Semuanya Tidak Akan Kembali Seperti Semula

Oleh: Fahd Pahdepie

Jika selama ini kita sering bertanya-tanya, kapan pandemi ini akan berakhir? Kapan semuanya  akan kembali seperti semula? Barangkali kita harus siap dengan jawaban-jawaban yang kurang menyenangkan.

Meski banyak pakar menyebut bahwa situasi yang sedang kita hadapi saat ini belum mencapai puncak pandemi, konon baru akan terjadi Mei atau Juni mendatang, kita berharap antivirus atau vaksinnya cepat ditemukan.

Kemudian vaksin itu diuji secara klinis, diproduksi secara massal, disebarkan ke seluruh dunia, untuk membantu semua negara menghentikan penyebaran dan jatuhnya korban akibat COVID-19 ini.

Tapi, sayangnya, itu juga tidak bisa buru-buru. Para ahli menyebut bahwa seluruh rangkaian proses ini setidaknya memerlukan waktu 18 bulan. Berkaca dari bagaimana vaksin-vaksin sebelumnya diproduksi, termasuk vaksin untuk virus Ebola.

Namun, vaksin atau antivirus tampaknya memang satu-satunya harapan kita saat ini. Sembari kita terus melandaikan kurva penyebaran COVID-19 ini, agar tidak terlalu cepat penularannya, agar infrastruktur medis kita tidak kolaps merawat mereka yang sakit dan kritis.

Sebab, jika kita berharap pada keajaiban kekebalan kelompok atau ‘herd immunity’, tampaknya kita harus menunggu waktu lebih lama lagi. Selain kemungkinan bahwa perlu 40-70% populasi yang terinfeksi atau diinfeksi, dikhawatirkan justru banyak korban jiwa yang berjatuhan: Seperti kata Melinda Gates.

Jika strategi ‘herd immunity’ yang dipilih, banyak orangtua, anak-anak dan mereka yang memiliki penyakit bawaan akan meninggal. Dilansir oleh ‘Science Alert’, secara matematis ‘herd immunity’ akan menyebabkan 70% populasi dunia jatuh sakit dan 0,35-0,7% di antaranya meninggal dunia.

Maka, ‘social distancing’ atau ‘physical distancing’ sebenarnya bukanlah strategi sementara. Ini pilihan rasional satu-satunya. Menjaga jarak, hidup lebih bersih, menggunakan masker dan selalu mencuci tangan adalah satu-satunya pil pahit yang harus kita telan saat ini, setidaknya sampai vaksin corona ditemukan dan diproduksi massal.

Baca Juga:   Melalui Pemkab Banyumas, Paket Sembako UMP untuk Warga Terdampak Covid-19

The New Normal

Lalu, apakah kehidupan akan kembali seperti semula? Sayangnya, sepertinya tidak. Kita harus siap menghadapi kenyataan bahwa setelah pandemi ini kita akan menghadapi situasi yang bisa kita sebut sebagai ‘the new normal’, kelaziman yang baru.

Pandemi corona ini adalah ‘the black swan’, sebuah istilah untuk menyebut satu fenomena langka yang mengubah dan memberi dampak besar pada banyak hal: bisnis, pemerintahan, hingga kehidupan sehari-hari. Satu-satunya cara untuk menghadapi situasi semacam ini adalah beradaptasi.

Adaptasi itu pulalah yang menjadi kunci agar kita berhasil menjalankan ‘the new normal’ tadi. Berhentilah berpikir masa lalu, bersiaplah menghadapi perubahan-perubahan yang ada di masa yang akan datang. Sebab hidup harus dilanjutkan, betapapun pahitnya itu.

Secara psikologis, konon kita hanya butuh waktu 21 hari untuk membentuk sebuah kebiasaan (habit) yang baru. Fase ‘physical distancing’ dengan berdiam di rumah, apalagi dengan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan hingga Mei mendatang, mau tidak mau memaksa kita untuk membentuk kebiasaan baru itu. Kebiasaan-kebiasaan itu pulalah yang akan menjadi elemen penting dari ‘the new normal’ nanti.

Sejak hari ini hingga nanti, standard kebersihan dan higienitas kita telah berubah, menjadi lebih tinggi. Kita jadi memakai masker saat bepergian, rajin mencuci tangan, membawa hand-sanitizer ke mana-mana.

Dunia akan beradaptasi dengan cara ini, kelak tempat-tempat publik harus memiliki fasilitas yang mendukung naiknya standard kebersihan masyarakat ini. Dunia bisnis juga harus mengikutinya.

Pertemuan virtual melalui ‘video conference’ akan menjadi sesuatu yang biasa dan akan terus berlanjut meski wabah ini telah berakhir. Kita sudah menemukan satu pola dan kebiasaan baru dalam melakukan presentasi, ‘pitching’, negosiasi, hingga membuat keputusan-keputusan besar. Ternyata kita bisa bersandar pada rapat-rapat ‘online’, tidak perlu lagi selalu bertatap muka di darat.

Baca Juga:   Setelah Vaksin Covid-19 Tetap Patuhi Prokes 5M

Ruang-ruang digital, Internet dan media sosial, akan menggantikan ruang-ruang publik konvensional. Orang akan lebih nyaman berkarya di sana, berbisnis di sana, bertransaksi di sana. Televisi dan radio akan lebih cepat mati.

Tak ada pilihan lain buat kita setelah semua ini selain beradaptasi dengan dunia digital. Menjadi lebih mahir bermedia sosial, lebih terbuka pada kemungkinan-kemungkinan baru yang diberikan teknologi Internet, mulai terbiasa dengan e-commerce, uang digital, dan seterusnya.

Jam kerja pada umumnya akan berubah. Kebiasaan kita berkumpul akan berubah. Mal-mal dan pusat perbelanjaan perlu menemukan strategi baru. Uang kertas akan mulai ditinggalkan dan kita akan menjadi ‘cashless society’ karena itu jauh lebih efektif dan aman secara kesehatan.

Menemukan Format Baru

Jika kita mendaftar apa saja yang akan berubah, kita akan punya daftar lebih panjang lagi. Tetapi poinnya adalah bahwa kehadiran ‘the new normal’ tidak terelakkan lagi dan adaptasi adalah sebuah keniscayaan. Kita harus berubah. Dari level individu, kelompok, masyarakat, organisasi, bisnis, hingga pemerintahan.

Yuah Noval Harari, profesor sejarah dari Hebrew University of Jerusalem, punya pengamatan dan catatan yang bagus tentang bagaimana manusia selama ini, sepanjang sejarah peradabannya, menghadapi aneka wabah.

Kata Harari, manusia selalu menang melawan wabah. Kita selalu berhasil melewati masa-masa sulit dan kelam. Mungkin memang akan ada banyak kematian, tetapi kehidupan baru terbuka dari sana.

Hanya mereka yang mau berubah dan beradaptasi lah yang akan memenangkan babak baru itu. Bukan yang terus berharap semua akan terjadi seperti kemarin, seperti sebelum terjadi wabah… Bukan mereka yang berharap bahwa semua akan kembali seperti semula. Karena semua tidak akan kembali seperti semula.

Memang, itulah kenyataan pahitnya. Semua tidak akan kembali seperti semula. Semua akan berubah. Dunia sedang melakukan ‘reset’ untuk menemukan logika baru yang akan menggerakkan kehidupan. Tinggal kita berusaha menemukan format dan beradaptasi dengan ‘the new normal’ itu.