29 C
Yogyakarta
Kamis, Juli 9, 2020

TAFSIR AL TSA’LABY AL MAGHRIBY: Jawahir Al Hisaan fii Tafsiir Al Qur’an

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Ketua LSBO PP Muhammadiyah Resmikan Rumah Kaligrafi Syaiful Adnan

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Pimpinan PusatMuhammadiyah, Drs Syukriyanto, M.Hum kemarin melakukan kunjungan silaturahmi ke Rumah...

PCIM Arab Saudi dan Suara Muhammadiyah Adakan Pelatihan Jurnalistik

MAKKAH, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Arab Saudi (PCIM Arab Saudi) bekerja sama dengan Suara Muhammadiyah (SM) menggelar pelatihan jurnalistik...

BTM Artha Surya Kabupaten Tegal Sinergikan Pengembangan AUM Pendidikan

TEGAL, Suara Muhammadiyah - Membangun sinergi antar Amal Usaha Muhammadiyah BTM Artha Surya kabupaten Tegal peduli dengan pengembangan tindak lanjut. Yaitu merencanakan...

Covid Talk: Dakwah dan Pendidikan Muhammadiyah berbasis Teknologi

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Berkenaan dengan adanya wabah Covid-19 di era generasi Z, maka teknologi merupakan sebuah media yang tidak boleh tertinggal...

Menghadapi Covid-19 Perlu Strategi dan Kemitraan

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Allaster Cox, Kuasa Usaha Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia menyampaikan bahwa Australia sangat prihatin dengan kondisi di Indonesia...
- Advertisement -

TAFSIR AL TSA’LABY AL MAGHRIBY
Jawahir Al Hisaan fii Tafsiir Al Qur’an
Al Imam Abu Zaid Al Tsa’laby Al Andalusy (786 – 875 H)

Oleh: Khairul Amin

Pada pembahasan sebelumnya, kita telah membahas bahwa ada Al Tsa’laby dalam dunia tafsir. Pada artikel ini kami bahas ialah yang kedua, Al Tsa’laby Al Maghriby Al Maliki penulis Al Jawaahir Al Hisaan fii Tafsiir Al Qur’an. Beliau lahir pada 786 H di abad 9 H/13 M dimana perkembangan keilmuan Islam sedemikian pesat, utamanya di daerah Maghrib yang relatif stabil dari peradaban Islam di Timur, ditandai dengan runtuhnya Khilafah ‘Abbasiyyah oleh serbuan Mongol.

Beliau lahir dengan nama lengkap ‘Abdurrahman ibn Muhammad ibn Makhluf Abi Zaid Al Andalusy Al Maaliki. Tidak disebutkan secara rinci masa pertumbuhan beliau dalam kitab-kitab sirah, namun dijelaskan secara singkat beliau tumbuh dalam lingkungan yang mencintai ilmu dan memiliki keuatamaan. Disebutkan pula beliau menyelesaikan hafalan Al Qur’an diwaktu kecil. Kemudian melanjutkan menuntut ilmu dnegan belajar kitab-kitab tarikh/ sejarah, tafsir, hadits, ushul, kalam. Adab/ sastra, lughah, nahwu, sharaf, ‘arudh dan lainnya.

Sebagai seorang ulama, beliau melaksanakan tradisi yang dilakukan oleh ulama-ulama lainnya, yaitu rihlah ‘ilmiyyah. Disebutkan dimasa mudanya beliau mengelilingi Afrika Utara (Maroko, Tunisia, Aljazair) untuk menuntut ilmu hingga akhirnya ia menjadi seorang faqih, khususnya dalam mazhab Maliki. Diantara guru-guru beliau, yaitu Waliyuddin Al ‘Iraqi, Muhammad ibn Khalfah ibn ‘Umar Al Tunisy, Ahmad Al Naqawisy AL Bajany, Muhammad ibn ‘Ali ibn Ja’far Syams, ‘Abdullah ibn Mas’ud Al Tunisiy, dan masih banyak lagi. Diantara murid beliau, yaitu Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Al Khatib, Muhammad ibn Yusuf ibn ‘Umar Syu’aib Al Sanusy, Muhammad ibn ‘Abdul Karim ibn Muhammad Al Mughyly.

Imam Al Tsa’laby mendapatkan pujian dari berbagai ulama setelahnya. Diantaranya dari Imam Al Sakhawy, Al Tanbaky, Syaikh Zaruuq, Ibn Salamaah Al Bakry, Al Ghazy,  dan Husain Al Zahaby. Diantaranya beliau disebutkan sebagai imam al hujjah, Syaikh, wara, zahid, dan waliyullah. Al Sakhawy menyebutnya sebagai Imam al ‘allamah. Beliau juga digelari Al mufassir, Al muhaddits, Al Faqiih, Al Raawiyah, Al ‘Umdah, Al ‘Aarif billah,

Nama beliau dikenal karena tulisan-tulisan beliau yang luas dalam berbagai tema. Diantara karya beliau, yaitu Al Jawahir Al Hasan fii Tafsir Al Quran (tafsir), Raudhatul Anwar, Jaami’ Al Ummahaat fi Ahkam Al ‘Ibaadat (Fiqh), Arba’in Hadiitsan Mukhtaarah, Mukhtaar min Al Jawaami’ (Hadits), Anwar Al Madhiyyah fii Jam’I baina Al Syari’ah wa Al Haqiiqah, Al ‘Uluum Al Faakhirah fii Ahwaal Al Aakhirah, Kitab Al Nashaaih, Jaami’ Al Fawwaid, Al Durr Al Faaiq fi Al Adzkaar, Al Irsyaad fii Mashaalih Al ‘Ibaad (Ilmu-Ilmu Akhirat), Syarah Manzuumah Ibn Barri Qira’ah Nafi’, Irsyad Masaalik (Qira’at), Tuhfat Al Aqraan fii ‘Iraab Ba’dh Ayyi Al Qur’an, Al Dzahab Al Ibriiz fi Ghariib Al Qur’an Al ‘Aziiz (Ilmu ‘Irab Al Qur’an), Kitab Al Mu’jizat,  Al Anwaar fii Mu’jizaat Al Nabiy Al Mukhtaar (Sirah).

Imam Abu Zaid Al Tsa’laby diantara ulama yang lahir pada masa akhir-akhir perkembangan yang demikian pesat dari ilmu Al Qur’an dan Tafsir. Sebelum masanya telah banyak karya-karya besar dalam bidang tafsir yang dilahirkan. Hal ini mengakibatkan, karya Imam Abu Zaid Al Tsa’laby kaya akan referensi dari masa sebelumnya. Namun dari beberapa kitab besar, beliau mencukupkan dengan merujuk pada ringkasanya yang telah mengalami pemadatan dan penyeleksian informasi/ riwayat. Sehingga nanti tidak begitu banyak pembaharuan pendapat, namun kaya akan komparasi pendapat. Beliau cukup menghimpun dan meringkas berbagai informasi keilmuan sebelumnya, sembari beliau teliti kembali validitas dan kredibiltasnya.

Diantara yang menjadi dasar rujukan beliau dalam tafsirnya  Al Jawaahir Al Hisaan , yaitu (a) kitab-kitab tafsir sebelumnya, (b) kitab Gharaib Al Qur’an wa Al Hadits (pembahasan kata-kata asing dalam al Qur’an dan hadits), (c)Kitab-kitab Sunnah, (d) Kitab Al Targhib wa Al Tarhib wa Al Raqaiq (motivasi, anjuran, pelembut hati), (e) kitab ahkam al fiqhiyyah wa al ushuliyyah (hukum-hukum fiqh dan ushul), (f) kitab khasaish wa syamaail (seputar pribadi nabi), (g) kitab tarbiyah dan tahzib al nufus (pendidikan dan ilmu jiwa), dan (h) kitab asma wa sifat (penjelasan nama dan sifat Allah SWT).

Diantara kitab tafsir yang dijadikan rujukan yaitu (1) Tafsir Ibn ‘Athiyyah – Al Muharrar Al Wajiiz, (2) Mukhtashar Tafsir Al Thabari – Abu ‘Abdullah Muhammad ibn ‘Abdullah ibn Ahmad Al Lakhmy, (3) Mukhtashar Bahrul Muhith – Al Shafaaqasy, (4) Maafithul Ghaib – Imam Al Raazy, (5) Ahkaam Al Qur’an – Al Qadhi Ibn Al ‘Araby. Diantara rujukan Kitab Gharib Al Qur’an yaitu (1) Gharib Al Qur’an Al Harawy dan (2) Mukhtashar Gharib Al Qur’an Al Hafiz Zainuddin Al ‘Iraqi. Diantara Kitab Sunnah yang dirujuk, yaitu (1) Shahih Al Bukhari, (2) Shahih Muslim, (3) Sunan Abi Daud, (4) Sunan Tirmidzy, (5) Hilyah Al Abarar/ Al Adzkar Imam Nawawy, (6) Silaah Al Mu’min Taqiyuddin Hamam Al Mishry Al Syafi’I, (7) Mashaabih Al Sunnah Al Baghawy, (8) Al Muwattha’ Imam Malik,

Diantara kitab Al Targhib wa Al Tarhib, yaitu (1) Al Tadzkirah Imam Al Qurthuby, (2) Al Aqaabah Imam Al Asybily, (3) Al Raqaaiq Ibn Al Mubarak, (4) Bahjatul Majaalis Ibn ‘Abdil Barr, (5) Riyaadhah Al Muta’allimiin Al Ashabahani.  Diantara kitab ahkam al fiqhiyyah wa al ushuliyyah (hukum-hukum fiqh dan ushul), yaitu(1) Al Mudawanah Ibn Sa’id, (2) Mukhtashar Ibn Hajib Al Fara’I, (3) Al Ilmam fi Ahadits Al Ahkaam Ibn Daqiq Al ‘Idd, (4) Mukhtashar ibn Hajib Al Muntahaa. Diantara kitab khasaish wa syamaail (seputar pribadi nabi), yaitu (1) Al ‘Ayat wa Al Mu’jizaat dan (2) Al Syifaa bi Ta’rif Huquq Al Musthafa. Diantara kitab tarbiyah dan tahzib al nufus (pendidikan dan ilmu jiwa), yaitu Bahjat Al Nufus Syarah Mukhtasar Bukhari Abi Jamrah Al Andalusy, (2) Ihya ‘Ulumiddin Al Ghazali, (3) Jawaahir Al Qur’an Al Ghazali, (4) Syarah Arba’in Nawawy li Ibn Faakihaany. Diantara  kitab asma wa sifat (penjelasan nama dan sifat Allah SWT), yaitu (1) Syarah Asma’ Al Husna Imam Al Raazy, dan (2) Ghaayah Al Maghnam li Ibn Al Dariihim Al Mausuly. Diantara kitab Tarikh (sejarah), yaitu (1) Al Ikhtifa fi Akhbaril Khulafaa Ibn Al Karduyus. Diantara kitab Tasawuf, yaitu (1) Lathaif Al Minnan Ibn ‘Athaillah, (2) Al Anwaa Al Zujaaj, (3) Al Ifshaah Syubaib ibn Ibrahim, dan lainnya. Adapun metode yang ditempuh secara umum oleh Abu Zaid Al Tsa’laby dalam tafsirnya yaitu (1) menggabungkan Tafsir bil Ma’tsur dan Tafsir bil Ra’yi, (2) mengemukakan masalah ushuluddin dan ushul fiqh, (3) mengemukakan ayat ahkaam dan perbedaan pandangan fiqh, (4) memberikana analisa bahasa, gramatika/ nahwu, morfom/ sharaf, (5) menyebutkan asbabun nuzul, (6) menyebutkan ragam qiraat, (7) menghadirkan syarir-syair arab dan menjadikannya dasar analisa, (8) mencukupkan dari kisah Israiliyyat.

Diantara contoh penafsirannya pada Q.S Al Baqarah (2) : 183, sebagai berikut:

“Setelah mengutip ayat Q.S Al Baqarah (2) 183-184, Makna Kutiba ialah furidha (diwajibkan), dan puasa/shiyam secara bahasa yaitu al imsaak (menahan), sebagaimana yang disebutkan pada Q.S Maryam (19): 26. Menurut istilah syara’ yaitu menahan diri dari makan, minum yang menyertai dengannya faktor-faktor lain (yang membatalkan shiyam) ,dalam menghormati waktu-waktu/mur’uah awqaat, dan selainnya. Allah berfirman “Kamaa kutiba ‘ala alladziina min qablikum” : Para ulama berbeda pendapat menempatkan keserupaannya: Sebagian kelompok berkata: serupa diwajibkan atas kalian (muslim) sebagaimana shiyam orang (umat) yang telah lalu dalam syariat mereka. Yang di maksud alladziina/ orang-orang  bermakna umum pada nashrani dan juga lainnya (penjelasan sejarah dari berbagai kitab tafsir secara detail di jelaskan di footnonte). Dan “La’allakum” maknanya perintah untuk pemenuhan kebenaran (taqwa). Dan “Tattaquun”, dikatakan atas keumuman, bahwasanya shiyam, sebagaimana sabda Rasulullah Saw : Junnatun (perisai), wijaaun (banteng), dans sebab ketaqwaan, dikarenakan (shiyam) itu mematikan syahwat (penjelasan matan, sanad, syarah hadits ada di footnote).

Adapun naskah tafsir ini disandarkan 4 manuskrip yang terdapat di Daar Kutub Al Mishriyyah. Adapun cetakan yang kami miliki, yaitu terbitan Daar Ihyaa Al Turats Al ‘Arabi dan Mu’assasah Al Taarikh Al ‘Arabi (Beirut-Lebanon, tahun 1997 M) dalam 5 jilid tebal. Semoga Allah SWT memberikan keberkahan dan limpahan rahmat kepada beliau atas segala kebermanfaatannya bagi ummat.

Khairul Amin, Alumni Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles