29 C
Yogyakarta
Kamis, September 24, 2020

Hadits Do’a Malaikat untuk Jamaah Shalat Shaf Terdepan

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Baitul Arqam UMTS Digelar Daring, Perpanjang Penerimaan Mahasiswa

PADANGSIDEMPUAN,  Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS) menggelar kegiatan Baitul Arqam.  Kegiatan pengkaderan yang diikuti 637 mahasiswa itu berlangsung 22-24...

Unismuh Persiapkan Pendirian Program S3 Ilmu Pendidikan

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Satu lagi langkah inovasi yang dilakukan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar dalam upaya mencapai kampus terkemuka dan unggul. Penghujung...

Tiga Ilmu Menjadi Pribadi Terbaik Menurut Rektor UMP

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Masa orientasi studi dan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Banyumas Jawa Tengah dikemas...

Haedar Nashir: Bermuhammadiyah, Ikuti Koridor Organisasi

Muhammadiyah itu organisasi besar yang berdiri tegak di atas sistem, dengan amal usaha dan jaringan yang luas. Kekuatan Muhammadiyah berada dalam sistem,...

MIM Kenteng Gunakan Media Pembelajaran Berbasis Dakwah Budaya

KULON PROGO, Suara Muhammadiyah – Menciptakan madrasah berbudaya sesuai dengan visi MI Muhammadiyah Kenteng. Dimuai dari para pendidiknya sebagai dasar penguatan madrasah...
- Advertisement -

Oleh Ruslan Fariadi, SAg, MSi

Kesuksesan seseorang dalam hidupnya tidak sepenuhnya hasil dari usaha dan jerih payah yang mereka lakukan. Namun, kesuksesan tersebut juga dapat ditinjau dari berbagai aspek, seperti; pertolongan Allah swt., ikhtiyar (usaha), bantuan pihak lain, do’a sendiri maupun do’a orang lain, bahkan do’a dari para Malaikat. Dalam Islam, terdapat beberapa amalan dan ibadah yang dapat mendatangkan keridha’an dan do’a para Malaikat. Di antara amalan-amalan tersebut adalah orang yang berada di shaf terdepan dalam shalat berjamaah.

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ الْكُوفِيِّ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ وَالْمُؤَذِّنُ يُغْفَرُ لَهُ بِمَدِّ صَوْتِهِ وَيُصَدِّقُهُ مَنْ سَمِعَهُ مِنْ رَطْبٍ وَيَابِسٍ وَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ صَلَّى مَعَهُ. (رواه النسائي)

 “Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsanna dia berkata; telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam dia berkata; Bapakku telah menceritakan kepadaku dari Qatadah dari Abu Ishaq Al-Kufi dari Al-Barra’ bin ‘Azib bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Allah dan para malaikat mendoakan (orang-orang) yang berada di shaf terdepan. Seorang muadzin akan diampuni sepanjang suaranya dan dibenarkan oleh yang mendengarnya dari semua yang basah dan kering, dan dia mendapat pahala seperti pahala orang yang ikut shalat bersamanya.” (HR. an-Nasa’i)

Hadits ini terdapat dalam kitab Sunan an-Nasa’i pada bab Raf’us shaut bil Azan (Meninggikan suara azan) nomor 642, dengan derajat shahih. Seluruh rawi  yang terdapat dalam sanad hadits ini dinilai sebagai rawi yang adil dan dhabit dengan berbagai komentar para ulama’ antara lain; tsiqah, tsiqah tsabat, shalihul hadits, Shaduuq, tsiqah masyhur, Minal huffadzh, dan berbagai bentuk penilaian yang bagus. Begitu pula dengan sifat sanadnya yang bersambung (muttashil). Bahkan, matan hadits ini juga diriwayatkan oleh imam ahli hadits lainnya baik dari jalur yang sama maupun dari jalur yang berbeda seperti; Imam Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya, bab Fi as-Shalah Tuqamu walam ya’ti al imam yantazhirunahu qu’udan (Menunggu imam setelah iqamah dikumandangkan sambil duduk), nomor 457 dan pada bab Man yustahabbu an yaliya al imam fi as-shaffi wa karahiyah at-Ta’akhkhur (Orang yang dianjurkan untuk shalat di belakang imam dan kemakruhan untuk sengaja di shaf akhir), nomor 578. Ibnu Majah dalam kitab Sunan-nya pada bab Fadhlu as-Shaffi al-Muqaddami (Keutamaan shaf terdepan), nomor 987, serta imam Ahmad bin hambal dalam kitab Musnad-nya pada kitab Hadits an-Nu’man bin Basyir ‘an an-Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam nomor. 17641, dan dalam kitab Hadits Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu nomor. 17774, 17873, dan lainnya.

Dari beberapa riwayat tersebut, salah satunya adalah hadits riwayat Abu Dawud sebagai berikut:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ سُوَيْدِ بْنِ مَنْجُوفٍ السَّدُوسِيُّ حَدَّثَنَا عَوْنُ بْنُ كَهْمَسٍ عَنْ أَبِيهِ كَهْمَسٍ قَالَ قُمْنَا إِلَى الصَّلَاةِ بِمِنًى وَالْإِمَامُ لَمْ يَخْرُجْ فَقَعَدَ بَعْضُنَا فَقَالَ لِي شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ الْكُوفَةِ مَا يُقْعِدُكَ قُلْتُ ابْنُ بُرَيْدَةَ قَالَ هَذَا السُّمُودُ فَقَالَ لِي الشَّيْخُ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْسَجَةَ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ كُنَّا نَقُومُ فِي الصُّفُوفِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَوِيلًا قَبْلَ أَنْ يُكَبِّرَ قَالَ وَقَالَ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الَّذِينَ يَلُونَ الصُّفُوفَ الْأُوَلَ وَمَا مِنْ خُطْوَةٍ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ خُطْوَةٍ يَمْشِيهَا يَصِلُ بِهَا صَفًّا. (رواه أبو داود)

 “Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ali bin Suwaid bin Manjuf As-Sadusi telah menceritakan kepada kami ‘Aun bin Kahmas dari Ayahnya, Kahmas dia berkata; Kami telah berdiri untuk melaksanakan shalat pada waktu di Mina sementara imam belum keluar, maka sebagian dari kami duduk lagi, lalu seorang syaikh dari kufah berkata kepadaku; Apa yang membuatmu duduk? Saya menjawab; Ibnu Buraidah. Dia berkata; ini adalah suatu kelalaian (kebingungan), lalu dia berkata; Telah berkata kepadaku Abdurrahman bin Ausajah dari Al-Bara` bin Azib dia berkata; Kami pernah berdiri lama sekali pada shaf shalat pada masa Rasulullah saw. (dalam rangka menunggu beliau) sebelum shalat dilaksanakan, dan beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah dan para Malaikatnya bershalawat bagi orang-orang yang berada pada shaf-shaf pertama, dan tidak ada suatu langkah yang lebih Allah sukai daripada langkah seseorang untuk menuju shaf yang paling depan.” (HR. Abu Dawud)

Selain matan hadits tersebut di atas, terdapat pula matan hadits lain yang menjelaskan tentang keutamaan shaf terdepan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam Abu dawud dalam kitab Sunan-nya pada Bab Taswiyah as-Shufuf (Meluruskan Shaf) nomor 565 sebagai berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ النُّفَيْلِيُّ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ قَالَ سَأَلْتُ سُلَيْمَانَ الْأَعْمَشَ عَنْ حَدِيثِ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ فِي الصُّفُوفِ الْمُقَدَّمَةِ فَحَدَّثَنَا عَنْ الْمُسَيَّبِ بْنِ رَافِعٍ عَنْ تَمِيمِ بْنِ طَرَفَةَ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَلَّ وَعَزَّ قُلْنَا وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهِمْ قَالَ يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْمُقَدَّمَةَ وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ. (رواه أبو داود)

“Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad An-Nufaili telah menceritakan kepada kami Zuhair dia berkata; Saya pernah bertanya kepada Sulaiman Al-A’masy tentang hadits Jabir bin Samurah dalam hal shaf terdepan, maka dia menceritakan kepada kami dari Al-Musayyab bin Rafi’ dari Tamim bin Tharafah dari Jabir bin Samurah dia berkata; Rasulullah saw. bersabda: “Tidakkah kalian ingin berbaris sebagaimana para malaikat berbaris di hadapan Rabb mereka Azza wa Jalla?” Kami berkata; Bagaimana para malaikat berbaris di hadapan Rabb mereka? Beliau bersabda: “Mereka menyempurnakan shaf-shaf yang terdepan, dan mereka saling merapatkan shaf.” (HR. Abu Dawud)

Ditinjau dari aspek kuantitas jalur periwayatan (sanad), hadits ini termasuk hadits gharib (diriwayatkan dari satu jalur) oleh imam Abu Dawud sebagaimana terdapat dalam kitab Sunan-Nya. Namun demikian, hadits ini telah memenuhi kreteria hadits shahih, baik dalam tinjauan sifat sanadnya maupun keadaan para rawinya. Sanad hadits ini muttashil (bersambung) dan tidak ada satupun dari rawinya yang divonis cacat baik dari aspek kepribadian (adil dan tsiqah) maupun kekuatan hafalannya (dhabit). Begitu pula dari aspek matannya tidak bertentangan dengan dalil lain yang lebih kuat (tidak syaz) dan tidak pula ada unsur ‘illat (kecacatan), dan bahkan hadits ini sangat selaras dengan hadits-hadits lain yang berbicara tentang keutamaan shaf terdepan.

Isi kandungan dari hadits tersebut di atas adalah: pertama, Allah dan para malaikat sangat menyukai dan mendo’akan (orang-orang) yang berada di shaf terdepan, khususnya ketika shalat berjama’ah.

Kedua, seorang muadzin akan diampuni sepanjang suaranya dan dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang ikut shalat bersamanya. Bahkan, imam as-Suyuthi menjelaskan dalam Hasyiyah Syarah Sunan an-Nasa’i, bahwa; muadzin diampuni dosa-dosanya sepanjang suara azannya. Abu al-Baqa’ mengatakan bahwa yang dimaksud dengan sepanjang suaranya (mada sautahu) menurut ahli bahasa adalah berarti keterangan tempat, hal ini memiliki dua makna yaitu; sepanjang suaranya (masafah) dan kedua adalah sepanjang tempat atau lokasi yang terjangkau oleh suaranya. Dengan demikian, maksud dari kalimat tersebut adalah; 1) seandainya dosa-dosanya memenuhi tempat tersebut niscaya akan diampuni oleh Allah swt., 2) diampuni dosa-dosa yang dilakukannya pada waktu tertentu dengan jarak tersebut.

Ketiga, langkah seseorang untuk menuju shaf yang paling depan sangat disukai oleh Allah swt. bahkan para Malaikat pun sangat menyukai shaf terdepan seraya menyempurnakan shaf-shaf mereka.

Ruslan Fariadi, SAg, MSi, Dosen PUTM, Pengajar di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta

Artikel ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 24 Tahun 2016

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles