Keajaiban di Pemakaman Ma’la

Mengenang Almarhumah Naimas Dahlan Dok Istimewa

Deni al Asyari

Saat makan siang hari ini, dengan lauk khas rumahan di Bukittinggi, tiba-tiba seperti terngiang ada suara yang sedang menyapa, “Enak sekali makannya…”? Mengingat suara itu, saya sangat kaget dan langsung terbayang suara yang menyapa adalah suara khas ibunda kami, Almh Naimas Dahlan.

Memang saat awal makan, sempat terbayang wajah ibunda, teringat saat 15 tahun yang lalu, saat makan siang bersama, apalagi melihat lauk yang terhidang. Walaupun hampir setiap hari, sering sekali terbayang-bayang wajah beliau, namun saat makan ini, sangat terasa, beliau tidak hanya melihat, namun juga menyapa.

Setelah berhayal dan mengingat berbagai memori silam bersama almarhumah, teringat kalau hari ini, adalah tanggal 12 April. Tepatnya 7 tahun kepergian ibunda kami Naimas Dahlan kepangkuan Allah Swt, sejak 12 April 2013 beliau meninggal di area Masjidil Haram, Makkah Al Mukarramah.

Tentu banyak kenangan yang sulit terlupakan sejak kecil hingga kepergian beliau, terutama dalam mencari nafkah di kampung halaman. Barangkali semua kita memiliki cerita yang beragam, baik susah maupun senang bersama orang tua. Namun kali ini, saya ingin menceritakan sesuatu yang belum pernah saya tuliskan, yaitu rahmat Allah swt kepada saya dalam menemukan makam almarhumah ibunda.

______

Setelah 1 bulan kepergian ibunda di Makkah al Mukarramah, mentalitas, semangat dan pikiran saya, sangat kacau dan down. Bahkan jika saya tidak berangkat ke Makkah setelah 1 bulan kepergian ibu, saya tidak tahu apa yang akan saya alami pada saat itu. 

Namun alhamdulillah, setelah 1 bulan ibunda dimakamkan di Makkah, saya diajak rombongan paman saya (Om Dasrizal) ikut serta ke Makkah. Setidaknya saat itu, ada 8 orang rombongan kami yang berangkat ke Makkah, selain keluarga paman, juga ada kakak ibunda saya, (Saya memanggil beliau Ibu Ani), dan almarhum ayah saya, Aswir. Walaupun pada saat itu, saya hampir tidak jadi berangkat, karena almarhum ayah saya, dalam kondisi sakit strok, sehingga untuk beraktivitas harus dibantu kursi roda. Namun alhamdulillah, setelah berkali-kali membujuk beliau, akhirnya beliaupun mau ikut, bersama kami. (tentu beliau berangkat tetap menggunakan kursi roda)

Baca Juga:   Totalitas Melawan Covid-19

Keberangkatan saya ke Makkah ini, merupakan keberangkatan yang pertama. Walaupun semua rombongan yang berangkat bertujuan umroh, namun saya pada saat itu, tidak terlalu fokus untuk melaksanakan ibadah umroh, yang ada dalam pikiran saya sejak awal berangkat hingga sampai disana, adalah bertemu dengan ibunda atau makam beliau.

Sejak hari pertama di Makkah ( setelah 4 hari di Madinah ),  saya langsung mengajak ayah dan rombongan paman saya ke pemakaman Ma’la. Tujuannya, tentu untuk mengetahui dimana makam ibunda saya. Namun setiap area pemakaman yang ditelusuri, tidak satupun yang menyentuh hati saya. Seperti tidak ada tanda kalau pemakaman tersebut adalah pemakaman ibunda. Walaupun saya sudah mencari tahu, dengan para petugas makam, tentang lokasi-lokasi pemakaman jamaah umroh yang meninggal pada bulan April 2013.

Wal hasil, sampai saya dan rombongan kembali ke hotel, saya seperti belum puas, namun demikian, saya tetap sudah merasa senang, karena sudah menginjakkan kaki di pemakaman Ma’la. Paling tidak, dalam pikiran saya saat itu, ibunda pasti mengerti dan senang kalau saya telah datang ke sini, sesuai komunikasi beliau terakhir dengan saya, saat almarhumah berada di Jabbal Rahmah. Agar dalam waktu dekat, saya bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci.

Sejak hari pertama di Makkah sampai hari kelima, saya secara rutin berziarah ke pemakaman Ma’la, walaupun, saya tidak tahu persis dimana tepatnya makam ibunda Naimas Dahlan. Namun pikiran saya saat itu, yang jelas, ibunda saya ada di komplek pemakaman ini.

Karena memang pemakaman Ma’la, selain memiliki area yang sangat luas di perbukitan Hajjun, juga bentuk pemakamam di Ma’la hanya ditandai dengan batu nisan kecil dan gundukan pasir. Disana tidak terdapat nama, waktu, dan identitas lainnya. Sehingga semua jenis makam di Ma’la sama. Kecuali makam keluarga Rasulullah Saw seperti Siti Khadijah dan paman serta kakeknya, yang dikhususkan areanya dengan ditandai pagar yang melingkari area pemakaman keluarga Rasulullah Saw.

Baca Juga:   Perwakilan Maladewa Belajar ke Muhammadiyah

Namun esok harinya, yaitu hari terakhir saya menginjakkan kaki di Makkah, karena besoknya harus kembali ke tanah air. Saya menemukan dan merasakan yang berbeda. Sesuai dengan permintaan serta doa yang terus saya ulang-ulang, (( Ya Allah, kami sadar bahwa kami adalah hamba yang penuh dosa dan yang belum pantas untuk diijabah permintaannya, namun kami juga sadar, bahwa rumah ini — masjidil Haram — dan tanah ini — Makkah Al Mukarramah –, adalah rumah & tanah yang penuh keajaiban atas Kuasa Mu. Engkau pernah turunkan keajaiban dengan menaklukkan pasukan bergajah tanpa tentara, dan engkau pernah semburkan Air Zamzam di atas bukit tandus antara Safa & Marwa. Maka atas KuasaMu, hamba memohon untuk diberikan pertolongan dan keajaiban di tanah ini, agar hamba bisa melihat wajah ibunda dan menemukan makamnya…Amiin).

Selang beberapa menit usai melaksanakan shalat ashar dan berdoa, tiba-tiba saja ada suara dari sisi kanan…, ” Deni…Kapan Datang…? Sudah ke tempat ibu…? Ketika saya menoleh, suara itu keluar dari wajah ibunda, sekujur tubuh saya bergetar dan tidak percaya, namun tanpa diduga, seketika itu juga, wajah itu menghilang seperti tak jelas kemana arahnya.

Air mata pun tak terbendung lagi, saking rindunya dengan almarhumah, dan sepintas  saya langsung berpikir, “tanda apakah ini..”? Kemudian setelah shalat, saya antarkan ayah ke hotel, dan saya seorang diri pergi ke pemakaman Ma̵