Habis Gelap Terbitlah Terang

Oleh: Heryan Ardhi Kusuma

Pernah mendengar ungkapan fenomenal ini, bukan? Ungkapan inilah yang perlu terus digaungkan ke seluruh penjuru bumi pertiwi ini, bahkan ke seluruh negara di dunia ini. Ungkapan yang nampak sederhana, namun berisi pesan mendalam. Ditambah lagi di tengah kondisi buruk saat ini, ungkapan-ungkapan semacam inilah yang perlu terus digaungkan. Ungkapan penuh pesan positif, untuk menyalakan lagi semangat untuk terus menjalani hidup, untuk terus yakin bahwa hidup harus terus berjalan, khususnya bagi teman-teman yang mengalami dapaknya secara langsung, baik masyarakat yang menjadi pasien positif, maupun masyarakat yang terkena dampak ekonomi seperti di PHK massal, maupun masyarakat yang dibatasi kegiatan sosialnya.

Habis gelap, terbitlah terang. Ungkapan salah seorang pahlawan yang mengalami langsung masa-masa yang tidak mengenakkan di zamannya. Seorang R.A. Kartini, sosok perempuan yang tidak pernah mengenal rasa takut, tidak pernah menyerah, memiliki sifat pejuang, rela berkorban dan memiliki semangat hidup yang luar biasa besar, meskipun hidup di tengah ketidaknyamanan pada massanya. Seseorang yang punya keyakinan bahwa hidup harus diperjuangkan, tidak cukup hanya dengan menerima, berpangku tangan, dan rela melihat ketidakadilan.

Mestinya, semangat inilah yang perlu kita ambil dan teladani, khususnya di masa-masa ini. Meski berada pada dimensi masalah yang berbeda, tapi belajar dari semangat sosok pahlawan ini menjadi wajib kita jadikan inner motivation dalam menghadapi masalah yang kita hadapi saat ini. Semangat untuk tidak pernah takut, semangat untuk pantang menyerah, dan semangat untuk berjuang di tengah ketidaknyamanan akibat dampak Covid-19 yang sedang melanda bumi pertiwi ini.

Pun dengan sifat rela berkorban beliau, yang perlu kita teladani meskipun sekali lagi berada dalam dimensi masalah yang berbeda. Tentu, berkorban untuk mengesampingkan kepentingan individu untuk kepentingan bersama. Pada masa ini, yang bisa kita lakukan adalah dengan tetap mengikuti anjuran pemerintah untuk stay at home, Dirumah Saja jika tidak ada hal penting. hangout, jalan-jalan, liburan, mari kita hilangkan sejanak. Hilangkan egoisme! Karena di rumah sakit, puskesmas dan klinik-klinik Kesehatan sana banyak sekali yang sedang memperjuangkan keselamatan penghuni bangsa ini, keselamatan kita Bersama. Jika mereka saja bisa menghilangkan egoisme untuk tidak berada di rumah demi keselamatan kita, kenapa kita tidak bisa menghilangkan sedikit saja egoism untuk tidak keluar rumah. Apakah ini yang anda definisikan sebagai adil?           

Baca Juga:   Transformasi SM sebagai Pusat Bisnis dan Syiar Muhammadiyah

Dampak Covid-19 sudah sangat merugikan bangsa ini, merugikan kita Bersama. Urusan religious yang sifatnya pribadi saja, terkena dampak dari wabah ini. Belum lagi, urusan sosial, ekonomi, pendidikan, dan masih banyak lagi aspek yang yang terkena dampak wabah ini. Sangat tidak bijak jika kita menambah pelik masalah ini dengan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Yang dibutuhkan pada saat-saat seperti ini adalah, semangat untuk berjuang Bersama melawan wabah ini, semangat untuk membantu pemerintah, semangat untuk gotong royong membantu sesama yang terkena dampak langsung, dan semangat untuk rela berkorban demi kepentingan Bersama, keselamatan Bersama, dan keselamatan bangsa Indonesia tercinta ini. Kalau bukan kita, masyarakat Indonesia, siapa lagi?

“Kulihat Ibu pertiwi, sedang bersusah hati, air matanya berlinang ….” Sebuah kutipan lagu yang cukup menggambarkan kondisi ibu pertiwi saat ini.  Mari terus semangat untuk lepas dari wabah yang menyengsarakan ini. Dan tentu, tetaplah semangat menjalani kehidupan yang telah Allah berikan banyak sekali nikmat ini. Nikmat Allah jauh lebih besar dari wabah ini. Dan akhirnya, ketika semua telah berjuang, maka Habis Gelap Terbitlah Terang tidak lagi hanya harapan semata, melainkan realita adanya.

Oleh: Heryan Ardhi Kusuma, Guru di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta