Mi’raj Ruhani di Kala Krisis

Berdasarkan maklumat PP Muhammadiyah tanggal 01 Rajab 1441 H, hari Jum’at Kliwon tanggal 24 April yang akan datang kita akan memulai bulan ramadhan 1441 H. Ramadhan yang dapat dikatakan sebagai ramadhan yang luar biasa. Disebut demikian karena ramadhan tahun ini hadir dalam suasana yang tidak sama dengan tahun-tahun yang terdahulu.

Ramadhan tahun hadir dalam suasana lara. Nyaris semua negara terkena wabah corona. Dunia memasuki masa krisis yang belum diketahui di mana ujungnya. Tatanan ekonomi, keamanan, dan rasa tenang, semua nyaris terguncang. Banyak orang kehilangan penghasilan. Selain ancaman kesehatan, banyak pula warga yang mulai kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, termasuk sekedar untuk makan keseharian.

Ramadhan kali ini memang beda, namun bagi ummat Islam bulan ramadhan tetaplah bulan yang teramat mulia. Kehadirannya selalu dinanti dan juga dirindukan setiap insan yang beriman. Kendati hadir di suasana yang berbeda, kehadiran ramadhan tahun ini tetap merupakan anugerah bagi kita semua. Di tengah tandusnya zaman, kita diperjumpakan dengan oase yang penuh ampunan. Kita diperjumpakan dengan bulan yang penuh rahmat dan kemuliaan.

Tahun ini, ramadhan hadir di saat yang sangat tepat. Ramadhan tiba di saat kita telah agak siap menerima datangnya wabah. Ada sedikit persiapan untuk menjalan riyadhah dalam suasana krisis. Kehadiran ramadhan tahun juga dapat dikatakan sebagai penghibur jiwa, penawar gulana. Bagaimana tidak, dalam suasana seperti apapun, kehadiran bulan Ramadhan akan selalu mengingatkan setiap Muslim pada sifat Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Yang menjanjikan ampunan, kemenangan, dan kebahagiaan bagi setiap hamba yang beriman.

Keimanan pada  kepada sifat Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim ini akan menuntun manusia untuk selalu optimis dan menghindari putus asa dalam menjalani kehidupan. Meyakini bahwa setiap kesulitan selalu ada jalan keluarnya seperti dinyatakan dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah [94]: 5) juga menghindarkan manusia dari jeratan rasa putus asa. Karena sikap cepat putus asa itu sendiri merupakan bukti tanda ketiadaan iman (QS. Al-Hijr [15]: 56 dan Yusuf [12]: 87).

Baca Juga:   Singapura Hambat Tax Amnesty, Sri Mulyani: Jangan Takut

Pada situasi normal, kita biasa memperlakukan bulan ramadhan sebagai bulan riyadhah dengan segala laku spritual yang dituntunkan seperti wajib berpuasa, mendawamkan qiyam ramadhan (shalat tarawih), memperbanyak tilawah, memperlama tafakkur iktikaf serta melipat gandakan sedekah.  Pendek kata, kalau dalam waktu yang biasa, bulan ramadhan biasa kita gunakan untuk menempa diri agar dapat menjadi pribadi yang muttaqin. Semua riyadhah itu kita jalankan dengan penuh kegembiraan, sesak oleh harap walau kadang terbersit cemas manakala amalan yang kita jalankan itu terasa ada yang kurang sempurna. Bahkan anak kecil yang belum mengerti agama juga dapat ikut menikmati suasan ramadhan ini dengan penuh rasa bangga dan bahagia.

Oleh karena itu, kahadiran ramadhan tahun ini harus kita sambut dengan rasa syukur agar semua riyadah dan juga tarbiyah tahun ini dapat kita lakukan dengan lebih sempurna. Sebagai orang yang beriman kita harus selalu optimis dan dapat memanfaatkan keadaan krisis saat ini untuk menjadi sebagai sarana melakukan mi’raj ruhani sehingga kita dapat menjadi insan-insan yang muttaqin selepas ramadhan dan setelah krisis ini berlalu pergi. Kalau itu dapat kita lakukan, maka kita dapat meraih kemenangan hidup yang sebenarnya. [isma]