Muhammadiyah Harus Menjadi Pelopor Relasi Sosial Baru

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1441 H, Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) dan Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) Dunia menyelenggarakan Tabligh Akbar dengan tema “Reorientasi Kemanusiaan Semesta”. Materi disampaikan langsung oleh Prof. Dr. Haedar Nashir, M. Si selaku Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Dra. Siti Noordjannah Djohantini, M. Si, Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah pada Rabu, 22 April 2020.

Haedar Nashir menyampaikan, dalam kirprahnya di masyarakat, Muhammadiyah tidak cukup hanya dengan slogan. Muhammadiyah terus berjuang di berbagai bidang kehidupan seperti pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi agar umat Islam naik kepada tingkat yang lebih tinggi dalam aspek Khairul Ummah (umat terbaik).

Dalam situasi seperti ini, Muhammadiyah mulai berpikir jangka panjang karena situasi sosial masyarakat yang berubah secara signifikan. “Semangat inklusifitas kemanusiaan Muhammadiyah perlu mempelopori relasi sosial baru dimana nilai-nilai agama bisa menjadi humanisme kolektif yang saling tawasuth dalam perbedaan serta tasamuh. Hal ini perlu menjadi agenda Muhammadiyah ke depan,” ujarnya.  

Siti Noordjannah Djohantini mengungkapkan bahwa dalam konteks menuju keluarga sakinah, situasi lockdown ini dapat menjadi momentum besar untuk mendekatkan serta mempererat hubungan dan kehangatan antara masing-masing anggota keluarga. Dalam mewujudkan keluarga sakinah, setiap anggota keluarga memiliki peran dan andil yang berbeda-beda.

Pada subtansinya, keluarga sakinah adalah keluarga yang diharapkan mampu menumbuhkan nilai-nilai keagamaan, bersemainya kehidupan yang damai, dapat memberikan maslahat kepada lingkungan masyarakat, memperkokoh keimanan, sehingga darinya akan terpancar kebaikan dalam kehidupan dan pergaulan secara luas. “Dalam laboraturium lockdown ini, kita harus memiliki praktek-praktek baru dalam mewujudkan kemaslahatan keluarga dan umat,” paparnya. (diko)

Baca Juga:   Aisyiyah Tolak ‘Domestifikasi’ Perempuan