30 C
Yogyakarta
Senin, Agustus 3, 2020

Menjadi Immawati Milenial

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

IAIN Kudus Gandeng MTs Al-Mu’min dalam KKL Online

IAIN Kudus Gandeng MTs Al-Mu’min dalam KKL Online

Muhammadiyah Tegaskan Tak Ikut POP Kemendikbud

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Muhammadiyah menegaskan tak mengikuti Program Organisasi Penggerak (POP) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Mendikbud memang sempat menyampaikan permintaan agar...

Qurban Masa Pandemi, Lazismu Grobogan Himpun Qurban Hingga 847 Juta

GROBOGAN, Suara Muhammadiyah - Lembaga Amal Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) Kabupaten Grobogan berhasil menghimpun puluhan hewan qurban pada Idul Adha...

Kawal Kebijakan Pemerintah AMM Wonosobo Bertandang ke DPRD

WONOSOBO, Suara Muhammadiyah - Sejumlah perwakilan dari Angkatan Muda muhmaadiyah (AMM) Wonosobo adakan audiensi bersama Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Wonosobo....

Dikemas Ramah Lingkungan, BPKH Salurkan 50 Ekor Sapi Lewat Kurban Ketahanan Pangan Lazismu

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – LAZISMU. Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) bersama mitra program kemaslahatan di hari raya Idul Adha menyalurkan 50 hewan...
- Advertisement -

Oleh: Tati

Tulisan ini cocok untuk kamu yang belum merasa milenial atau sudah merasa milenial tapi masih mempertanyakan, saya ini sudah milenial belum?

Bagi sebagian, kata milenial adalah sesuatu yang tidak perlu diperdebatkan, tidak perlu dibahas, sebab hakikat dan pemaknaan milenial itu sendiri masih simpang siur, dan bahkan ada penolakan bahwa tidak harus mengikuti arus milenial, tapi kita yang menciptakan arus untuk mereka.

Pada dasarnya setiap dari kita tidak dapat memaksakan persepsi orang untuk dapat sama antara yang satu dengan yang lainnya, baik karena factor bacaannya, lingkungannya maupu teman-temannya. Namun demikian, fungsi narasi itu untuk penyamaan persepsi dan keteraturan.

Kemudian, apa sih sebenarnya makna milenial itu sendiri? Sederhananya, milenial adalah sapaan akrab anak muda hari ini yang lekat dengan era kekinian. Kalau teman-teman download di inventure.id soal modul milenial itu maknanya sudah cukup luas, definisi milenial dituliskan dalam15 Millennials Big Trends to Watch in 2018 (and Beyond). Namun itu dirilis tahun 2018, ke 15 definisi tersebut bisa saja berubah sesuai dengan perkembangan trend kekinian.

Faktanya hari ini sudah banyak Non Government Organization (NGO) yang meratifikasi kata milenial untuk kegiatannya. Misalnya muslim.milenial, rumah.milenial. Ada juga istilah-istilah baru yang sudah mulai kita dengar, mamah milenial, nenek milenial, bayi milenial, baju milenial, dan lain sebagainya.

Akhirnya, penggunaan kata milenial menjadi latah dan bias, namun itu bukan berarti negatif, apabila penggunaannya untuk perorganisiran, kegiatan sosial, edukasi anak muda, dan kampanye-kampanye positif lainnya.

Ada dua jenis tipikal milenial, Pertama menggunakan kata milenial dan yang kedua tidak. Keduanya bernuansa milenial, baik dalam bentuk ungkapan, pernyataan, tulisan, sapaan? Asalkan memiliki unsur kedekatan dengan anak muda, baik bahasa, caption, hingga konten kreatif.

Terus, yang disebut immawati itu siapa? Immawati itu kumpulan putri di organisasi anak muda nya Muhammadiyah, yaitu organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Pointnya adalah anak muda.

Kalau Muhammadiyah itu salah satu organisasi Islam di Indonesia, dikenal dengan gagasan Islam ke Indonesiannya. Islam berkemajuan, dan Islam yang mencerahkan. Di Muhammadiyah, Islam dipelajari secara gembira. Tokoh kebangsaan Muhammadiyah itu Soekarno, Ahmad Syafii Maarif, Din Syamsudin, Haedar Nasir, dan masih banyak lagi.

Nah kalau IMM itu salah satu dari organisasinya anak Muda Muhammadiyah, mereka hobbynya mengadakan pengajian, kegiatan sosial, dan aktif di berbagai kepenulisan.

Jadi, immawati ini sangat layak untuk milenial, sebab immawati adalah anak muda yang paham isu keislaman sekaligus terbiasa dengan kegiatan kemanusiaan.

Jadi, perlu ya menjadi Milenial? Nah menurut kamu bagaimana? Melihat hari ini arus informasi semakin tak terbendung, sehingga tidak semuanya mampu melihat kebeneran, tidak semua dapat memahami tindakannya. Kalau dirasa perlu untuk tujuan berfastabiqul khairat, maka lakukanlah.

Lalu, bagaimana konsep Milenial menurut immawati?Immawati memaknai milenial sebagai pendekatan. Pendekatan ini digunakan untuk menyingkronkan gerakannya, gerakan yang dimaksud tentunya berasaskan pada nilai-nilai kaidah organisasi. Namun dilakukan secara luwes sehingga dapat diterjemahkan di era kekinian.

Pendekatan ini juga diterjemahkan kedalam kreatifitas dan inovatif untuk menarik anak muda sekaligus masyarakat di sekelilingnya.

Bagaimana untuk lebih dekat dengan milenial?Pertama ada kemauan. Kemauan ini dimaknai banyak hal, misalnya kemauan untuk memahami fenomena anak muda hari ini, kemauan untuk meng-upgrade diri, kemauan untuk belajar dari pengalaman tokoh-tokoh milenial, kemauan untuk memulai bergaul dan kemuan membaca. Immawati itu identik dengan dialog intelektual.

Kedua, memiliki spirit dan optimisme. Ini sangat sederhana, tapi masih belum dilakukan secara konsisten oleh anak muda. Padahal kalau kita semangat, orang-orang yang berada di sekeliling kita juga semangat, sedangkan optimis membentuk pola berpikir yang positif. Sikap optimis ini mempengaruhi anak muda dalam memecahkan masalah dan membuat keputusan.

Ketiga, membangun karakter. Ini disesuaikan dengan bakat dan potensi kamu, kalau lokus studimu soal tafsir, maka buatlah kategori-kategori edukasi tafsir dengan penyampaian yang dekat dengan milenial, gunakan bahasa yang ringan agar dapat dipahami semua orang. Banyak tokoh-tokoh milenial yang banyak pengikutnya dengan penggunaan bahasa ringan dan konten motivasi.

Kalau karakter immawati itu responsif, kekinian, berbahasa ringan tapi bersubstansi. Contohnya kalau immawati biasanya fokus pada isu gender, isu-isu perempuan, juga isu-isu sosial. Tapi ini boleh diterjemahkan sesuai dengan karakter kewilayahan dan isu kekinian

Langkah konkrit untuk memulainya bagaimana? Luruskan niat untuk kebermanfaatan, jadilah berani, dan percaya diri. Jangan lupa banyak membaca dan bergaul juga.

Tati, Kabid Immawati DPD IMM DIY.

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles