30 C
Yogyakarta
Jumat, September 25, 2020

‘Aisyiyah Perdalam Risalah Pencerahan untuk Kuatkan Dakwah Melintas Batas

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Para Tokoh Meminta Pilkada Ditunda

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) merupakan agenda yang sangat penting dalam percaturan kepemimpinan di tingkat daerah maupun nasional. Selain...

Duta SMK Mutu Tegal Terima Beasiswa

TEGAL, Suara Muhammadiyah - SMK Muhammadiyah 1 (Mutu) Kota Tegal memberikan beasiswa berupa penggratisan Sumbangan Pengembangan Pendidikan (SPP) kepada 15 siswa yang...

Halaqah Alim Ulama: Menghadirkan Wasathiyah Islam untuk Perdamaian

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ibroh merupakan pelajaran pokok dalam Islam yang dapat diambil dengan cara menggali subtansi inti yang terdapat pada sebuah...

Ikuti Muhamadiyah, NU Juga Putuskan Tunda Muktamar

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan pelaksanaan Muktamar ke-34 NU akan ditunda hingga akhir tahun 2021. Penundaan forum...

Baitul Arqam UMTS Digelar Daring, Perpanjang Penerimaan Mahasiswa

PADANGSIDEMPUAN,  Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS) menggelar kegiatan Baitul Arqam.  Kegiatan pengkaderan yang diikuti 637 mahasiswa itu berlangsung 22-24...
- Advertisement -

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-“Kehadiran ‘Aisyiyah adalah bagian dari denyut kehidupan perempuan Indonesia yang harus maju dan dimajukan.” Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Asiyiyah (PPA), Siti Noordjannah Djohantini saat memberikan keynote speech di Pengajian Ramadan 1440H ‘Aisyiyah (18/5). Noordjannah menyampaikan bahwa kehadiran para peserta pengajian di sini adalah bagian dari upaya untuk memajukan ‘Aisyiyah. “Karena ‘Aisyiyah hadir bukan untuk kepentingan siapa-siapa akan tetapi untuk kepentingan mendakwahkan Islam di bumi Indonesia dan juga internasional serta untuk berdakwah di berbagai aspek kehidupan,” papar Noordjannah.

Pelaksanaan pengajian Ramadan menjadi tradisi dari Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, bahkan bisa dikatakan sebagai pionir karena sudah dilakukan sejak tiga puluh tujuh tahun yang lalu dan secara konsisten tidak hanya mengangkat tema keagamaan tetapi juga implementasi secara nyata terkait isu-isu di masyarakat. Pengajian Ramadan menurut Noordjannah adalah bagian dari tradisi Muhammadiyah ‘Aisyiyah yakni tradisi Iqra yang terus digerakan oleh Muhammadiyah ‘Aisyiyah. “Di dalam pengajian Ramadan ini, Iqra adalah bagaimana kita menggali dan mendalami pandangan islam yang akan menjadi landasan dalam gerakan kita, termasuk bagaimana paham keagamaan, paham organisasi atau ideologi Muhammadiyah agar kita bisa menggerakan organisasi ini menjadi barisan yang sangat kuat karena berdasar nilai-nilai Islam yang kita yakini yang itu sudah digali oleh pendiri kita yakni KH. Ahmad Dahlan sejak 105 tahun yang lalu.”

Noordjannah menambahkan bahwa ‘Aisyiyah juga mengembangkan pengajian Ramadan untuk melanjutkan pikiran-pikiran yang ada dari persyarikatan untuk kemudian diperdalam melalui berbagai isu yang sangat dekat dengan dakwah ‘Aisyiyah. Tema yang akan diangkat dalam pengajian kali ini disampaikan oleh Noordjannah adalah mengenai risalah pencerahan yang merupakan hasil keputusan Tanwir Muhammadiyah tahun 2019 di Bengkulu. “Di sini kita bersama-sama akan menindaklanjuti dengan menguatkan, menambahkan fokus arah dalam konteks dakwah melintas batas yang ingin terus kita kuatkan,” tegas Noordjannah.

Lebih lanjut Noordjannah menekankan bahwa semangat Iqra tidak akan berhenti di pengajian Ramadan ini tetapi ia meminta seluruh elemen ‘Aisyiyah untuk menguatkan dakwah dan menaruh perhatian pada seluruh hal dalam kehidupan ini yang tidak memuliakan kehidupan rakyat. Ia berharap gerak dakwah yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah akan bisa menjadikan Islam sebagai agama yang mencerahkan. (Suri)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles