21.8 C
Yogyakarta
Jumat, Agustus 7, 2020

Meretas Batas Pemikiran, Buku untuk Kader IMM

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

5 Korban Laka Air Goa Cemara Hilang, MDMC Sleman dan Kru AmbulanMu Tempel Bantu Pencarian

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Nasib naas menimpa Tn. Joko (38) warga Cemoro, Tempel, Sleman beserta keluarga. Niat semula ingin rekreasi bersama istri,...

Cek Fakta Misinformasi dan Disinformasi tentang Badan Hukum Muhammadiyah

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Beredar sebuah kutipan pesan yang mengatasnamakan Haedar Nashir. Belakangan tulisan tersebut ramai diperbincangkan warga Muhammadiyah baik melalui pesan...

Di UMP, Kemendikbud Paparkan Strategi Sukses Percepatan Jabatan Fungsional Akademik Dosen

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Direktur Sumber Daya Ditjen Dikti, Kemendikbud Dr Mohammad Sofwan Effendi, MEd memaparkan strategi sukses kenaikan Jabatan Fungsional, Lektor...

K2MI Muhammadiyah Latih Guru Madrasah Handal Membuat Media Pembelajaran

KULON PROGO, Suara Muhammadiyah – Semakin berkembanganya tehnologi saat ini merambah pada setiap bidang, termasuk dalam bidang pendidikan. Sebagai pejuang di bidang...

Prestasi Unismuh Makassar Jangan Sampai Menurun

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Meskipun didera pandemi Covid-19, Unismuh Makassar terus berkiprah mengukir prestasi yang membanggakan. Diantaranya Prestasi yang diraih adalah 12...
- Advertisement -

Oleh: Muh Akmal Ahsan

Alhamdulillahirabbilalamiin. Ditengah wabah yang meluas ini, telah diterbitkan buku bertajuk “Meretas Batas Pemikiran: Sebuah Upaya Pengilmuan IMM” Karya kader IMM Yogyakarta, Muh. Akmal Ahsan. Buku tersebut dipersembahkan untuk Ikatan Mahasiswa yang hingga kini telah menginjak usia 56 tahun. Dalam kata pengantarnya, penulis menuturkan alasan mengapa buku ini dilahirkan:

Pertama, tantangan gerakan IMM di masa datang bukan tantangan yang sepele, lebih-lebih modernitas yang bersifat reduktif berpotensi menjadi badai yang sekejab datang mampu menggerus nilai-nilai ikatan. Dalam dari itu, persaingan global yang pragmatis adalah kekuatan yang hegemonik dan bilamana IMM tak dapat membaca keadaan dan merubah bisa mungkin ia akan menjadi korban keadaan, tidak sebagaimana peran sosialnya sebagai agen of change.

Kedua, perlunya untuk menjadikan nilai-nilai IMM sebagai ilmu yang objektif namun bukan berarti bebas nilai, ia berpihak namun tak netral, lebih dari itu IMM mesti tetap memiliki keberpihakan kepada kaum miskin, kaum tertindas dan masyarakat yang dibuat bodoh oleh struktur yang dibentuk. Jalan terang ini hanya dapat dilalui dengan ‘menaiklevelkan’ nilai dan ideologi IMM sebagai ilmu dan tentunya untuk membantu prosesi dan orientasi gerakan sosial Ikatan.

Ketiga, nilai-nilai yang dianut oleh IMM masih berjalan terpisah secara diametral. Problem ini hanya menjadikan para pimpinan mengalami jalan buntu kala hendak membumikan nilai-nilai gerakan. Dalam kepentingan itulah maka sangat diperlukan integralisasi nilai-nilai dan dengannya pula dibutuhkan jalan keilmuan sebagai daya intelektual untuk menafsirkan sekaligus mengharmonisasikan nilai-nilai Ikatan.

Keempat, kepentingan regenerasi yang begitu besar bertemu dengan kehadiran generasi Z dan generasi Alpha. Di masa mendatang, IMM menghadapi Mahasiswa dan Masyarakat yang telah dibentuk oleh internet atau e-generation, lebih luas menjadi generasi yang individual. Ini adalah dunia yang penuh tantangan untuk IMM, khususnya dalam menjaga solidaritas ummat, masyarakat dan bangsa ditengah kepungan paradigma individualistik.

Ketika penulis menyelesaikan tulisan ini, baru saja telah dihabiskan masa kepemipinannya di PC IMM AR. Fakhrudin Periode 2018/2019. Menuju empat tahun masa ber-IMM, penulis hendak meninggalkan jejak karya, tentu bukan sekadar penghias mata, lebih dalam, sungguh sangat diharapkan catatan ini tersebar diseluruh pelosok negeri, menjadi diskurus, dibaca, dikritisi dan tentu diberi sintesis-reflektif. Hanya dengan demikian, diskursus persoalan IMM tetap menggelar dalam dinamika gerakan, dengannya kita berharap timbul gagasan, wacana dan gerakan yang dapat dilakukan oleh IMM di masa-masa mendatang.

Maka karya tulis ini diharapakan dapat terbaca oleh kader IMM, mengkaji, mengkritik dan melahirkan narasi-narasi besar di masa-masa datang.

Sinopsis:

Di hari-hari mendatang, IMM mendapatkan tantangan yang sangat besar, ini tidak saja pada pembuktian karya materil, namun jua menyangkut sejauh mana nila, prinsip dan ideologi IMM masih dapat bertahan dan dimaknai oleh kader. Penulis mencatat pada salah satu bagian buku ini:

“agar tidak fatal dalam fakta, kita harus tetap berupata dan bersabar dalam membesarkan teori/pemikiran, menarasikan sekaligus menawarkannya dalam bentuk implementasi. Tanoanya, fakta adalah kesalahan yang diamnikan, kejahatan yang direstui”

Buku ini merupakan bagian dari ikhtiar pemaknaan kepada IMM, tentu bukan untuk menutup tafsir lain bagi tubuh dan ruh Ikatan ini. kami harap para kader IMM selalu terus mereproduksi pemaknaan dan pemikiran kepada Ikatan, selain daripada terus membumikan wacana dalam praktik kehidupan persyarikatan, ummat dan bangsa. Jalan terang yang dapat dilalui adalah dengan tetap terus secara ikhlas berada dalam garis utama IMM.

Jayalah IMM!

Idenitatas Buku

Buku dengan judul “Meretas Batas Pemikiran: Sebuah Upaya Pengilmuan IMM” ini adalah karya tulis ilmiah dari kader IMM Yogyakarta, Muh. Akmal Ahsan. Buku tersebut diterbitkan oleh penerbit Litera bekerjasama dengan MIM Indigenous School, Madrasah Digital, dan PC IMM AR Fakhrudin Kota Yogyakarta. Buku degan ketebalan 197 halaman ini akan terus diproduksi sesuai dengan minat dan perkembangan pemikiran IMM.

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles