Guru, Covid-19, dan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Ilustrasi Dok Market Brief

Oleh: Heryan Ardhi Kusuma

Kalau boleh bertanya, siapa yang tidak sedang dalam keadaan was-was saat ini? Saat-saat dimana Covid 19 semakin menunjukkan tajinya. Pandemic Covid 19 sampai saat ini masih menjadi rival berat bagi hampir seluruh negara di dunia ini. Tenaga medis, sang garda terdepan dalam menghadap pandemic ini, terus berpeluh dalam tekanan pandemic Covid 19 ini. Tidak hanya pasien yang dihadapi, gejolak batin pun harus ikut dihadapi. Di satu sisi, mereka harus menjaga Kesehatan dan keselamatan mereka sendiri Bersama keluarga, di sisi lain, ada tanggung jawab moral dan profesi yang harus ditaati. Berat? Pasti, bahkan sangat berat. Maka sangat tidak elok dan masuk akal jika masih banyak orang berkeliaran di luar rumah untuk hal-hal yang tidak penting, sementara itu ada orang-orang yang sedang mempertaruhkan nyawanya, demi keselamatan mereka, masyarakat, warga negara bangsa Indonesia ini. Maka itu, teriring doa semoga Allah lindungi dan senantiasa limpahkan Kesehatan untuk seluruh petugas Kesehatan di negeri, bahkan di dunia ini. Dan semoga Allah bukakan pikiran mereka yang belum sadar betapa bahayanya Covid 19 ini.

Lalu, ada apa dengan guru? Apakah tulisan ini akan bercerita tentang pembelajaran online? Jawabannya, bukan. Lebih dari itu, ada sisi lain yang bisa kita jadikan refleksi. Pandemic Covid 19 menjadi sebuah wabah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, oleh siapapun, dimanapun, dan kapanpun. Maka inilah hebatnya Covid 19, tiba-tiba datang, tidak terlhat, dan menyerang banyak manusia dalam waktu yang sangat cepat. Bahkan, jumlah yang meninggal dunia hitungannya tidak lagi dalam jumlah puluhan, melainkan ratusan bahkan ribuan. Singkatnya, COvid 19 ini mematikan dan “membunuh” dengan cepat. Tidak salah, jika tenaga medis menjadi pahlawan saat ini, karena kepakarannya lah yang bisa merawat dan menyembuhkan. Merekalah pahlawan, yang berjuang mempertaruhkan nyawa untuk keselamatan banyak manusia.

Baca Juga:   UNISA dan Upaya Mewujudkan Perempuan Indonesia Berkemajuan

Sebaliknya, kalua boleh bertanya, siapa yang sedang tidak dalam keadaan was-was saat ini? Saat-saat dimana degradasi moral semakin nampak. Guru, memang tidak terlihat perannya secara langsung dalam Covid 19 ini. Namun, pernahkah kita semua berpikir dan mau merasakan, bahwa perasaan yang dirasakan tenaga medis saat menghadapi virus Covid 19 ini, sebenarnya sama halnya dirasakan oleh guru. Khawatir, cemas, was-was, butuh kerja keras bersama, butuh bantuan pihak lain dan butuh kesadaran dari semua pihak. Hanya saja rivalnya memang berbeda. Tenaga medis versus Covid 19 (Virus), sedangkan guru versus Moral dan karakter. Meskipun demikian, kedua rival ini sama bahayanya. Jika virus menyerang manusia sebagai korbannya, lain dengan moral yang menyerang karakter manusianya. Dan kedua rival ini sama-sama “membunuh” dan sama-sama mematikan.

Pernahkah sejenak meluangkan waktu untuk melihat betapa keras perjuangan seorang guru untuk menghasilkan anak didik yang berkualitas unggul, baik unggul dalam karakter maupun unggul dalam ilmu pengetahuan. Pernahkah terpikirkan bahwa banyak sekali guru-guru “tak” bergaji, namun tanggungjawabnya tingkat tinggi. Mentransfer ilmu dan menanamkan karakter juga tanggung jawab tingkat tinggi, bukan? Apalagi dunia global yang memudahkan siapa saja untuk mengakses apa saja. Satu sisi baik, di sisi lain efek terhadap moral anak-anak juga mengkhawatirkan. Lihat saja aktifitas anak-anak dan remaja di luar sana. Pergaulan bebas, kenakalan remaja, Bullying, sampai pada kasus-kasus narkoba dan lainnya. Singkatnya, degradasi moral semakin menjadi.

Degradasi moral sepintas memang tidak semenakutkan Covid 19 yang kadar “membunuh”nya sangat cepat. Namun, kedua penyakit ini sama-sama mematikan. Hanya waktunya saja yang membedakan. Degradasi moral tidak sekilat Covid 19 untuk merusak tatanan hidup manusia baik terhadap social maupun ekonomi. Akan tetapi, yang perlu disadari bersama adalah bahwa degradasi moral pun perlahan dapat “membunuh” siapa saja dan apa saja, tidak hanya social ekonomi, tapi di seluruh aspek kehidupan. Hancurnya suatu bangsa, bisa jadi karena hancurnya moral masyarakatnya.

Baca Juga:   Konsolidasi Umat dan Bangsa Pasca Pilpres

Namun demikian, guru tetaplah guru. Seberat apapun tanggung jawabnya, masyarakat tetap melihat guru sebagai pekerjaan yang paling menyenangkan. “Mangkat, Mulang, Baline awan, duite okeh”, begitulah yang seringkali terucap. Padahal, jika dilihat lebih dalam lagi, tidak semudah itu dan tidak semenyenangkan itu. Yang menjadikan tugas sebagai guru terlihat menyenangkan adalah karena keikhlasan dan kesederhanannya. Meskipun kesederhanaan ini seringkali bukan karna dibuat sederhana, melainkan karena “dipaksa” untuk menjadi sederhana. lihat saja guru-guru honorer, dan bandingkan antara tanggung jawabnya dengan penghasilannya. Kalau selama ini kita melihat betapa susahnya tenaga medis mengenakan pakaian APD saat merawat pasien Covid 19, pernahkah kita melihat susahnya guru ketika menerapkan kurikulum Pendidikan yang berganti-ganti. Ketika kita melihat tenaga medis kesusahan mengurus pasien Covid yang rewel dan tidak jujur, pernahkah kita melihat susahnya guru Ketika digertak oleh dan dibohongi oleh siswanya sendiri.

Sekali lagi, guru tetaplah guru. Pengangkat moral, perubah karakter dan pelopor perubahan. Siapa yang tidak butuh guru, bahkan seorang presiden yang pejabat tertinggi negara saja bisa menjadi di posisi saat ini karena peran guru. Guru tetaplah guru. Meskipun yang dihadapi “pembunuh” moral dan karakter, tapi tetap saja dunia seperti tidak melihatnya. Berbeda jika “pembunuh” moral dan karakter ini sifatnya mematikan dalam waktu cepat. Pasti, semua orang akan bahu membahu membantu guru. Ya, guru adalah guru, sosok yang juga membutuhkan bantuan dari semua pihak, membutuhkan dukungan semua pihak, dan membutuhkan kesadaran dari semua pihak, untuk bersama-sama melawan degradasi moral. Dan terakhir, guru adalah guru, sang pahlawan tanpa tanda jasa.

Untuk saat ini, mari tetap jaga soliditas untuk menyelamatkan bangsa dan negara ini dari Covid 19. Kita doakan semoga semua masyarakat, terkhusus tenaga medis, mendapatkan pertolongan dari Allah SWT. Ikutilah aturan pemerintah yang sudah disosialisasikan di berbagai media. Karena pada dasarnya, ini tugas bersama, tugas kita semua. Jika boleh berpendapat, maka sebenarnya kitalah garda terdepan dalam rangka menyelesaikan masalah Covid 19 ini. Tenaga medis, mestinya adalah garda terakhir, yaitu garda yang akan maju setelah kita semua berusaha untuk menjaga diri dan keluarga masing-masing. Mari bantu kurangi beban tugas tenaga medis dengan mengikuti aturan pemerintah dalam penanganan Covid 19. Semoga Allah selalu merahmati dan melindungi kita semua. Aamiin.