24 C
Yogyakarta
Rabu, September 23, 2020

‘Siapa tidak Mengenal Muhammadiyah?’

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Unismuh Persiapkan Pendirian Program S3 Ilmu Pendidikan

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Satu lagi langkah inovasi yang dilakukan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar dalam upaya mencapai kampus terkemuka dan unggul. Penghujung...

Tiga Ilmu Menjadi Pribadi Terbaik Menurut Rektor UMP

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Masa orientasi studi dan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Banyumas Jawa Tengah dikemas...

Haedar Nashir: Bermuhammadiyah, Ikuti Koridor Organisasi

Muhammadiyah itu organisasi besar yang berdiri tegak di atas sistem, dengan amal usaha dan jaringan yang luas. Kekuatan Muhammadiyah berada dalam sistem,...

MIM Kenteng Gunakan Media Pembelajaran Berbasis Dakwah Budaya

KULON PROGO, Suara Muhammadiyah – Menciptakan madrasah berbudaya sesuai dengan visi MI Muhammadiyah Kenteng. Dimuai dari para pendidiknya sebagai dasar penguatan madrasah...

Haji Muharram: Tokoh Muhammadiyah – Bupati Berau Meninggal Dunia

BERAU, Suara Muhammadiyah -  Innalillahi wa innailaihi rajiun, kabar duka dari keluarga besar Muhammadiyah Berau, Kalimantan Timur, Bupati Berau yang juga tokoh...
- Advertisement -

Judul               : Kuliah Kemuhammadiyahan

Penulis             : Haedar Nashir

Penerbit           : Suara Muhammadiyah

Cetakan           : 1, Juli 2018

Tebal & ukuran: xiv + 266 hlm & 15 x 23 cm

 

Pertanyaan dengan gaya majas retoris itu diungkap Presiden Soeharto yang pernah mengenyam pendidikan di SMP Muhammadiyah. Semua mengenal Muhammadiyah, jika yang dimaksud adalah amal usahanya yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Bergerak melalui lembaga pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, ekonomi, pemberdayaan masyarakat, dan gerakan dakwah berkemajuan lainnya yang mengakar.

Dalam perkembangan terkini, Persyarikatan Muhammadiyah yang bermula dari kampung Kauman Yogyakarta telah meluas ke seluruh dunia. Memiliki 22 pimpinan cabang istimewa, beberapa sister organization, Markaz Dakwah dan TK ABA di Kairo Mesir, serta rencana pendirian boarding school di Melbourne Australia dan Universitas Muhammadiyah di Malaysia.

Hal yang membuat Muhammadiyah sanggup bertahan hingga lebih seabad adalah karena unsur ideologi yang dimilikinya. Manhaj Muhammadiyah menjadi jiwa yang menjaga kelangsungan organisasi tetap di jalur yang tepat. Kehadiran Muhammadiyah dicitakan menjadi gerakan wasathiyah dalam berbagai aspek kehidupan. Moderat dalam beragama, berbangsa dan bernegara.

Buku Kuliah Kemuhammadiyah ini berusaha mengupas tentang rangkaian sejarah hingga identitas Muhammadiyah sebagai gerakan Islam. Gerakan dakwah amar makruf nahi mungkar. Dengan perspektif yang luas, buku ini mencoba memberi pemahaman tentang Muhammadiyah yang tidak hanya sebagai gerakan purifikasi, sebagaimana identifikasi yang lumrah dilekatkan. Melampaui itu, Muhammadiyah juga sebagai gerakan pembaharuan. Cita-cita gerakan tajdid Muhammadiyah tidak sekadar purifikasi, tetapi juga dinamisasi dan modernisasi seluruh bidang kehidupan, selain dalam urusan ibadah mahdhah dan akidah (hlm 135).

Muhammadiyah menjadikan Islam sebagai asas gerakan. Islam sebagai landasan nilai dan pedoman dalam bidang akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah dunyawiyah guna mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Muhammadiyah berjuang untuk mewujudkan masyarakat Islam yang berkemajuan. Dalam radius yang lebih luas, menjadi masyarakat bangsa yang disebut dalam al-Qur’an sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Masyarakat ideal yang berkepribadian utama di bawah naungan nilai-nilai ilahi (hlm 3).

Kelahiran Muhammadiyah, selain didorong oleh faktor ketercerahan Kiai Ahmad Dahlan yang mendorong spirit, gagasan, dan tindakan, pada saat yang sama juga tidak lepas dari kenyataan sosial masyarakat Islam Nusantara yang statis dan tertinggal ketika itu. Kiai Dahlan dengan tanpa prakondisi sebelumnya mampu melihat permasalahan umat Islam yang terpojok di limbo sejarah, tercekat di ketiak konservatisme, serta saling bercerai-berai akibat fanatik buta. Sementara itu, kegiatan zending sedang gencar dilakukan (hlm 25).

Buku ini memiliki rangkaian bahasan yang komprehensif. Urgensi kelahiran Muhammadiyah bisa ditemukan di bagian awal buku ini, yang disajikan dari beragam perspektif sosio-historis. Pada bagian selanjutnya akan diberikan pemahaman tentang peran Muhammadiyah awal serta mata rantai keberlanjutan gerakan pencerahan hingga hari ini. Buku ini bisa menjadi referensi utama untuk mengenal Muhammadiyah. (Muhammad Ridha Basri)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles