27 C
Yogyakarta
Jumat, Agustus 14, 2020

Wajah Baru Suara Muhammadiyah

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Dosen UMY Lakukan Pendampingan Manajemen Infaq Masjid

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Program Pengabdian Masyarakat merupakan implemetasi catur dharma perguruan tinggi. Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah...

Uji Sertifikasi Kompetensi untuk Penyunting Naskah atau Editor

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Uji Sertifikasi Kompetensi Skema Penulisan buku non fiksi, Penyunting Naskah/Editor, Penyunting Substantif kerjasama Program Studi Magister Pendidikan IPS,...

Pengabdian Masyarakat, Dosen FEB UMY Suburkan KWT Amanah ‘Aisyiyah Bausasran

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Isthofaina Astuty bersama dengan Meika Kurnia Pudji RDA, dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas...

Peran Penting Pemasaran Ritel Perspektif Akademisi Internasional dan Praktisi

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Guna menambah wawasan dan pengalaman praktis mahasiswa, International Program of Management and Business (IMaBs), prodi Manajemen Universitas Muhammadiyah...

Pimpinan Madrasah Mu’allimin dan PUTM Lepas Kader Pengabdian di Sumpur Kudus

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Bertempat di Masjid Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta, 14 Agustus 2020, pimpinan Madrasah Muallimin dan Pendidikan Ulama...
- Advertisement -

Judul               : Sejarah Seabad Suara Muhammadiyah Jilid II (1964-2015)

Penyusun         : Tim Pusdalitbang SM (Koordinator Muhammad Yuanda Zara)

Penerbit           : Suara Muhammadiyah

Cetakan           : 1, November 2019

Tebal, ukuran  : xxxii + 196 hlm, 14 x 21 cm

ISBN               : 978-602-6268-72-3

Tahun 1965 merupakan tonggak sejarah. Pada 15 Juli 1965, terbit Suara Muhammadiyah edisi 1 tahun 37, yang diperkenalkan oleh tim redaksinya sebagai Suara Muhammadiyah “dengan gaja dan wadjah baru.” Ukuran majalah menjadi lebih besar dan halamannya menjadi lebih tebal. Karena bertambah jumlah halaman, tulisan menjadi semakin mendalam dan beragam. Oplahnya juga diperbanyak. Kemunculan edisi kali ini sekaligus menyambut Muktamar Muhammadiyah ke-36, pada bulan Juli, di Bandung, Jawa Barat, (hlm 1-3).

Penulis yang mengisi rubrik majalah Suara Muhammadiyah tidak hanya para redaktur maupun para tokoh internal Muhammadiyah. Para pemuka agamawan ataupun ilmuwan juga diminta menulis dan menyebarluaskan gagasannya melalui majalah ini. Suara Muhammadiyah dengan gaya dan wajah baru ini mendapat respons positif dari para pembaca. Pelanggan lama bertambah senang dan pelanggan baru terus berdatangan.

Di saat yang sama, ada perubahan pola keredaksian. Bagi redaksi, sambutan hangat dari pembaca dianggap sebagai pemacu untuk menyajikan yang terbaik ke hadapan pembaca. “Di sisi lain, redaksi memahami bahwa langganan yang datang dan uang yang mereka bayarkan meminta tanggung jawab besar dari redaksi untuk memastikan agar kualitas isi majalah ini bisa menjawab kebutuhan literasi pembaca,” (hlm 7).

Pada edisi terbaru, sejak 1965, mulai diadakan apresiasi sastra. Diberikan tempat bagi cerita pendek dan puisi. Lembaran-lembaran rubrik berisi keindahan estetik dan imajinatif ini menjadi ruang bagi para seniman dan sastrawan muda Indonesia untuk meniti fase kepenulisannya di level nasional. Sajak pertama yang muncul adalah karya penyair baru yang di kemudian hari dikenal sebagai budayawan dan sutradara terkenal, Arifin C. Noer. Judulnya “Surat dari Ibu yang Telah Wafat.” Masih ada nama lain yang kelak menjadi tokoh budayawan: Sapardi Djoko Damono, Rachmat Djoko Pradopo, hingga Taufiq Ismail.

Suara Muhammadiyah dengan wajah baru juga mengapresiasi buku-buku yang dianggap membawa gagasan berkemajuan. Hal ini menandakan perhatian redaksi pada upaya penguatan literasi dan komitmen meluaskan wawasan keilmuan para pembaca. Pengenalan buku dan rekomendasi buku dari redaksi ini menjadi penting ketika akses informasi saat itu masih terbilang sulit.

Di edisi wajah baru, redaksi juga menyajikan laporan Muhammadiyah akar rumput. Para dai di pelosok misalnya mengalami kesulitan menyebarkan paham agama yang mencerahkan dan menghadapi masyarakat yang masih hidup dalam tradisi takhayul dan mitos-mitos. Misi membangun peradaban ini diusung oleh Suara Muhammadiyah.

Sikap redaksi terhadap lahirnya Orde Baru hingga Pemilu yang digelar setelahnya juga menarik disimak dalam buku ini. Termasuk tentang misi memajukan ilmu dan teknologi hingga kritik sosial. Suara Muhammadiyah kini sudah menapaki abad kedua dengan beragam tantangan yang lebih berat, terutama kehadiran era disrupsi. (ribas)

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles