31 C
Yogyakarta
Selasa, Agustus 4, 2020

Tantangan Perkaderan Muhammadiyah di Era Milenial

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Haedar Nashir: Revitalisasi Pancasila Jangan Sampai Mengulang Tragedi Masa Lalu

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Ada dua peristiwa yang membuat kita kembali mempertanyakan Pancasila: (1) pro-kontra Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila,...

MDMC Luwu Kembali Salurkan Bantuan, Tim Relawan Banjir Bandang Tetap Siaga

LUWU UTARA, Suara Muhammadiyah - Muhammadiyah Disaster Manajemen Center) atau Satgas Bencana Muhammadiyah Kabupaten Luwu tiba di Masamba, Kabupaten Luwu Utara di...

Silaturahim dengan PDM, Menko PMK Tinjau Lokasi Banjir Luwu Utara

LUWU UTARA, Suara Muhammadiyah - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia Dan Kebudayaan Prof Dr Muhajir Effendi, MAP tiba di Luwu Raya melalui...

Sayembara Business Plan Sociopreneur Cabang & Ranting Muhammadiyah 2020

Suara Muhammadiyah – Sayembara dengan total hadiah puluhan juta rupiah sudah mulai dibuka oleh Lembaga Pengembangan Cabang Ranting (LPCR) PP Muhammadiyah. Agenda...

Program Kemaslahatan, Lazismu Gorontalo berbagi Daging Qurban di 4 Wilayah

GORONTALO, Suara Muhammadiyah - Tema besar qurban tahun ini adalah qurban untuk ketahanan pangan, yang bertujuan untuk diberikan kepada fakir miskin dan...
- Advertisement -

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Survei nasional yang dilakukan oleh Saiful Mujani Research Center (SMRC) Januari 2019 mengungkapkan bahwa responden yang mengaku berafiliasi kepada Muhammadiyah hanya 3,7%, 44% berafiliasi dengan NU dan 50,4% tidak berafiliasi dengan ormas Islam manapun. Sedang sisanya 0,8% tidak menjawab. Hal ini diungkapkan Paryanto Anggota Majelis Pendidikan Kader PP Muhammadiyah pada sesi Kajian Ideologi Perkaderan Pengajian Ramadhan 1440 H di UMY Yogyakarta, Jum’at (10/05).

Survei itu memang dilakukan dalam waktu singkat, yaitu mulai tanggal 24 sampai 31 Januari 2019. Namun kata Paryanto, hal ini bisa dijadikan tolak ukur terhadap proses kaderisasi yang dilakukan oleh persyarikatan Muhammadiyah.

Menurutnya, bagaimana angka survei bisa muncul demikian sedang Muhammadiyah memiliki ribuan amal usaha. Lihat, sebutnya, Muhammadiyah memiliki 4.623 TK/TPQ, 2.604 SD/MI, 1.772 SMP/Mts, 1.143 SMA/SMK/MA, 67 pondok pesantren, 172 perguruan tinggi, 457 rumah sakit, 318 panti asuhan, 54 panti jompo, 82 rehabilitasi cacat, 72 SLB, 6.118 masjid, 5000 mushalla, dan 20.945.504 m2 tanah.

“Pertanyaan mendasarnya adalah mengapa besarnya capaian Muhammadiyah ini belum berbanding lurus dengan kuatnya pengaruh Muhammadiyah, khususnya meyakinkan orang untuk berafiliasi dengan Muhammadiyah,” tanyanya.

Tantangan lain, Paryanto melanjutkan, adalah menjamurnya paham keagamaan alternatif yang ditandai dengan lahirnya gerakan 411 hingga reuni 212 dalam wadah GNPF-MUI. Menurutnya, gerakan ini tak pelak telah menjadi saluran nyata aspirasi umat yang sebelumnya tersumbat. “Maka saya katakan, hadirnya GNPF-MUI adalah bentuk nyata kritik atas corak keagamaan yang sudah lama berkembang seperti Muhammadiyah,” terang Paryanto.

Fenomena meningkatnya jumlah penduduk muslim dunia, sambungnya, juga akan menjadi masalah yang serius bagi keberlangsungan organisasi Muhammadiyah. Di satu sisi bangga karena jumlah terus bertambah, di sisi lain khawatir karena pertumbuhan itu tak sebanding dengan peningkatan kualitas individu.

“Berbagai tantangan ini menguatkan akan pentingnya reaksentuasi empat pilar perkaderan Muhammadiyah,” tegas Paryanto.

Empat pilar perkaderan meliputi, Keluarga, AMM dan Ortom, AUM, dan Pimpinan.

Setidaknya, Paryanto melanjutkan,  ada tiga hal untuk mewujudkan proses reaksentuasi perkaderan berbasis paradigma berkemajuan. Pertama, reaksentuasi filosofi dan paradigma perkaderan, sebagai dasar penguatan dan penanaman ideologi Persyarikatan.

Kedua, implementasi dan pentradisian perkaderan. Baginya, perkaderan tidak cukup sekedar jalan atau dijalankan, tapi juga perlu dibudayakan. “Untuk membudayakan ini, tentu dibutuhkan  simultan dan sinergi antar keempat pilar,” jelas Paryanto.

Ketiga, pengayaan instrumen perkaderan. Sebab zaman terus berubah, dan sekarang sudah memasuki era milenial, karenanya instrumen perkaderan harus di-update. (gsh/riski)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles