22 C
Yogyakarta
Minggu, Agustus 9, 2020

Mi’raj Ruhani di Kala Krisis

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Salurkan KUR Syariah, Menko Perekonomian Dukung UMKM Pemuda Muhammadiyah

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dampak dari Pandemi Covid-19 tidak bisa dipungkiri menghantam semua sendi dan aspek kehidupan masyarakat, semua lapisan tanpa pandang...

Sinau Manajemen Humas bersama Komunikasi UNISA Yogyakarta

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Program Studi Komunikasi UNISA Yogyakarta menggelar Dibkom (Diskusi Bersama Komunikasi UNISA) seri keempat dengan mengangkat tema  Sinau Manajemen...

Ketua PWM Sulsel Resmi Lantik Mudir Darul Arqam Muhammadiyah Gombara

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Prof. DR. KH. Ambo Ase, M.Ag. Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan resmi melantik KH. Ahmad Tawalla...

Memaknai Kebersamaan Idul Adha MI Muhammadiyah Garongan

KULON PROGO, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka memperingati perayaan Idul Adha 1441 H, MI Muhammadiyah Garongan, Panjatan, Kulon Progo melakukan kegiatan silahturahmi...

Menko Perekonomian RI: BulogMu Lumbung Pangan Strategis

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dalam kunjungannya ke Yogyakarta, selain bertemu dengan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, Menteri Kordinator...
- Advertisement -

Berdasarkan maklumat PP Muhammadiyah tanggal 01 Rajab 1441 H, hari Jum’at Kliwon tanggal 24 April yang akan datang kita akan memulai bulan ramadhan 1441 H. Ramadhan yang dapat dikatakan sebagai ramadhan yang luar biasa. Disebut demikian karena ramadhan tahun ini hadir dalam suasana yang tidak sama dengan tahun-tahun yang terdahulu.

Ramadhan tahun hadir dalam suasana lara. Nyaris semua negara terkena wabah corona. Dunia memasuki masa krisis yang belum diketahui di mana ujungnya. Tatanan ekonomi, keamanan, dan rasa tenang, semua nyaris terguncang. Banyak orang kehilangan penghasilan. Selain ancaman kesehatan, banyak pula warga yang mulai kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, termasuk sekedar untuk makan keseharian.

Ramadhan kali ini memang beda, namun bagi ummat Islam bulan ramadhan tetaplah bulan yang teramat mulia. Kehadirannya selalu dinanti dan juga dirindukan setiap insan yang beriman. Kendati hadir di suasana yang berbeda, kehadiran ramadhan tahun ini tetap merupakan anugerah bagi kita semua. Di tengah tandusnya zaman, kita diperjumpakan dengan oase yang penuh ampunan. Kita diperjumpakan dengan bulan yang penuh rahmat dan kemuliaan.

Tahun ini, ramadhan hadir di saat yang sangat tepat. Ramadhan tiba di saat kita telah agak siap menerima datangnya wabah. Ada sedikit persiapan untuk menjalan riyadhah dalam suasana krisis. Kehadiran ramadhan tahun juga dapat dikatakan sebagai penghibur jiwa, penawar gulana. Bagaimana tidak, dalam suasana seperti apapun, kehadiran bulan Ramadhan akan selalu mengingatkan setiap Muslim pada sifat Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Yang menjanjikan ampunan, kemenangan, dan kebahagiaan bagi setiap hamba yang beriman.

Keimanan pada  kepada sifat Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim ini akan menuntun manusia untuk selalu optimis dan menghindari putus asa dalam menjalani kehidupan. Meyakini bahwa setiap kesulitan selalu ada jalan keluarnya seperti dinyatakan dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah [94]: 5) juga menghindarkan manusia dari jeratan rasa putus asa. Karena sikap cepat putus asa itu sendiri merupakan bukti tanda ketiadaan iman (QS. Al-Hijr [15]: 56 dan Yusuf [12]: 87).

Pada situasi normal, kita biasa memperlakukan bulan ramadhan sebagai bulan riyadhah dengan segala laku spritual yang dituntunkan seperti wajib berpuasa, mendawamkan qiyam ramadhan (shalat tarawih), memperbanyak tilawah, memperlama tafakkur iktikaf serta melipat gandakan sedekah.  Pendek kata, kalau dalam waktu yang biasa, bulan ramadhan biasa kita gunakan untuk menempa diri agar dapat menjadi pribadi yang muttaqin. Semua riyadhah itu kita jalankan dengan penuh kegembiraan, sesak oleh harap walau kadang terbersit cemas manakala amalan yang kita jalankan itu terasa ada yang kurang sempurna. Bahkan anak kecil yang belum mengerti agama juga dapat ikut menikmati suasan ramadhan ini dengan penuh rasa bangga dan bahagia.

Oleh karena itu, kahadiran ramadhan tahun ini harus kita sambut dengan rasa syukur agar semua riyadah dan juga tarbiyah tahun ini dapat kita lakukan dengan lebih sempurna. Sebagai orang yang beriman kita harus selalu optimis dan dapat memanfaatkan keadaan krisis saat ini untuk menjadi sebagai sarana melakukan mi’raj ruhani sehingga kita dapat menjadi insan-insan yang muttaqin selepas ramadhan dan setelah krisis ini berlalu pergi. Kalau itu dapat kita lakukan, maka kita dapat meraih kemenangan hidup yang sebenarnya. [isma]

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles