orang lain berdasarkan kecintaan pada sesame manusia. (Melayani ummat, Hilman Latief). Adapun menurut sifatnya dikenal dua bentuk Filantropi, yaitu Filantropi Tradisional dan Filantropi Modern. Filantropi Tradisional adalah filantropi berbasis Karitas (Charity) atau belas kasihan yang pada umumnya di masyarakat dikenal dengan bentuk pemberian para dermawan kepada kaum miskin untuk membantu kebutuhan makanan, pakaian, tempat tinggal, dan lainnya. Dengan demikian orientasi Filantropi Tradisional lebih bersifat individual dalam konteks luas (makro) Filantropi Tradisional hanya mampu mengobati penyakit kemiskinan, akibat ketidakadilan struktur. Adapun Filantropi Modern yang lazim disebut Filantropi pembangunan social dan keadilan social dengan kata lain menjembatani antara si kaya dan si miskin dengan orientasi pada perubahan institusional dan sistematik.

Sejarah Filantropi di Indonesia, berawal dari unsur Filantropi Traditional yang bersumber dari agama baik Kristen maupun Islam. Filantropi kegamaan di Indonesia terkait dengan kegiatan misionaris dan dakwah. Kegiatan penyebaran agama dilakukan dengan penyediaan pelayanan social terutama pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan social (panti-panti sosial). Secara normatif filantropi dalam Islam sudah sangat jelas di bahasakan didalam Al-Qur’an dan Al Hadits. Yang setidaknya kita mengenal minimal ada dua tradisi kedermawanan (filantropi) yakni kedermawanan bersifat wajib berbentuk zakat, dan kedeemawanan bersifat tidak wajib (sunnah) seperti melaksnakan infaq, sedekah, dan wakaf.

Terdapat tiga konsep utama mengenai Filantropi Islam di antaranya pertama, kewajiban Agama, moralitas agama, keadilan sosial. Konsep pertama tersebut menjadi panduan umum, konsep kedua berkaitan dengan moralitas sosial, dan konsep terakhir menyentuh inti tujuan dari Filantropi dan Agama itu sendiri, yaitu keadilan sosial. Banyaknya aya-ayat dalam Al-Qur’an tentang masing masing konsep tersebut memiliki korelasi yang signifikan dengan makna dan ide yang terkandung didalamnya. Yang paling dasar adalah kewajiban agama, dimana jumlah ayatnya paling banyak. Diatasnya ada ayat-ayat tentang moralitas agama, dan yang paling sedikit adalah ayat-ayat tentang keadilan sosial.

Muhammadiyah dan gerakan Filantropinya sejak berdiri hingga memasuki abad ke 2 tidak meninggalkan spirit kemanfaatan jariyah hal ini terbukti di awal berdirinya Muhammadiyah, founding fathers K.H. Ahmad Dahlan dengan gagasan sosial melihat realitas kauman berujung kepekaaan sosial (keshalihan sosial) hingga terbentuklah Muhammadiyah salah satunya salah satu lembaga yang memiliki peran penting dalm membentuk citra Muhammadiyah sebagai gerakan sosial adalah PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem). PKO hanyalah sebuah unit kegiatan kesehatan poliklinik untuk masyarakat. Unit ini didirikan untuk memberikan pelayanan kesehatan dan kesejahteraan kepada kaum dhuafa disekitar kota Yogyakarta. Dan berbagai upaya Filantropi lainnya baik berupa panti asuhan dan sebagainya. Abad ke-2 Muhammadiyah dengan lantang menyuarakan bakti untuk negeri “Ta’awun Untuk Negeri” sebagai upaya praksis Filantropi sebagai Gerakan Reflektif melalui MDMC, LAZISMU, MPM. Menjadi peranan penting mengarungi abad ke-2 Muhammadiyah.

Filantropi sebagai wujud Gerakan Reflektif, tentunya upaya – upaya Filantropi yang terus berorientasi pada pemberdayaan masyarakat dengan tujuan terciptanya keberfungsian social tidak hanya sebatas ritual mengatas namakan Filantropi yang sejatinya hanya sebuah eksistensi gerakan social tanpa ada upaya pendampingan dan pemberdayaan. Akhirnya upaya Filantropi akan mampu menjadi Gerakan Reflektif ketika Filantropi berorientasi kepada keberfungsian sosial masyarakat yang berkeadaban tentunya melalui perubahan institusional yang sistematik.

Baharuddin Rohim, Pendiri Panti Asuhan Ashabul Kahfi Sleman DIY, Sekretaris Forum Pengelola Panti Asuhan Muhammadiyah Aisyiyah se DIY 

Baca juga

Landasan Kehidupan Sosial

Hari Raya di Tengah Kesunyian

Al Maun Festival Wadahi Potensi Pelajar Panti

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles