Apa yang Coronavirus Katakan pada Kita

Ilustrasi Dok Axios

Oleh: Edgar Morin

“Krisis baru ini, sekali lagi, menyingkap saling-ketergantungan kita. Jawabannya, tidak lain, adalah solidaritas dan bersifat global”.

Ia muncul pertama kali dari sebuah kota tak dikenal di China yang sangat jauh. Segera, pendapat manusia terbelah dalam pro-kontra, termasuk Menteri Kesehatan Perancis, yang meyakinkan kita semua bahwa virus ini tidak akan pernah sampai di negara kita. Dan lalu virus itu menemukan jalannya sendiri dari tangan ke tangan, dari nafas ke nafas, mengambil rute kapal laut, pesawat terbang, kemudian berjalan menyusuri daratan, dari air ludah bersin kita. Ia masuk diam-diam, ke mana-mana, di Lombardie (Italia), di Oise (Perancis), dan menyebar di Eropa. Kontaminasi telah terjadi secara gemilang. Peringatan wabah telah diserukan.

Masalah pertama, tentu saja, berkaitan dengan kesehatan. Rumah sakit Perancis— korban dari pemangkasan kebijakan ekonomi menjadi kewalahan, dan virus ini memperburuk krisis rumah sakit. Obat masih belum ditemukan, vaksin juga belum ada. Pernyataan para dokter saling bertabrakan, yang satu mengingatkan adanya bahaya besar, yang lain memprediksi lemahnya tingkat kematian akibat virus ini.

Pemerintah mengambil tindakan perlindungan yang hanya bisa mengisolasi sebagian saja, yakni hanya orang yang sakit atau mereka yang rawan terkontaminasi.

Tindakan pencegahan yang dilakukan hampir di seluruh dunia memukul sekolah-sekolah dan pertemuan-pertemuan, mengerem laju perniagaan, melumpuhkan kargo dan kapal penumpang, membatasi perjalanan internasional, memblokir produk ekspor perusahaan dari Cina, khususnya obat-obatan, mengurangi konsumsi bahan bakar, memicu krisis antara negara kaya minyak, memicu penurunan pasar saham, dan mulai menyebabkan krisis ekonomi global yang sudah lama terderegulasi sebelumnya.

Bahkan, virus ini membawa serta krisis global baru ke dalam krisis kemanusaian global di jaman globalisasi ini. Tetapi, persoalan kompleks ini di mana-mana tetap dibahas secara terpisah. Setiap negara menutup negaranya sendiri; PBB tidak menawarkan aliansi apapun yang bisa dilakukan oleh negara-negara di seluruh dunia. Apakah kita harus membayar ketidaksadaran yang meluas dan kesembronoan kebijakan ini dengan jumlah korban yang bertambah terus? Namun, virus ini mengungkapkan kepada kita apa yang tersembunyi dalam kebijakan yang terpisah-pisah sebagai hasil dari sistem pendidikan kita, yakni pikiran dominan di antara para elit teknokrat-ekonomi-keuangan: kompleksitas dunia manusia dalam ketergantungan dan solidaritas kesehatan, ekonomi, sosial, manusia, dan global. Saling ketergantungan ini diwujudkan dalam interaksi dan aksi yang tak terhitung jumlahnya antara berbagai komponen masyarakat dan individu. Dengan demikian, gangguan ekonomi yang disebabkan oleh epidemi ini justeru turut mempromosikan penyebaran interdependensi dan solidaritas tersebut.

Baca Juga:   Muhammadiyah dan Big Data

Virus ini juga menunjukkan kepada kita bahwa saling ketergantungan itu harus memicu solidaritas kemanusiaan dalam sebuah kesadaran komunitas bersama. Virus ini juga mengungkapkan pada kita apa yang saya sebut “ekologi aksi” : namun sebuah aksi yang tidak patuh pada niat, ia akan dibelokkan dan dialihkan dari niat awalnya dan lalu menjadi bumerang yang dapat menyerang orang yang melemparnya itu. Ini seperti apa yang dikatakan oleh profesor Eric Caumes dari Rumah Sakit Pitié-Salpêtrière : “Pada akhirnya, reaksi dari politisi pada virus yang tengah merajelela inilah yang akan mendorong terjadinya krisis ekonomi global…… dengan kondisi ekologi yang baik”. Sebuah kompleksitas yang sangat paradoks : kehancuran ekonomi mungkin dapat melahirkan kondisi ekologis yang lebih baik. Berapa harganya ? Sementara itu, ketika virus ini tetap membuat kita sakit, sesungguhnya Coronavirus itu menyampaikan kebenaran sejati pada kita.

Diterjemahkan dari koran berbahasa Perancis, Liberation (12/03/20), oleh Andar Nubowo –Mahasiswa S3 Ecole Normale Superieure (ENS) Perancis.

Edgar Morin, Sosiolog dan Filosof Perancis

Sumber: liberation.fr

LEAVE A REPLY

Pl