Sejarah Darul Arqam: Wadah Penggemblengan Para Sahabat

Bani Israil
Foto Dok Ilustrasi

Tanggal 17 Ramadhan tahun ke-41 dari kelahirannya, Nabi Muhammad saw menerima wahyu untuk pertama kalinya di gua Hira. Wahyu pertama berupa lima ayat Surat Al-Alaq yang berupa perintah serta seruan untuk membaca. Wahyu pertama ini jelas belum menyuruh Muhammad untuk menyeru umat manusia kepada suatu agama dan belum memberitakan bahwa beliau diangkat menjadi utusan. Akan tetapi ayat-ayat tersebut memberikan kesan luar biasa kepada beliau. Oleh sebab itu beliau kembali ke rumah dengan tubuh yang gemetar.

Pada suatu hari beliau mendengar suara dari langit, maka tampaklah malaikat Jibril oleh beliau. Tubuh beliau merasa gemetar. Beliau segera pulang ke rumah dan pergi tidur seraya berkata kepada istrinya Khadijah ra “Selimutilah aku!” kemudian malaikat Jibril menyampaikan wahyu untuk yang kedua kalinya:

Hai orang yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatan, dan Tuhanmu agungkanlah, pakaianmu bersihkanlah dan segala yang keji tinggalkanlah. Jangan memberi dengan harapan mendapat balasan yang lebih banyak, dan demi Tuhanmu bersabarlah.”

Ayat inilah yang mula-mula menyuruh Nabi menyeru kepada agama Allah. Dengan demikian mulailah periode baru yaitu periode seruan kepada agama Islam dalam kehidupan Rasulullah saw.

Pada periode ini Rasulullah saw berdakwah dengan cara sembunyi-sembunyi. Awal mulanya beliau menyeru keluarga dan kawan-kawan terdekat, yang beliau serukan ialah pokok-pokok ajaran Islam yaitu seruan untuk beriman kepada Allah swt serta meninggalkan pemujaan terhadap berhala.

Namun dalam perjalanan dakwahnya, ada beberapa faktor yang mendorong kaum musyrikin menentang ajaran Islam. Faktor-faktor yang menjadi penyebab kaum musyrikin tidak mau menerima ajaran Rasulullah saw ialah latar belakang sikap kepribadian dan kehidupan bangsa Arab. Dapat kita simpulkan faktor-faktor itu antara lain sebagai berikut:

Baca Juga:   Istanbul: Dua Peradaban dalam Satu Kota

Pertama, terjadinya perebutan pengaruh dan kekuasaan antara suku-suku Quraisy. Bani Abdisy Syams selalu bersaing dengan suku Bani Hasyim. Mengakui Muhammad sebagai Nabi dan Rasul berarti tunduk kepada Bani Hasyim karena beliau berasal dari Bani Hasyim.

Kedua, Islam mengajarkan kesamaan kedudukan antar sesame manusia. Padahal orang Makkah sangat membanggakan keturunan dan suku. Oleh sebab itu kaum musyrikin enggan memeluk agama Islam, sebab hal itu dianggap meruntuhkan derajat mereka.

Ketiga, Paham sekular dan materialistis dari kaum Quraisy Makkah sukar menerima ajaran tentang adanya hari pembalasan. Pikiran dan akal mereka tidak mampu menerima keterangan bahwa manusia bila sudah mati dan membusuk badannya akan dapat dihidupkan kembali pada hari pembalasan.

Keempat, taklid kepada nenek moyang merupakan paham tradisional yang sudah mandarah daging. Mereka sangat terikat oleh kepercayaan nenek moyang yang bersifat politistik. Bila ada orang yang mengajarkan paham monoteistis dianggap memecah persatuan bangsa dan merusak tradisi nasional nenek moyang. Mereka tidak mau menggunakan rasio mengenai hal-hal yang menyangkut tradisi nenek moyang, meskipun hal tersebut sangat bertentangan dengan akal sehat.

Kelima, memperniagakan patung merupakan bisnis yang sangat menguntungkan bagi mereka. Setiap tahun sekali suku-suku dari luar kota Makkah mengunjungi Makkah pada musim haji. Orang Arab menggambarkan patung sebagai dewa mereka. Patung itu dijual kepada jamaah haji untuk dijadikan jimat. Agama Islam melarang penyembahan selain kepada Allah. Maka orang musyrik mengkhawatirkan jika Makkah menjadi sepi, tidak ada lagi turis atau jamaah haji yang datang untuk berdagang dan membeli patung berhala bikinan orang Makkah.

Melihat faktor-faktor tersebut, Rasulullah saw menyampaikan dakwah dengan pendekatan ilmiah, rasional, tetapi juga bertenggang rasa, yaitu bil hikmah wal mau’idhatil hasanah. Beliau tidak menyakiti kaum musyrikin dan tidak sekaligus menginjak-injak patung berhala sesembahan mereka.

Baca Juga:   Taawun dan Ukhwah Hadapi Krisis

Rasulullah saw menyampaikan dakwah dengan metode ilmiyah. Metode ilmiyah ini mengharuskan orang melakukan penyelidikan dan hendaklah terbebas dari segala macam kepercayaan tradisional yang ada. Hendaklah dilakukan pengamatan atau observasi obyektif dan teliti, mengadakan perbandingan dan membuat kesimpulan. Metode ini sesuai dengan ajaran al-Qur’an yang menyuruh umat manusia melakukan observasi alam semesta, mengetahui hubungan integral antara segala sesuatu yang ada dalam alam semesta.

Berbagai macam bukti dihadirkan. Bukti kosmologi, bukti teologi, hukum, sebab akibat, serta diketuk dengan hati nurani di samping rasio pemikirannya. Sehingga pemuda-pemuda Islam merasa mantap memperoleh penataran di Darul Arqam tersebut yang dipandu langsung oleh Rasulullah saw.

Dari Darul Arqam tersebut banyak pemuda belasan tahun yang memilih Islam sebagai jalan hidup, mereka kerap disebut sebagai As Sabiqunal Awwalun (para sahabat yang pertama masuk Islam). Pemuda-pemuda ini lah yang berjuang disekeliling beliau untuk menegakkan masyarakat Islam yang sebenarnya, menghadirkan kesejahteraan sosial dan keadilan politik serta ekonomi.

Tidak lama setelah As Sabiqunal Awwalun memeluk Islam, Umar bin Khattab mengikrarkan dirinya bahwa ia telah mengikuti ajaran Rasulullah. Masuk Islamnya Umar bin Khattab ra tercatat dalam sejarah dengan tinta emas. Umar merupakan satu-satunya sahabat Rasulullah yang mendorong Rasulullah dan para sahabat untuk berdakwah secara terang-terangan.

Maka terjadilah dialog antara Umar dengan Rasulullah saw.

Umar berkata, “Mengapa kita menyembunyikan agama kita wahai rasulullah, pada hal kita berada dalam kebenaran, sedangkan mereka berada dalam ketersesatan”.

Rasulullah menjawab, “Jumlah kita masih sedikit, engkau sendiri menyaksikan apa yang menimpa kita wahai Umar”.

Umar kemudian berkata, “Tidak pantas engkau sembunyikan agama ini wahai Rasulullah. Tampakkanlah agamamu. Demi Allah! Tidak akan disembah Allah secara sembunyi-sembunyi sesudah hari ini. Demi Dzat yang mengutus engkau dengan kebenaran. Tidak akan ketinggalan suatu majelis yang aku pernah duduk di dalamnya dengan kekafiran, melainkan akan kutampakkan di situ dengan Islam. Aku tidak gentar dan takut”.

Baca Juga:   Andalusia Pusat Ilmu Pengetahuan: Islam Tidak Mengenal Dualisme Pendidikan

Rasulullah menerima sepenuhnya saran Umar bin Khattab ra untuk mendakwahkan Islam secara terang-terangan. Maka dimulailah dakwah Islam secara terang-terangan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Tempat yang dijadikan tempat berkumpul adalah Darul Arqam. Setiap pagi para sahabat berkumpul di Darul Arqam untuk menerima penetaran dari Rasulullah saw.

Start dimulainya pawai dakwah secara terang-terangan ialah dari rumah Baitul Arqam, kemudian mereka berjalan menyusuri kampung-kampung yang berdekatan dengan Masjidil Haram, yakni Samiyah, Syughlail, Ziyad, dan lain-lain kemudian masuk ke dalam masjid mengelilingi Ka’bah dan finish di tempat itu, dilanjutkan membaca al-Qur’an dan shalat. Pawai diakhiri dengan selamat.

Inilah pawai umat Islam yang pertama kali di dunia. Berapa pesertanya? Ada yang menceritakan hanya 40 orang. Tetapi sesungguhnya sebelum Umar masuk Islam sudah ada 121 orang yang masuk Islam. Sesudah beliau masuk, bertambah 17 orang lagi. Dari riwayat tersebut dapat disimpulkan bahwa pawai pertama umat Islam diikuti 140 orang peserta. Wallahu a’lam bish shawab.

Sesudah pawai tersebut maka dakwah Islam tidak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi di darul arqam. Dua tahun lamanya Darul Arqam berfungsi sebagai tempat penggemblengan para sahabat. Yakni dari tahun ke-5 sejak diutusnya Rasulullah sampai tahun ke-7.(diko)