Sup Jagung Buatan Umi (Belajar Menulis di Masa Pandemi)

Oleh Sucipto Jumantara & Unik Rasyidah

Akhir pekan ini terasa tidak ada bedanya dengan hari–hari sebelumnya. Masa pandemi memaksa kami tetap di rumah saja. Hanya merasakan bebas dari kesibukan mendampingi anak-anak mengerjakan tugas dari guru. Bagaimanapun kami ingin waktu tinggal di rumah tetap bermakna bagi anak-anak. Apalagi sudah lama tak mengajak mereka menambah pengalaman dan mencari inspirasi dengan berjalan-jalan. Namun kami sadar mengajak pergi keluar untuk jalan-jalan sebisa mungkin dihindari demi memotong mata rantai penyebaran covid-19.

Teringat bulan Desember 2019 lalu. Waktu itu Ayah niat banget mengajak anak-anak berwisata ke goa Gong. Dari Jogja pagi hari, berangkat melewati jalanan Gunung kidul yang berliku dan naik turun. Anak kami yang pertama diarahkan untuk melawan kebiasaan main hape selama perjalanan. Diganti dengan melihat pemandangan di kanan kiri di sepanjang jalan yang dilalui.
“Apa yang kamu lihat Kak?” tanya Ayah
“Aku melihat pohon-pohon.”
“Lalu, apa lagi?”
“Aku melihat sawah”
“Sawahnya ditanami apa Kak?”
“Ada padi dan ketela pohon. Lihat itu Yah, ada bukit dan bebatuan, putih kehitaman warnanya.”

Ayah melatih Zelda, anak pertama kami agar terbiasa merekam kejadian yang dialami menggunakan inderanya sehingga bisa menjadi ide yang bagus untuk menulis nantinya.

Setelah seharian berkunjung ke goa Gong yang terletak di Pacitan Jawa Timur itu, sore harinya langsung kami pulang ke Jogja.

Esok hari Ayah mengondisikan agar proses berikutnya terlaksana. Waktunya Zelda menuliskan apa yang dia lihat dan rasakan selama berwisata kemarin. Pagi hari diniatkan untuk berkarya. Membawa buku tulis dan pensil. Menuangkan idenya. Didampingi Ayah berproses kreatif. Sembari makan pagi di Warung Soto kesukaannya di daerah Nitiprayan. Sebelum soto datang ia sempatkan menyiapkan buku tulis. Ayah menulis beberapa kosa kata untuk membantunya mencipta kalimat. Setelah selesai makan soto, tangannya menggenggam pensil dan mulai menari-nari di atas buku bergaris. Merangkai kata sambil mengingat perjalanan ke goa Gong yang ia alami.

Baca Juga:   Cegah Covid-19, SMK Famuba Ciptakan Handsanitezer Herbal

Selesai di warung itu tulisan belum jadi. Ayah mengajaknya ke rumah Pakde. Ia dan adiknya suka pergi kesana karena ada kucing yang ia cintai di rumah itu. Sembari bermain dengan binatang piaraan itu, ia melanjutnya menulis cerita hingga tamat.

Alhamdulillah jadilah puisi dan cerita pertama, berkisah tentang berlibur ke goa Gong dimuat di mediamu.id pada tanggal 1 Januari 2020.

Dalam tulisannya ia mampu mendeskripsikan jalanan menuju goa Gong, suasana di dalamnya dan kesannya berwisata ke goa yang indah itu dengan beberapa kosa kata baru yang ia dapatkan selama perjalanan.

Di lain hari, formula yang sama diterapkan. Memperkaya pengalaman dengan mengajaknya berjalan-jalan, di pegunungan, di persawahan, di rumah saudara, di tempat wisata, di desa dan di kota. Mengamati lingkungan dengan penglihatan, merekam pemandangan dan kejadian di hadapannya. Mendengar cuitan burung dan suara binatang lainnya. Mendengar deru motor yang bising. Merasakan sengatan sinar mentari. Juga mengajaknya ke lingkungan kerja Ayah dan Umi. Dengan harapan memperkaya pengalaman dan diantara bisa menjadi bahan untuk ditulis. Entah itu puisi ataupun cerita. Walaupun belum tentu bisa jadi tulisan yang utuh. Karena kadang suasana hati tidak mendukung. Atau kurang ada minat ketika ada hal yang lebih menarik untuk dilakukan dan alasan teknis lainnya. Misalnya bermain. Maka tidak bisa memaksanya untuk menulis.


Hari ini masih belajar di rumah. Karena wabah korona. Stay at home. Study from home.

Sabtu sore. Tak ada tugas dari guru. Di depan Ayah ada lembaran Rp. 10.000,00. Ayah mendekati Zelda yang sedang menghabiskan sup buatan Umi. Dengan bangga anak ini mengatakan.

“Udah kuhabiskan Yah, supnya.” Unjuknya bangga.
“Wah. Alhamdulillah. Hebat. Tapi kok Ayah gak dibagiin?” Kata Ayah bercanda.
“Alhamdulillah. Masakan Umi habis.” Kata Umi menyela.
“Kak, ini Ayah punya duit. Mau?” Ayah membuat anak sulungnya penasaran. “Kalau mau, Ayah ada tantangan. Buat tulisan ya. Gimana? Tentang sup jagung buatan Umi.”
“Cuma itu aja Yah? Mudah banget.”
“Iyalah. Ayah tunggu ya.”
Zelda segera mencari alat tulis.
“Tadi belanja apa saja Mi di pasar? Bahannya apa saja untuk buat sup?”
Umi menyebutkan bahan-bahan dan bumbu untuk membuat sup jagung.

Baca Juga:   Saling Menasihati Tanpa Menyalahkan

Kami sadar perlu ada hal-hal yang spesial apalagi saat liburan agar anak tetap mendapatkan pengalaman, ilmu dan gagasan untuknya belajar menulis meski hanya berada di rumah.

Selama 30 menit ia berproses kreatif didampingi Umi yang batu saja memasak sup jagung. Disela-sela menulisnya Adiknya kadang mengajaknya bermain. Tak lama sebuah tulisan berjudul “Sup Jagung Buatan Umi” selesai.
“Sudah jadi Yah, tulisannya. Baca dulu ya. Bayar nanti setelah baca.”
“Siap. Mana tulisannya?”
Sebuah karya seharga Rp.10.000,00 tentang sup buatan Umi ditulis seorang gadis kecil yang hatinya sedang gelisah. Ia bertanya kapan bisa bertemu teman-teman sekolah lagi. Dengan perasaan penuh rindu ia panjatkan doa kepada Tuhan di tengah guyuran hujan menjelang petang. Semoga wabah korona segera sirna. 4 April 2020

Sucipto Jumantara & Unik Rasyidah, Pegiat Pendidikan, tinggal di Bantul DIY