31 C
Yogyakarta
Senin, November 30, 2020

Memandang Wabah Corona dari Aspek Teologis dan Sains

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Konsisten Majukan Pendidikan, Rektor UMSU Terima Penghargaan SPS

MEDAN, Suara Muhammadiyah – Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Dr Agussani, MAP menerima Penghargaan Sahabat Pers. Apresiasi diberikan Serikat Perusahaan Pers Surat Kabar (SPS) Cabang...

Berbagi Inspirasi, Tafakur Virtual Perguruan Muhammadiyah PK Kottabarat

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Puncak acara Tafakur Perguruan Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat dihelat di ruang pertemuan SMP Muhammadiyah PK Kottabarat Surakarta...

Belasan Kader ‘Aisyiyah Medan Dilatih Menjadi Wirausaha Baru

MEDAN, Suara Muhammadiyah  –  Sebanyak 14 Kader Aisyiyah Sumatera Utara mengikuti pelatihan bersama Dinas Perindustrian Kota Medan. Pelatihan membuat kue itu menjadi...

Ketum PBNU KH Said Aqil Positif Covid-19

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj dikabarkan positif Covid-19. Saat ini KH Said...

Hadirkan Dirjen Dikti, UMP Terus Perluas Kerjasama Internasional

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Banyumas, Jawa Tengah melalui Biro Urusan Internasional melaksanakan webinar yang bertajuk KUI Talk dengan...
- Advertisement -

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Terbatasnya nalar ilmiah umat Islam dalam memahami fenomena alam, berakibat pada respon umat Islam yang cenderung irrasional atau bertentangan dengan akal dan ilmu pengetahuan. Diantara mereka ada yang beranggapan bahwa wabah virus corona merupakan hasil konspirasi gerakan freemansory. Banyak juga yang menganggap wabah ini merupakan azab Tuhan untuk mereka yang berbuat kezhaliman. Mereka cenderung menolak saran ilmu pengetahuan khususnya ilmu kesehatan.

Dadang Kahmad, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah menjelaskan bahwa saat ini umat Islam tertinggal dalam bidang nalar, baik nalar akademik maupun nalar ilmiyah. Oleh karena itu sebagaimana yang dijelaskan dalam teori sosial agama, mereka masih berada dalam situasi teologis. Situasi ini adalah dimana orang dalam persoalan-persoalan hidup masih menggantungkan sepenuhnya kepada agama atau kepercayaan. Berbeda dengan orang-orang modern, mereka lebih cenderung memecahkan persoalan kehidupan dengan ilmu pengetahuan (sains).

“Oleh karena itu mengapa umat Islam dikebanyakan tempat selalu fatalis, pasrah, semuanya terserah Allah. Hal ini disebabkan karena keterbatasan nalar akademis dan nalar ilmiyah,” jelas Dadang, kepada Suara Muhammadiyah, Rabu (25/3).

Dadang menambahkan, ilmu pengetahuan di dunia Islam tidak berkembang dengan baik. Sehingga orang-orang Islam banyak bersandar kepada hal-hal yang bersifat teologis. Hal ini tentu berbeda dengan Muhammadiyah. Di samping teologis yang berdasar kepada Al-Qur’an dan Sunnah, Muhammadiyah juga menggunakan ilmu pengetahuan dalam melihat fenomena alam. Ilmu pengetahuan menempati nomor dua setelah Al-Qur’an dan Sunnah. “Muhammadiyah akan selalu berpegang kepada dua hal itu, pertama al-Qur’an-Sunnah dan yang kedua ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Muhammadiyah sejak berdirinya sudah mengenalkan pendekatan rasional disamping pendekatan teologis. Dalam setiap terjemahan dan tafsir terhadap teks al-Qur’an maupun Hadis, Muhammadiyah selalu menggunakan tiga pendekatan yaitu bayani, burhani dan irfani. “Pendekatan burhani dan bayani itu merupakan pendekatan ilmiyah, sedangkan irfani itu lebih kepada spiritualitas atau teologis,” pungkasnya.(Diko)

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles

- Advertisement -