25 C
Yogyakarta
Kamis, September 24, 2020

Tanggapan Din Syamsuddin Terkait Penghapusan Istilah Kafir

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Baitul Arqam UMTS Digelar Daring, Perpanjang Penerimaan Mahasiswa

PADANGSIDEMPUAN,  Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS) menggelar kegiatan Baitul Arqam.  Kegiatan pengkaderan yang diikuti 637 mahasiswa itu berlangsung 22-24...

Unismuh Persiapkan Pendirian Program S3 Ilmu Pendidikan

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Satu lagi langkah inovasi yang dilakukan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar dalam upaya mencapai kampus terkemuka dan unggul. Penghujung...

Tiga Ilmu Menjadi Pribadi Terbaik Menurut Rektor UMP

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Masa orientasi studi dan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Banyumas Jawa Tengah dikemas...

Haedar Nashir: Bermuhammadiyah, Ikuti Koridor Organisasi

Muhammadiyah itu organisasi besar yang berdiri tegak di atas sistem, dengan amal usaha dan jaringan yang luas. Kekuatan Muhammadiyah berada dalam sistem,...

MIM Kenteng Gunakan Media Pembelajaran Berbasis Dakwah Budaya

KULON PROGO, Suara Muhammadiyah – Menciptakan madrasah berbudaya sesuai dengan visi MI Muhammadiyah Kenteng. Dimuai dari para pendidiknya sebagai dasar penguatan madrasah...
- Advertisement -

SLEMAN, Suara Muhammadiyah – Ketua Dewan Pertimbangan MUI menanggapi terkait tidak digunakannya lagi istilah kafir bagi non Muslim. Menurutnya, penggunaan kata Kafir ini harus sesuai konteks dan didasari dengan sikap toleransi, bukan sebagai hinaan yang dapat menyakiti hati orang lain namun juga jangan dihapus begitu saja.

“Istilah Kafir itu berkali-kali di sebutkan dalam Kitab suci namun juga harus di pahami dengan konteks dan juga Tasamuh (toleransi). Karena itu kitab suci, kita tidak mungkin meng-amandemen, janganlah istilah itu dipakai secara peyoratif (memperburuk) dan apalagi untuk menghina orang lain apalagi oarang lain tidak berkenan,” ungkapnya saat diwawancarai usai acara Pengajian Akbar PKU Muhammadiyah Gamping, Sabtu(2/3).

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu juga menambahkan, bahwa setiap agama memiliki istilah dan konsep masing-masing dalam perbedaan keimanan, seperti istilah mukmin sebagai orang yang beriman  dan kafir bagi yang tidak beriman dalam Al Qur’an, begitu juga dengan agama lain.

“Sebenarnya semua agama punya konsep teologis tentang The others and the otsiders, seperti Islam dan orang di luar islam, Kristen orang di luar Kristen dan agama lainya,” paparnya.

Din berpesan, Karena hal ini bersifat fatwa maka ini tidak harus di ikuti dan dalam penggunaan istilah itu harus dengan kearifan, mengingat masyarakat indonesia adalah masyarakat yang majemuk, dimana hal ini sangat sensitif jika disalah gunakan.

“Maka pesan saya, jangan mengubah keberadaan istilah-istilah itu dalam kitab suci, tapi harus ada kearifan dalam menggunakannya termasuk dalam konteks di Indonesia, janganlah menggunakan istilah itu dalam penghinaan,” ucapnya.

Din mengingtakan, karena saat ini adalah tahun politik di takutkan hai ini digunakan untuk ujaran kebencian antar kelompok yang berbeda pandangan politik. Din juga mengajak, baiknya  perdebatan dalam politik di isi dengan argumen yang subtantif.

“Dalam politik identitas ujaran seperti itu tak terelakkan, bahkan di Indonesia dalam rangka pilpres yang akan datang sudah ada ujaran kebencian yang menisbatkan manusia lain dengan binatang, itu mendegradasi harkat dan martabat manusia,” pungkas Din. (afn)

- Advertisement -

1 KOMENTAR

  1. Saya memahami TIDAK ADA yang mengubah apapun tentang kata KAFIR.
    Hanya pemaknaannya saja perlu arif dan bijak.
    Di sini NU selangkah sebil antisipatif.

    Kalau tidak, bisa jadi kesalahan pemahaman kata JIHAD akan terulang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles