Menyambut Fenomena The Great Depression

Rektor ITB-AD Mukhaer Pakkana

Oleh: Mukhaer Pakkana

Memang sejarah selalu berulang. Buddy Starcher (1906-2001) dalam lagunya History Repeat Itself, mengisahkan peristiwa  aneh tapi nyata. Lagu alegoris yang mengisahkan: “Sejarah berulang dengan sendirinya.” Masih ingatkah sejarah luka, tentang the Great Depression? Peristiwa yang mengharu-biru langit-langit ekonomi dunia.

Suasana menjadi mendung, panen pengangguran, sulitnya lapangan kerja, kemiskinan dan kelaparan menjadi sahabat karib, menjamurnya kriminalitas, dan pelbagai patologi sosial lainnya. Intinya, suasana menjadi centang perenang di seluruh sudut-sudut dunia.

Apakah gejala the great depression tu akan menyambangi kita saat ini? Jawabnya, iya. Pelbagai lembaga keuangan dan pemeringkat dunia, telah mengirim sinyal bakal suasana itu terjadi. Kontraksi ekonomi akan segera dituai. Nyaris tak satu pun negara yang bakal positif. Coba bayangkan,  JP Morgan memprediksi ekonomi dunia minus 1,1%, EIU memprediksi ekonomi dunia minus 2,2%, Fitch memprediksi ekonomi dunia minus 1,9%, IMF memprediksi ekonomi dunia minus 3%. Bahkan, negeri Tirai Bambu alias Cina negatif 6% dan dunia negatif 3%.

Coba bandingkan, suasana the great depression yang terjadi 1929-1939. Mengutip Michael Bernstein dalam The Great Depression: Delayed Recovery and Economic Change in America, 1929-1939 (1987), mengulas kasus di Amerika. Tercatat, jatuhnya pasar saham memicu penurunan daya beli, menyusutnya investasi, guncangan sektor industri, dan merebaknya pengangguran. Merebaknya pengangguran menyebabkan kredit macet, dan penyitaan aset melonjak.

Sementara itu, produksi negara terkapar. Petani merintih sakit, karena tidak mampu memanen hasil ladangnya dan terpaksa membiarkannya membusuk di ladang. Di lain sisi, jumlah tunawisma merebak. Tatapan menjadi kosong, sedangkan isi perut terserang kelaparan.

Tatkala itu, Amerika dipimpim Presiden Herbert Clark Hoover. Al kisah, pada 1930, musim gugur, gelombang pertama melanda perbankan. Masyarakat kehilangan kepercayaan, menyeruaklah rush, masyarakat kompak  menarik dananya di perbankan secara massif. Ujungnya, Pemerintah Hoover pun keok dan panik.

Baca Juga:   Idul Adha, Keceriaan Warga Indonesia Non-Muslim di Australia

Menghadapi situasi yang mengerikan itu, Hoover berupaya memberi solusi berupa dukungan kepada bank-bank lewat pinjaman pemerintah. Harapannya, setelah pinjaman diberikan bank mulai dapat beroperasi normal dan kembali memekerjakan karyawan. Tapi, tetap Hoover gagal.

Muncullah, Franklin D. Roosevelt, sebagai Presiden ke 32. Dalam 100 hari pertama kerjanya, Roosevelt mendorong Kongres untuk meloloskan undang-undang baru yang disebut sejarawan Lawrence Davidson dengan “kapitalisme berjaring pengaman subsidi” alias social safety net, Tampaknya, kebijakan Roosevelt terlihat lebih konkret dibandingkan Hoover.  Hoover tampaknya penganut aliran fundamentalis pasar, yang sangat percaya bahwa pasar bebas akan mengoreksi sendiri kesalahan yang ada.

Langkah berikutnya, Roosevelt menawarkan panacea, berupa program “New Deal”, yang berisi 47 program, dibagi dalam tiga tahapan eksekusi dari 1933 – 1939. Program “New Deal” meliputi penutupan dan pemeriksaan kepada semua bank agar dapat sehat secara finansial, pemotongan gaji pegawai pemerintah maupun militer sebesar 15%, memekerjakan sekitar 3 juta orang selama 10 tahun untuk menggarap lahan publik, menukar emas dengan mata uang dolar, mendanai pekerjaan di bidang pertanian, konstruksi, pendidikan, maupun kesenian, dan juga memberikan pinjaman pada para petani untuk menyelamatkan ladang ternak dari penyitaan.

Suka atau tidak, hasil yang dipetik Roosevelt, sejak mula berlakunya “New Deal” mendapati banyak kritikan. Penerapan “New Deal” dianggap terlalu sosialis alias tidak mengekspresikan nilai Amerika. Kritikan tersebut diungkapkan para pengusaha. Sedangkan Hoover, presiden sebelumnya, mengatakan kebijakan “New Deal” akan membawa Amerika dalam gaya fasisme yang dijalankan Mussolini atau Hitler.

Mengapa Roosevelt percaya pada konsepnya? Mengapa dia berani mengimplementasikan dalam kebijakan pemerintahannya? Karena Roosevelt telah melahap buku dan belajar banyak pada guru akademiknya. Siapa dia? Jhon Maynard Keynes, yang dianggap sebagai ayatollah Ilmu Ekonomi Makro. Pengikut Keynes, acap disebut  Keynessian.

Baca Juga:   Logika dan Kesahihan Do'a Untuk Pengantin

Keynes, kemudian muncul sebagai jagoan di pemerintah Amerika. Ia diplot untuk meyakinkan publik bahwa intervensi pemerintah, merupakan hal yang galib dan sah secara teori ekonomi. Keynes kemudian merilis sebuah buku berjudul The General Theory of Employment, Interest and Money (1933), yang mengelaborasi ekonomi menurut perspektifnya untuk mendukung kebijakan pemerintah Amerika.

Yang menarik dari Keynes adalah hipotesisnya tentang siklus arus uang, yang mengacu pada ide bahwa peningkatan belanja (konsumsi) dan daya beli akan meningkatkan pendapatan  yang kemudian akan mendorong lebih meningkatnya lagi belanja dan pendapatan. Keyenesian menganjurkan supaya sektor publik ikut campur dalam meningkatkan perekonomian.

Jauh sebelum the Great Depression tiba, perekonomian dunia dijerat revolusi Perang Dunia Pertama (1914-1918). Perang ini melibatkan semua kekuatan besar dunia yang terbagi menjadi dua aliansi, yaitu Sekutu (Britania Raya, Prancis, dan Rusia) dan Blok Sentral (Jerman, Austria-Hongaria, dan Italia) Pada akhir perang, lebih dari 17 juta orang terbunuh.

Namun, puncak Perang Dunia itu, mewabah Flu Spanyol (Spanish Flu) pada 1918-1920, yang kemudian bergulir menjadi the Great Depression hingga 1930-an.  Wabah Flu Spanyol ini menelan banyak korban jiwa dibanding Perang Dunia itu sendiri. Flu ini telah mengalami mutasi genetikal sehingga jauh lebih berbahaya ketimbang virus flu biasa. Flu Spanyol menginfeksi lebih dari 500 juta orang di seluruh dunia, termasuk orang-orang di pulau-pulau Pasifik yang terpencil hingga sampai di Kutub Utara. Bahkan, para ahli sejarah memperkirakan, kisaran 21,5 hingga 50 juta jiwa melayang di seantero dunia.

Saat ini, dunia menghadapi krisis terburuk akibat pandemi korona (Covid-19).  Krisis ini bisa lebih parah dibandingkan dari the great depression pada 1930-an. Coba kita lihat, bagaimana pandemi korona merampok hingga USS 9 trliun dari PDB dunia. Bahkan, Amerika menggelontorkan belanja publik sebesar 11% dari PDB, Malaysia 10%, Singapura 10,9%, Jepang 19%, dan Jerman 20%. Sementara Indonesia menganggarkan Rp 436,1 triliun atau 2,5% PDB.