22.6 C
Yogyakarta
Rabu, Agustus 5, 2020

Memandang Wabah Corona dari Aspek Teologis dan Sains

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Haedar Nashir: Revitalisasi Pancasila Jangan Sampai Mengulang Tragedi Masa Lalu

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Ada dua peristiwa yang membuat kita kembali mempertanyakan Pancasila: (1) pro-kontra Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila,...

MDMC Luwu Kembali Salurkan Bantuan, Tim Relawan Banjir Bandang Tetap Siaga

LUWU UTARA, Suara Muhammadiyah - Muhammadiyah Disaster Manajemen Center) atau Satgas Bencana Muhammadiyah Kabupaten Luwu tiba di Masamba, Kabupaten Luwu Utara di...

Silaturahim dengan PDM, Menko PMK Tinjau Lokasi Banjir Luwu Utara

LUWU UTARA, Suara Muhammadiyah - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia Dan Kebudayaan Prof Dr Muhajir Effendi, MAP tiba di Luwu Raya melalui...

Sayembara Business Plan Sociopreneur Cabang & Ranting Muhammadiyah 2020

Suara Muhammadiyah – Sayembara dengan total hadiah puluhan juta rupiah sudah mulai dibuka oleh Lembaga Pengembangan Cabang Ranting (LPCR) PP Muhammadiyah. Agenda...

Program Kemaslahatan, Lazismu Gorontalo berbagi Daging Qurban di 4 Wilayah

GORONTALO, Suara Muhammadiyah - Tema besar qurban tahun ini adalah qurban untuk ketahanan pangan, yang bertujuan untuk diberikan kepada fakir miskin dan...
- Advertisement -

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Terbatasnya nalar ilmiah umat Islam dalam memahami fenomena alam, berakibat pada respon umat Islam yang cenderung irrasional atau bertentangan dengan akal dan ilmu pengetahuan. Diantara mereka ada yang beranggapan bahwa wabah virus corona merupakan hasil konspirasi gerakan freemansory. Banyak juga yang menganggap wabah ini merupakan azab Tuhan untuk mereka yang berbuat kezhaliman. Mereka cenderung menolak saran ilmu pengetahuan khususnya ilmu kesehatan.

Dadang Kahmad, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah menjelaskan bahwa saat ini umat Islam tertinggal dalam bidang nalar, baik nalar akademik maupun nalar ilmiyah. Oleh karena itu sebagaimana yang dijelaskan dalam teori sosial agama, mereka masih berada dalam situasi teologis. Situasi ini adalah dimana orang dalam persoalan-persoalan hidup masih menggantungkan sepenuhnya kepada agama atau kepercayaan. Berbeda dengan orang-orang modern, mereka lebih cenderung memecahkan persoalan kehidupan dengan ilmu pengetahuan (sains).

“Oleh karena itu mengapa umat Islam dikebanyakan tempat selalu fatalis, pasrah, semuanya terserah Allah. Hal ini disebabkan karena keterbatasan nalar akademis dan nalar ilmiyah,” jelas Dadang, kepada Suara Muhammadiyah, Rabu (25/3).

Dadang menambahkan, ilmu pengetahuan di dunia Islam tidak berkembang dengan baik. Sehingga orang-orang Islam banyak bersandar kepada hal-hal yang bersifat teologis. Hal ini tentu berbeda dengan Muhammadiyah. Di samping teologis yang berdasar kepada Al-Qur’an dan Sunnah, Muhammadiyah juga menggunakan ilmu pengetahuan dalam melihat fenomena alam. Ilmu pengetahuan menempati nomor dua setelah Al-Qur’an dan Sunnah. “Muhammadiyah akan selalu berpegang kepada dua hal itu, pertama al-Qur’an-Sunnah dan yang kedua ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Muhammadiyah sejak berdirinya sudah mengenalkan pendekatan rasional disamping pendekatan teologis. Dalam setiap terjemahan dan tafsir terhadap teks al-Qur’an maupun Hadis, Muhammadiyah selalu menggunakan tiga pendekatan yaitu bayani, burhani dan irfani. “Pendekatan burhani dan bayani itu merupakan pendekatan ilmiyah, sedangkan irfani itu lebih kepada spiritualitas atau teologis,” pungkasnya.(Diko)

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles