Muhammadiyah sebagai Gerakan Pencerahan

Dok SM

Prof Dr H Haedar Nashir, MSi

Kiai Haji Ahmad Dahlan lahir menjadi sang pencerah. Di panggung sejarah dia hadir menjadi pembaharu yang mengguncang kesadaran umat di zamannya. Lahir di Kauman Jogjakarta tahun 1869 dan wafat 1923 dalam usia muda, 54 tahun. Karya pembaruan terbesarnya ialah Muhammadiyah, yang dia dirikan 8 Dzulhijah 1330 Hijriyah bertepatan 18 November 1912 untuk mengukir kisah sukses pergerakan Islam yang mencerdaskan dan memajukan kehidupan umat dan bangsa. Dua kali bermukim di Mekkah, dia pulang menjadi mujadid melawan pikiran-pikiran jumud.

Ahmad Dahlan adalah sosok pencari kebenaran hakiki, yang pemberuannya bersifat break-trought alias lompatan di luar kelaziman, demikian tulis Nurcholish Madjid. Dr Alfian dalam disertasinya menjuluki pendiri Muhammadiyah itu sebagai sosok aktor reformasi keagamaan, agen perubahan sosial, dan kekuatan politik kebangsaan. Charles Kurtzman bahkan menemukan Dahlan sebagai pembawa revivalisme Islam yang liberal, yang berbeda pikiran keislamannya dari kaum revivalis ortodoks. Mas Mansur muda dari Surabaya yang haus ilmu dan perjuangan tertarik masuk Muhammadiyah karena bertemu dengan Dahlan yang pikiran keislamannya sungguh berkemajuan.

Kiai Ahmad Dahlan berkawan dekat dengan Haji Oemar Said Tjokroaminoto, Achmad Sjurkati, Hasyim Asy’ary, dan para tokoh sentral pergerakan nasional. Presiden Muhammadiyah itu diundang untuk memberikan pencerahan keislaman di hadapan anak-anak muda cerdas seperti Soekarno, Semaun, dan kawan-kawan di kediamannya di Paneleh Surabaya. Keduanya bahkan pernah turun ke daerah untuk tabligh bersama, Tjokro orator ulung yang membangkitkan etos pergerakan, sedangkan Ahmad Dahlan berpenampilan kalem tapi pikiran keislamannya tajam menggugah jiwa pembaruan. Di luar itu, Ketua Hoobestuur Muhammadiyah ini bersahabat dengan tokoh-tokoh Boedi Oetomo dan kalangan Sosialis, serta berinteraksi dengan tokoh agama lain tanpa rasa canggung. Sosok ini adalah teladan pemimpin pencerahan yang berjuang penuh totalitas, ikhlas, sabar, keras kemauan, serta berpikiran dan langkah cemerlang beretos kemajuan dan pembaruan.

Ketika mendirikan Muhammadiyah, Ahmad Dahlan mengazam gerakan Islam yang didirikannya mengikuti jejak perjuangan Nabi Muhammad. Nabi akhir zaman itu membawa risalah takhrij min al-dhulumat ila al-nur, mengeluarkan umat manusia dari kegelapan menuju pencerahan, sehingga mengubah Yasrib yang semula komunal pedesaan menjadi kota peradaban yang cerah dan mencerahkan, al-Madinah al-Munawwarah. Dari perjuangan menegakkan Risalah Islam yang mencerahkan di Jazirah Arabia itulah kemudian umat Islam menguasai dunia dan melahirkan era kejayaan berabad-abad lamanya, ketika bangsa-bangsa lain tengah tertidur lelap di abad kegelapan. Itulah risalah pencerahan Islam yang menjadi rujukan misi Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam.

Spirit Pencerahan

Dalam bahasa Arab, kata “pencerahan” merujuk pada kata “tanwir” yang berasal “nur”. Dalam Al-Munjid, kata “nur” memiliki banyak makna antara lain: dhauw-a (jamak: diya-a) artinya menerangi atau menyinari, na-ra yakni api yang mengeluarkan cahaya, ra-yu artinya akal pikiran, aql-niyar artinya pikiran cemerlang, dan al-munir mengandung makna majjat al-thariq alias tengah jalan yang terang atau jelas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “pencerahan” (kata benda) artinya proses, cara, perbuatan mencerahkan. Kata “mencerahkan” (kata kerja) mengandung makna menjadikan (menyebabkan) cerah (tidak suram, jernih, dan sebagainya. Kata “cerah” senapas dengan “terang”, “sinar”, “jernih”, lawannya “gelap”, “keruh”, “suram”.

Muhammadiyah sangat akrab dan menjadi satu-satunya gerakan Islam di negeri ini yang memperkenalkan dan menyebarluaskan diksi “pencerahan”, yang diambil dari kata “tanwir”. Dalam Muhammadiyah kata “Tanwir” melekat dengan sebuah istilah persidangan di bawah Muktamar, yang dicetuskan pada Muktamar di Banjarmasin tahun 1935. Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr H M Din Syamsuddin, tidak ada organisasi Islam yang menamai permusyawaratan pimpinannya dengan kata “Tanwir” kecuali Muhammadiyah. Karena itu Sidang Tanwir yang melibatkan para elite Muhammadiyah diharapkan menjadi forum “permusyawaratan pencerahan”, yang membahas pikiran-pikiran maupun langkah-langkah maju yang cerah dan mencerahkan.

Jika dirujuk pada Al-Qur’an terdapat 48 kata yang berpangkal dari kata “al-nur” dalam variasi kata “nuura, nurikum, nurihim, al-munir, munira”, sebagai sandaran konsep “tanwir” atau “pencerahan”.

Ayat yang paling dekat antara lain pada Surat Al-Baqarah ayat ke-257 yang mengandung anak kalimat “yukhrizuhum min al-dhulumat ila al-nur” (mengeluarkan umat manusia dari kegelapan pada cahaya), bahwa Allah mengeluarkan umat manusia dari kegelapan pada cahaya petunjuk-Nya, sebaliknya Thagut selaku tuhan kaum kafir “yukhrizunahum min al-nur ila al-dhulumat” (mengeluarkan umat manusia dari petunjuk Allah kepada kegelapan). Artinya “pencerahan” atau “tanwir” itu mengeluarkan umat manusia dari keadaan jahiliyah tanpa petunjuk Ilahi menjadi menempuh jalan lurus dalam naungan petunjuk Allah. Nama salah satu Surat Al-Qur’an ialah Surat “Al-Nur”, di dalam salah satu ayat ke-35 terkandung Firman Allah, “Allahu nur al-samawati wa al-ardl…”, artinya “Allah (memberi) cahaya langit dan bumi…” (Qs. AlNur: 35).

Pencerahan dalam konsep dan pemikiran Muhammadiyah sepenuhnya bertumpu pada nilai ajaran Islam, sehingga dapat dimaknai sebagai “pencerahan Islami”, bukan pencerahan yang lain. Dalam makna ini, pencerahan dan gerakan pencerahan dapat dikatakan sebagai misi dakwah dan tajdid Muhammadiyah untuk mengeluarkan umat manusia dari segala bentuk “kegelapan” dalam hidupnya menuju pada “cahaya” yang terang, bersinar, dan berkilau cerah dalam hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Risalah Islam yang dibawa Nabi Muhammad dan diwujudkan dalam kehidupan umat selama 23 tahun di Makkah dan Madinah, serta meluas ke seluruh jazrah Arabia, tidak lain merupakan risalah pencerahan Islam.

Gerakan “pencerahan” dalam Muhammadiyah tidak mengandung makna sama sebangun dengan sejarah pemikiran Barat yang dikenal dengan era “Enlightenment” atau “Aufklarung”. Suatau fase kemajuan nalar modern yang oleh filosof Emanuel Kant dimaknai sebagai “sapere aude”, yaitu suatu era ketika manusia mengalami “akil balig” dalam hal berpikir dari segala keterbelengguan metafisik menuju pemikiran ilmu pengetahuan. Dalam pemikiran humanisme-sekuler, pencerahan itu bermakna pembebasan dari agama dan segala sistem berpikir yang dianggap membelenggu manusia. Tetapi dalam hal pentingnya penggunaan “akal pikiran”, “ilmu pengetahuan”, dan. “kemajuan”, gerakan pencerahan di Barat sangat positif dan memiliki kesamaan spirit dengan pencerahan di dunia Islam.

Baca Juga:   Muhammadiyah Melangkah ke Depan

Dalam Muhammadiyah penggunaan istilah “pencerahan” secara lebih terpublikasi luas di dalam maupun ke luar radius Persyarikatan dimulai sejak era Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2000-2005 pada masa kepemimpinan Prof Syafii Maarif, yang berlanjut pada dua masa kepemimpinan Prof Din Syamsuddin. Dalam “Pernyataan Pikiran Muhammasiyah Abad Kedua” hasil Muktamar Satu Abad tahun 2010 di Yogyakarta secara resmi bahkan disebutkan bahwa “Muhammadiyah pada abad kedua berkomitmen kuat untuk melakukan gerakan pencerahan”. Dalam konteks gerakan Muhammadiyah pemakaian makna “pencerahan” menjadi “gerakan pencerahan” terkandung maksud memberikan tekanan, penguatan, pendalaman, dan pengembangan pada misi Muhammadiyah yang menjalankan dakwah dan tajdid untuk mengeluarkan umat manusia dari segala bentuk “kegelapan” hidup menuju keadaan yang lebih baik dalam segala dimensinya sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam yang menjadi landasan dan orientasi gerakan ini sebagai “Gerakan Islam”. Dalam Muhammadiyah “gerakan pencerahan” satu napas dengan “gerakan dakwah” dan “gerakan tajdid” yang menjadi misi utama Gerakan Islam ini, yang dalam khazanah luas dikenal sebagai Gerakan Tajdid atau Gerakan Pembaruan, Gerakan Islam Modern, Gerakan Islam Reformis, dan kini Gerakan Islam Berkemajuan.

Islam Pencerahan

Islam adalah agama yang mencerahkan kehidupan umat manusia (din at-tanwir). Kehadiram Islam membawa misi penting untuk mengeluarkan umat manusia dari segala bentuk kegelapan (kejahiliyahan) menuju pada petunjuk (jalan, ajaran) Allah yang terang-benderang, takhrij min al-dhulumat ila al-nur (Qs Al-Baqarah: 257). Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

Artinya: “Allah Pelindung orangorang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 257).

Al-Nur atau Cahaya dalam sejumlah ayat menurut banyak tafsir Al-Qur’an ialah petunjuk Allah kepada umat manusia sehingga mereka terang benderang berada