22.6 C
Yogyakarta
Jumat, Agustus 14, 2020

Maroko, Pelopor Masjid ‘Ramah Lingkungan’

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Pengabdian, Dosen Manajemen UMY dan Warga Bausasran Adakan Penghijauan

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Sempitnya lahan tidak menyurutkan keinginan warga RW 11 Bausasran Kecamatan Danurejan Kota Yogyakarta untuk menghijaukan wilayahnya.

Asah Kreativitas, PMM UMM Ajari Anak-Anak Seni Kolase

BLITAR, Suara Muhammadiyah - Kelompok Pengabdian Mahasiswa untuk Masyarakat (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang melakukan pengabidan masyarakat dengan mengajari anak-anak membuat kolase. Kegiatan...

Dosen FEB UMY Latih Jamaah Pengajian Membuat Kain Shibori

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pengabdian masyarakat merupakan salah satu bentuk kewajiban dalam Catur Dharma Perguruan Tinggi. Disamping itu pengabdian masyarakat di era...

Semua Siswa Dapat, SMK Mutu Tegal Bagikan Perdana Plus Kuota untuk PJJ

TEGAL, Suara Muhammadiyah - Bentuk pelayanan selama diberlakukannya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dalam masa covid 19. SMK MUTU Tegal berikan kartu perdana...

Islam, Alam, dan Tugas Manusia

Alam akan membawa manfaat dan berkah bagi manusia, manakala telah melaksanakan tugasnya terhadap alam, yakni mengembalikan alam ke jalan yang benar. Yakni...
- Advertisement -

Maroko telah berkomitmen untuk mewujudkan misi efisiensi dan clean energy-nya dengan menghadirkan 600 ‘Green Mosque’ pada tahun 2019, yang akan menggunakan solar-energy sebagai sumber energinya. Sejak tahun 2014, Raja Mohammed VI telah mendesak kebijakan kesadaran lingkungan secara proaktif di dalam negara dengan 99% penduduk Muslim tersebut.

Program yang diinisiasi sejak 2 tahun lalu ini merupakan kerjasama Kementerian Energi Maroko (MEMEE) dan Kementerian Keagamaan (MHAI), bersama Perusahaan Investasi Energi Negara (SIE) dan Badan Nasional untuk Energi Terbarukan dan Efisiensi Energi (ADEREE).

Sebagai negara yang menjadikan masjid sebagai pusat kehidupan masyarkatnya, upaya membangun masjid ‘ramah lingkungan’ dianggap mampu membantu untuk meningatkan kesadaran akan pentingnya pengematan energy dengan memanfaatkan sumber-sumber yang terbarukan.

Sebagai negara yang menjadikan masjid sebagai pusat kehidupan masyarkatnya, upaya membangun masjid ‘ramah lingkungan’ dianggap mampu membantu untuk meningatkan kesadaran akan pentingnya pengematan energy dengan memanfaatkan sumber-sumber yang terbarukan.

Rencananya, Green Mosques ini akan dirancang menggunakan penerangan hemat energy, sistem fotovoltaik sebagai sumber energy listrik dan pemanas air tenaga surya. Dengan implementasi ini, mampu menghemat sebanyak 40% pengeluaran energy 15000 masjid di Maroko yang rata-rata mengonsumsi 90 kilowatts setiap harinya. Ditambah lagi dengan penelitian yang telah membuktikan bahwa dengan skema ini, mampu memotong konsumsi energi hingga 60% di Masjid Besar As-Sunna di Rabat.

SIE mengatakan bahwa selain mewujudkan efisiensi energy dan kesadaran masyarakat akan clean energy, proyek ini juga akan memberikan dampak sosial berupa terciptanya 5000 lapangan kerja baru dan pertumbuhan market di Maroko. Dengan diperkenalkannya solarEnergy di masjid-masjid Maroko, penggunaan perangkat serta jasa pemasangan sistem solar-energy dapat berkembang di pasar Maroko.

Oleh karena itu, pemerintah Maroko juga merencanakan untuk memberi support berupa training kepada mereka yang ada di level komersil seperti perusahaan-perusahaan dari pembuat kebijakann hingga karyawan. Sehingga, teknologi yang digunakan dalam proyek Green Mosque ini juga mampu diadaptasi untuk digunakan di bangunan umum dan juga tempat hunian.

Pemerintah Maroko juga merencanakan promosi secara besar-besaran melalui berbagai media untuk mengkampanyekan penggunaan teknologi ramah lingkungan agar mampu mendorong potensi bisnis menyedia jasa penggunaan energi di negara tersebut.

“Seluruh teknologi dan jasa yang dibutuhkan telah tersedia di pasar lokal,” sebut Jan Christoph Kuntze dari Organisasi Pembangunan milik Jerman (GIZ) yang juga mendukung terealisasinya proyek ini, dilansir dari Rappler.

Selain peluang dalam lapangan pekerjaan dan penghematan pengeluaran energi, proyek ini juga telah mengundang partisipasi dari para wanita di Maroko untuk terlibat dalam proyek energi ramah lingkungan tersebut.

100 masjid pertama yang akan mengadaptasi sistem ini akan dipusatkan kepada area dengan tingkat populasi tinggi seperti Rabat, Fez, dan Cassablanca. Walaupun, dalam jangka waktu dekat akan segera merambat ke desa-desa di Maroko.

Maroko menjadi tuan rumah konferensi perubahan iklim yang berlangsung dari 7-18 November 2016. Dalam pertemuan ini, akan membicarakan terkait ratifikasi kesepakatan ‘Paris’ yang berisi komitmen untuk memerangi pemanasan global serta terus memberi dukungan kepada negara-negara berkembang yang terkena imbas dari perbahan iklim. (Th)

Artikel ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 19 Tahun 2016

- Advertisement -
Berita sebelumyaKeadaban Rimba Digital
Berita berikutnyaNabi Isa AS (1)
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles