Pedoman Islam dalam Halal dan Haram

Halal Haram
Halal Haram Dok vectorstock

Oleh: Muhamad Rofiq Muzakkir

Berbicara mengenai halal dan haram, Islam sesungguhnya telah membuat rumusan yang bersifat baku. Rasulullah saw bersabda:

1

“Dari Abu ‘Abdillah an-Nu’man bin Basyir ra. An-Nu’man berkata: Aku mendengar Rasulullah Muhammad sawbersabda: Sesungguhnya, yang halal itu jelas. Dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada hal-hal yang syubhat yang orang tidak banyak mengetahuinya. Barang siapa yang menjaga diri dari yang syubhat, maka ia telah membebaskan diri dari yang haram untuk agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjatuh dalam syubhat, berarti ia telah terjerumus dalam perkara yang haram, seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya di dekat daerah terlarang.

Sehingga hewan-hewan itu nyaris merumput di dalamnya. Ketahuilah, bahwa setiap raja memilliki daerah terlarang. Ketahuilah, bahwa daerah terlarang Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah, bahwa dalam tubuh terdapat mudghah (segumpal daging), jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati,” (HR Bukhari dan Muslim).

Takhrij:

Hadits di atas diriwayatkan oleh banyak mukharrij Hadits. Di antaranya, Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari (no. 2051), Muslim dalam Shahih Muslim (no. 1599), Ahmad dalam Musnad (no. 18368), al-Tirmidzi dalam Sunan al-Tirmidzi (no. 1205), Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud (no. 3329), Ibnu Majah dalam Sunan Ibni Majah (no. 3984), al-Darimi (no. 2573) dalam Sunan al-Darimi dan beberapa mukharrij lainnya. Hadits tersebut adalah Hadits ke-6 dalam kitab Hadits al-Arba’in al-Nawawiyah karya Imam Nawawi (w. 676 H) yang memuat 42 Hadits pokok dalam agama Islam. Menurut Abu Dawud Hadits ini adalah salah satu dari empat Hadits yang menjelaskan intisari agama Islam.

Kandungan Hadits

Hadits di atas menjelaskan me ngenai pembagian perkara dalam agama Islam ke dalam tiga kategori. Pertama, perkara yang jelas kehalalannya dan dapat dikenali dengan mudah oleh siapa saja dari umat Islam. Dalam hal makanan, contohnya adalah kehalalan binatang ternak atau buah-buahan. Dalam hal muamalah, contohnya adalah kehalalan jual beli. Dalam Al-Qur’an disebutkan sebuah prinsip universal, bahwa Allah menghalalkan segala sesuatu yang baik bagi manusia (Q.s. 5: 4)

Baca Juga:   Jadilah Pemimpin yang Dicintai Rakyat (2)

Kedua, kebalikan dari yang pertama. Yaitu, segala sesuatu yang jelas keharamannya dan dapat pula dengan mudah diketahui oleh umat Islam. Kaidah mengenai yang haram dalam Islam sesungguhnya sederhana. Yaitu, segala sesuatu yang kotor, berbahaya atau dapat merusak dan membawa dampak buruk bagi kesehatan adalah haram (Q.s. 7:157). Contoh dari perkara yang jelas haramnya adalah perbuatan zina, meminum khamer, makan bangkai atau daging babi.

Ketiga, sesuatu yang berada di tengah-tengah antara halal dan haram. Yaitu, perkara syubhat yang oleh Nabi disebutkan hanya dengan mudah dapat dikenali oleh sedikit saja dari umat Islam. Secara bahasa, syubhat menurut kamus bahasa Arab (mu’jam ma’aniy) adalah sesuatu yang bercampur (iltibas), membi ngungkan (ghumud) dan meragukan (syakk).

Secara istilah, syubhat artinya adalah satu perkara yang di dalamnya bercampur antara yang hak dan batil atau antara yang benar dan salah di mana sisi kebatilan atau kesalahannya lebih dominan. Menurut Ibnul Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H) dalam kitabnya Miftah Dar Sa’adah makna syubhat adalah sesuatu yang pada dasarnya adalah keburukan. Tetapi kemudian dibung­kus dengan kebenaran sehingga ia tampak menjadi sesuatu yang hak. Selain dua pengertian di atas, ada pula ulama yang mengajukan dua pengertian lainnya. Yaitu, perbuatan yang hukumnya makruh, atau perbuatan yang hukumnya mubah. Namun, meninggalkannya dianggap lebih baik dari pada melakukannya karena keberadaan faktor-faktor tertentu.

Setelah melihat ragam pengertian di atas, kita dapat mengambil benang merah mengenai pengertian syubhat. Yaitu, segala sesuatu yang di dalamnya bercampur antara yang baik dan buruk, benar dan salah, dan antara manfaat dan mudharat. Karena bercampurnya dua hal yang kontradiktif itulah, maka syubhat tidak mudah dikenali oleh umat Islam. Syubhat bisa menipu dan menjadi semacam fatamorgana karena di dalamnya dianggap ada hal positif yang tampak menggiurkan.

Baca Juga:   Alumni SMP Muhammadiyah 18 Matraman Ingin Hidupkan Kembali Sekolah

Oleh karena itu, Nabi Muhammad saw di sini mengingatkan, bahwa sesuatu yang syubhat, seharusnya tetap dihindari dan tidak dilakukan. Nabi menyatakan, bahwa menjauhi perkara syubhat sama artinya dengan menjaga agama dan kehormatan dirinya sendiri. Sebaliknya, tetap melakukan yang syubhat sama artinya dengan membiarkan diri terjerumus kepada perbuatan yang diharamkan dalam agama.

Para ulama ketika menjelaskan Hadits ini menyebutkan, bahwa orang yang menghindari perkara yang syubhat dalam kehidupannya adalah orang yang wara’. Yaitu, orang yang selalu memiliki sikap kehatian-hatian dalam bertindak untuk tidak terjerumus kepada perbuatan yang dilarang agama. Sedangkan, memiliki sifat wara’ itu sendiri adalah salah satu ciri utama orang yang bertakwa.

Contoh Perkara Syubhat

Dalam khazanah fiqih klasik, Ibnu Daqiq al-Id (w. 702) dalam Syarh al-Arba’in al-Nawawiyyah ketika menjelaskan Hadits ini menyebutkan, satu contoh mengenai perbuatan menghindari perkara yang syubhat. Dalam kasus seseorang yang merasa ragu apakah daging yang ada di hadapannya mati karena disembelih atau mati sendiri (telah menjadi bangkai), maka menurutnya ia sebaiknya tidak memakan daging tersebut. Karena itulah, bentuk kehatihatian dalam beragama. Itulah yang dimaksud menjauhi perkara syubhat.

Dalam khazanah fiqih modern, perkara syubhat tentu saja jauh lebih banyak dan beragam bentuknya. Beberapa contoh yang dapat kita sebutkan misalnya, makan di restoran atau warung yang menjual makanan atau minuman yang haram. Sekalipun yang dipesan adalah makanan yang halal, namun seb