23.2 C
Yogyakarta
Kamis, Agustus 13, 2020

Menyebar Damai

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

UMY Songsong Kembali Perkuliahan secara Tatap Muka

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pada Rabu, 12 Agustus 2020, Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) beserta jajarannya mulai dari dosen hangga tenaga kependidikan...

Kini Ada 80 Rumah Sakit Muhammadiyah Tangani Pasien Covid-19

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Penularan Covid-19 mengalami peningkatan yang begitu masif selama dua pekan ini di hampir seluruh tempat di Indonesia.

Selamat! Lima Proposal Mahasiswa UMTS Lolos PKM Tingkat Nasional

PADANGSIDIMPUAN, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS) berhasil meraih 5 judul pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 5 (lima) bidang Tahun...

Eratkan Kebersamaan, Rektor Unismuh Silaturahim dengan Pejabat Struktural

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Hari ketiga setelah dilantik menjadi Rektor Unismuh Makassar Periode 2020 – 2024, Prof Dr H Ambo Asse, M.Ag...

Pakai Masker Langkah Sederhana Melindungi Nyawa

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Sejak awal Covid-19 masuk ke Indonesia, Muhammadiyah sebagai salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia sudah mencanangkan partisipasinya...
- Advertisement -

Ketika Nabi dilempari warga Thaif hingga berdarah, Malaikat Jibril sempat menawarkan untuk membalaskan. Nabi dengan lembut menolak dan lebih memberi maaf. “Mereka sungguh kaum yang tidak mengerti,” ujar Nabi. Nabi akhir zaman itu sungguh penyebar damai. Kekerasan dilawan dengan perdamaian.

Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian dan antikekerasan. Islam dalam arti harfiahnya berasal dari kata “salam”‘ artinya damai, selamat, dan tunduk. Dalam kehidupan sehari-hari, ajaran salam terungkap dalam sapaan “asalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuhu”, yang mengandung pesan sekaligus doa akan keselamatan dan kedamaian dengan harapan meraih kasih sayang dan berkah Allah SwT. Meski, kini ucapan salam sering kurang dijawab dengan baik.

Surga yang menjadi dambaan setiap Muslim di hari akhir diberi nama “Darussalam” (tempat yang paling damai) sebagaimana firman Allah: “Lahum Darussalam ‘inda Rabbihim,” artinya “Bagi mereka disediakan Darusslam (sorga) di samping Tuhannya” (Qs Al-An’am: 127). Allah SwT bahkan memiliki sifat dan nama As-Salam. Selain nama-nama lain dalam Asmaul Husna, yang artinya: “Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Salam, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (Qs Al-Hasyr: 23).

Nabi Muhammad diutus untuk membawa perdamaian dan keselamatan yang hakiki di dunia dan di akhirat kelak. Nabi adalah figur dan pembawa misi damai. Peperangan dalam Islam, tujuan utamanya selain membela diri juga untuk menegakkan perdamaian dan tegaknya kehidupan yang rahmatan lil-alamin. Ketika kota Makkah ditaklukan, Nabi melarang kaum Muslimin melukai dan membunuh, serta mengajak seluruh penduduk untuk masuk Islam dengan sukarela dan menjadikan kota suci itu sebagai Darussalam.

Kondisi damai ialah situasi aman, tenteram, dan selamat serta bebas dari ancaman, tekanan, kezaliman, dan segala bentuk kekerasan. Karenanya, Islam selain mengajarkan hidup damai dengan siapapun dan di mana pun, pada saat yang bersamaan mengajarkan umatnya maupun manusia umumnya untuk antikekerasan dalam segala bentuknya. Sedangkan kekerasan ialah segala bentuk tekanan baik fisik maupun nonfisik, yang membuat siapapun yang terkena olehnya mengalami kerugian. Pembunuhan dalam berbagai bentuk merupakan wujud kekerasan paling merusak kehidupan. Membunuh satu nyawa sama dengan membunuh seluruh umat manusia, dan menyelamatkan satu nyawa sama dengan menyelamatkan seluruhnya.

Islam sebagai agama perdamaian oleh para pemeluknya harus diwujudkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan umat manusia seluruhnya. Ajaran tentang ihsan seperti kasih sayang, pemaaf, kelembutan, rendah hati, dan nilai-nilai kebaikan yang terpuji lainnya dapat dijadikan dorongan dan jalan untuk tegaknya perdamaian dan hilangnya segala bentuk kekerasan di muka bumi. Dengan ihsan kita menjadi semakin sensitif, empati, dan peduli dalam menyikapi perkembangan kehidupan yang penuh galau dan kacau saat ini. A. Nuha

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 2 Tahun 2015

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles