Konsep Kafir Ashgar Ali Engineer tentang Covid-19 di Indonesia

Ashgar Ali Engineer
Mengkafirkan Ilustrasi Dok Columbia Edu

Konsep Kafir Ashgar Ali Engineer tentang Covid-19 di Indonesia

Oleh: Faiz Amanatullah

Nama Ashgar Ali Engineer tentunya sudah tidak asing lagi di telinga para aktivis mahasiswa yang tergabung dalam organisasi pergerakan Islam seperti HMI, KAMMI, IMM dan PMII. Ashgar Ali Engineer memang dikenal sebagai seorang penulis, reformis sekaligus aktivis sosial di India yang terkenal dengan konsentrasi beliau dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan egaliter. Ia pun diakui sebagai sarjana Muslim terkemuka di Dunia setelah mengeluarkan karyanya yang tak kalah pelik dengan keadaan India pada saat itu, yaitu tentang kekerasan komunal dan komunalisme di India sejak munculnya konflik besar di Jabalpur, India, pada tahun 1961.

Prinsip Teologi Pembebasan

Penulis sendiri awal mengenal beliau ketika membaca bukunya yang berjudul “Islam & Teologi Pembebasan”. Gagasan terkait dengan teologi pembebasan yang ditawarkan oleh beliau memang menarik disamping hal itu juga baru penulis dengar selama menyelami ajaran agama Islam.

Perihal manusia dalam beragama tentunya akan mempelajari teologi -dalam islam dikenal dengan aqidah- dalam agamanya. Hal ini bertujuan untuk memperkokoh pendirian setiap insan agar senantiasa merasakan manisnya iman dan tidak mudah dipengaruhi oleh doktrin peradaban yang senantiasa berubah. Jarang kita sadari, sebenarnya perdebatan teologi itu sudah ada sejak Nabi Muhammad saw. wafat, lalu puncak dari perdebatan itu terjadi di masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, yaitu dengan munculnya berbagai aliran teologi dalam Islam, seperti Khawarij dan Syi’ah, yang setelahnya disusul dengan munculnya aliran Muktazilah, Khawarij Asy’ariyah dan Murjiah.

Gagasan teologi pembebasan yang diusung oleh penulis kelahiran India tersebut sangat menintikberatkan terhadap aspek praksis dibandingkan dengan teoritisasi-metafisis yang mengandung hal-hal yang abstrak dan ambigu, muaranya hanya sekedar wacana. Praksis dalam artian umum adalah pengaplikasian dalam aspek kehidupan, namun praksis disini mempunyai makna yang mendalam, yaitu bersifat liberatif (membebaskan) dan menyangkut interaksi dialektis antara “apa yang ada” dan “apa yang seharusnya”. Menurutnya Islam datang untuk memberdayakan masyarakat yang tertindas juga untuk merunah status quo yang merugikan suatu kelompok. Singkatnya, seseorang belum dapat dikatakan sebagai seorang muslim walupun dia  melaksanakan ibadah ritual jika dia masih menindas dan mengeksploitasi hal lainnya. Menurut Misbachol Munir, setidaknya terdapat lima aspek dalam teologi pembebasan Asgar Ali Engineer: kemerdekaan, persamaan, keadilan sosial, kerakyatan dan tauhid.

Ia memiliki pandangan tersebut berdasar pada hadis Nabi saw. yang mana Nabi saw. menyamakan kemiskinan dengan kufur. Sehingga, kewajiban untuk menghapuskan kemiskinan sama halnya dengan menghapuskan kekufuran dan menurutnya adalah sebagai syarat untuk bisa dikatakan sebagai masyarakat Islam. Maka dipastikan proyek teologi pembebasan Asghar adalah untuk membebaskan kaum tertindas dari sekelompok penindas yang keji dan zalim. Jihad yang utama dalam Islam menurutnya adalah melindungi kaum tertindas dan lemah untuk bertahan dari bahaya musuh. Manusia beragama yang sesungguhnya adalah mereka yang tidak hanya mampu membaca realitas, namun bisa juga menumpas struktur sosial yang tidak adil, kemudian mengerahkan dirinya untuk menciptakan keadilan, kedamaian, pembebasan konflik dan serta menghilangkan sekelompok orang yang acapkali menimbun kekayaan yang berdampak pada kemeralatan masyarakat lain.

Baca Juga:   Tentang Istilah Kepentingan Umum

Secara tegas Allah SWT telah memperingati dalam Al-Qur’an kepada saudgar-saudagar kaya yang seringkali menimbun harta mereka untuk kepentingan pribadi, serta diiringi oleh dorongan nafsu untuk memiliki segala hal yang ada di Dunia yang berujung pada penindasan. Allah menyebutka golongan orang yang suka menimbun harta disamakan dengan orang yang menyalakan api di hatinya sehingga membakar dirinya sendiri. Allah berfirman dalam surat Al-Humazah [104]: 6-8:

Artinya: “(yaitu) api (azab) Allah yang dinyalakan (6), yang (membakar) sampai ke hati (7), sungguh, api itu ditutup rapat atas (diri) mereka (8)”.

Namun penumpukan harta disini jangan sampai diartikan bahwa Islam mengajarkan masyarakat agar menegasikan urusan dunia. Islam justru sangat menganjurkan bahkan dihukumkan wajib untuk mencari nafkah sebagai alat untuk penghidupan dan merasakan rezeki yang diberikan Allah SWT. Bahkan Islam juga menganjurkan kita untuk kaya harta yang dimaksudkan untuk memberikan manfaat kepada yang membutuhkan, bukan menimbun untuk hasrat pribadi. Janganlah bercita-cita berpenghasilan 500 juta, tetapi bercita-citalah agar punya zakat 500 juta.

Penimbunan masker yang dilakukan segelintir orang ditengah adanya wabah Covid-19, merupakan perbuatan yang sadar atau tidak disadari, tindakan tersebut dapat memunculkan adanya nilai-nilai penindasan terhadap orang banyak. Bayangkan saja, harga masker N 95 yang semula seharga Rp. 20.000 per buah, kini melonak drastis menjadi Rp. 3.000.000 per 10 buah.

Tentu dengan adanya sikap egois dari masyarakat seperti ini dapat merusak keseimbangan ekonomi nasional. Tepat pada 29 Maret 2020, Harian Jogja –media massa jogja- memberitakan dengan headline “ODP Corona Sudah Tembus 464, Kecamatan Depok Harus Diwaspadai”. Himbauan dari mayoritas pemerintah daerah sudah jelas mengafirmasi bahwa kegiatan keluar kota atau lumrahnya disebut dengan mudik agar tidak dilakukan, berhubung tindakan ini sebagai cara preventif agar virus tidak menyebar.

Dalam kasus Yogyakarta –tempat saya kuliah- kenaikan jumlah ODP sangat membludak karena kedatangan “pemudik” dari Jakarta ditambah lagi dengan kedatangan para pemudik dari Bandara, pemerintah setempat pun langsung menetapkan pemudik tersebut dengan status ODP. Ditambah lagi dengan isu pasar tradisional akan ditutup, muaranya banyak sekali warga yang khawatir untuk pergi ke pasar sehingga membanjiri pasar tradisional yang dimaksud untuk membeli atau memborong makanan untuk stok beberapa bulan kedepan. Maka jangan heran bila bercampurnya warga lokal dan pemudik dengan status ODP dalam satu pasar karena “Panic Buying”.