Tali Pengikat Hidup Manusia

KH Ahmad Dahlan (Dok SM)

KH Ahmad Dahlan

Tali pengikat hidup manusia adalah suatu pengetahuan yang terlalu amat besar bagi kemanusiaan umumnya, sehingga memenuhi bumi. Oleh karena itu tuan-tuan pembaca diharap mau memikirkan benar-benar dan mengingat-ingat dan jangan tergesa-gesa.

Untuk memimpin suatu kehidupan itu seharusnya dan sepatutnya memakai suatu alat, yaitu Al-Qur’an. Bukankah manusia itu perlu bersatu hati karena beberapa sebab?

Pertama, sebab manusia, bangsa apa saja, sesuhngguhnya nenek moyangnya satu, yaitu Nabi Adam dan Ibu Hawa. Jadi semua manusia itu satu daging dan satu darah. Kedua, Supaya semua manusia dapat hidup senang bersama-sama di dunia. Jika manusia lalai akan tali pengikat ini, maka akan rusak dan merusakkan. Ini suatu kenyataan yang tidak boleh dipungkiri lagi.

pikirkanlah pemimpin-pemimpin! Sejak rasul-rasul (utusan-utusan), sahabat-sahabatnya dan pemimpin kemajuan Islam pada zaman dahulu hingga sekarang, sudah sementara lama pemimpin-pemimpin itu bekerja. Mereka itu orang yang ternama, sebagian sudah dapat pengajaran di sekolah tinggi. Walau begitu, belum dapat mereka bersatu hati.

Jangan pemimpin-pemimpin terkejut, lihatlah kanan-kiri, di muka dan di belakang dengan baik, bukankah masih tidak karuan? Ingatlah, saya tidak hanya memandang saut bangsa saja, akan tetapi semua bangsa manusia. Meskipun kita melihat hanya satu bangsa, belum juga satu hati. Hal itu sesungguhnya tidak enak, akan tetapi lawannya (enak) yakni berbahaya.

Apakah sebabnya begitu? Pertama, kami, pemimpin-pimimpin, belum bersatu hati, yang satu mengabaikan yang lain, tolak-menolak pengetahuan, padahal pengetahuan-pengetahuan itu perlu bagi manusia. Jadi, sudah tentu pengetahuan pemimpin-pemimpin itu kurang. Kurangnya pengetahuan itu menjadikan pendek-pikiran (cupet ing pamanggih, Jw). Jadi sesungguhnya pemimpin-pemimpin itu masih meraba-raba pada kegelapan. Apakah jadinya? Lalu tumbuh pembantahan antara pemimpin-pemimpin itu (rusak).

Kedua, pemimpin-pemimpin belum memimpin dengan tenaga (tindakan/lampah, Jw). Kebanyakan masih memimpin dengan suara saja. Sesungguhnya mereka baru mencari pengertian dan menaburkan pengertian itu kepada orang banyak, belum memperhatikan tindakan (mrihatosaken lampah, Jawa) bagi dirinya sendiri dan orang banyak. Jadi pemimpin-pemimpin itu sebagian besar baru memerlukan suara agar supaya kelihatan pendapatnya baik walaupun kelakuannya sendiri masih mengecewakan, yakni rusak dan merusakkan. Terangnya, pemimpin-pemimpin itu banyak yang dipermainkan hawa nafsunya sendiri tanpa mengerti dan merasa. Misalnya, hawa nafsu mengajak malas dan kikir jika untuk suatu keperluan dan tidak malas dan kikir jika untuk suatu kesenangan. Begitulah hawa-nafsu itu mempermainkannya, sehingga hawa nafsu itu menyesatkan kepada penipuan, kebohongan, main gila dan sebagainya. Bukankah hal itu rusak dan merusakkan?

Ketiga, kebanyakan pemimpin-pemimpin belum mempunyai tujuan untuk baik dan enaknya semua manusia. Mereka baru mementingkan kaumnya (golongannya) sendiri, lebih-lebih lagi ada yang hanya mementingkan badannya sendiri, kaumnya pun tidak dipedulikan. Maka jika badannya sendiri sudah mendapat kesenangan, pada perasaannya sudah berpahala, dan sudah sampai maksudnya. Hal yang demikian itu sudah banyak yang diketahui (cacatnya) sehingga perkumpulan menjadi rusak dan menyebabkan cerai-berainya yang dipimpin; kembali mereka seperti keadaannya sebelum dipimpin, kemudian hati mereka meradang dan jera.

Jalan Persatuan

Pemimpin-pemimpin harus tahu benar kelakuan, keadaan dan adat-istiadat orang yang dipimpin, supaya dapat berbuat dengan mengingat “ukur badan sendiri” dan jangan tergesa-gesa, harus terang dan paham terhadap barang yang diterima atau ditolak, serta jangan dengan jalan paksa. Dengan begitu akan dapat menumbuhkan pembicaraan yang enak, menuju keperluan (tujuan) yang amat penting, yaitu manusia bersatu hati.

Sudah menjadi adat kebiasaan orang, bahnya apa yang sudah dipahami dan dikerjakan menurut pengajaran gurnunya tau pergaulan teman-temannya dan menurut pikirannya sendiri akan menjadikan ia gembira dan senang hatinya. Dan hal itu akan dipegang lahir dan batin, lebih-lebih jika hal itu sudah dijalani oleh nenek-moyangnya. Hal itu akan dikira-kira dan dipercaya mendatangkan kebhagiaan. Siapa yang menyelahinya akan mendapat kecelakaan dan kesusahan. Pemimpin-pemimpin dipersilahkan menengok, apakah sikap yang demikian itu hanya ada pada kaum kita, orang Islam, saja? Tidakkah kaum lain, misalnya Budha, Kristen dan Yahudi juga demikian keadaannya?

Baca Juga:   Tentang IMM dan Kadernya (Sebuah Refleksi Milad)

Pemimpin-pemimpin! Oleh sebab “benar” itu sesungguhnya hanya satu, maka bagaimanakah kita mendapatkan yang “Benar” itu agar tidak mendapatkan kesalahan di hadapan Allah Yang Mahasuci.

Begitu pula telah menjadi kebiasaan orang, mereka segan dan tidak mau menerima apa saja yang kelihatan “baru” yang tidak sama dengan apa yang sudah dijalani. Karena menurut perasaannya barang yang baru itu akan menjadikan celaka dan susah, meskipun sudah jelas dan nyata bahwa orang yang mengerjakan dan menjalani barang “baru” itu misalnya mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan. Yang demikian itu terkecuali orang yang memang sungguh-sungguh berikhtiar untuk kebaikan orang banyak dan senang berpikir dan merasa dengan panjang dan dalam.

Apakah kelakuan seperti tersebut di atas dapat disebuh baik atau betul? Sudah tentu tidak, sebab orang yang tersebut di atas itu harus berhukumkan adat kebiasaan dan adat-istiadat, karena adat-istiadat tidak boleh dijadikan hukum untuk menentukan “baik” dan “tidak baik”, “betul” dan “salah”. Yang dapat dijadikan hukum untuk menentukan betul dan salah, baik dan tidak baik hanyalah hukum yang sah dan sesuai dengan hati yang suci.

Uraian tersebut di atas harus dipikirkan dan dirasakan dengan sungguh-sungguh, secara panjang dan dalam perlunya manusia bersatu-hati, sebab di dalamnya tergantung sesuatu yang amat besar yaitu bahagia dan celaka. Sebab itu, saya sangat berhasrat hati meminta agar pemimpin-pemimpin itu secara bersama-sama mempersatu-hatikan semua manusia. Sebelum semua manusia bersatu hati, tidakkah wajib pemimpin-pemimpin itu bersatu hati lebih dalulu? Sudah barang tentu wajib dan wajib sungguh.

Marilah, segera kita, pemimpin-pemimpin, berkumpul membicarakan kebenaran (haq) itu tanpa memilih-milih bangsa, semuanya saja. Dan jangan sekali-kali puas atau bosan sehingga kebenaran itu terdapat (diketemukan). Sesudah itu lalu kita berasaskan satu, berpengetahuan satu, dan bertenaga satu rupa. Pendeknya, Manusia semuanya harus bersatu hati karena adanya permufakatan dengan memakai hukum (wewaton, Jawa) yang sah dengan hati suci dan tidak jera sehingga semua manusia bersatu-hati.

Apakah yang menyebabkan orang mengabaikan atau menolak kebenaran? Disebabkan karena:

  1. Bodoh, ini yang banyak sekali
  2. Tidak setuju kepada orang yang ketempatan (membawa) kebenaran
  3. Sudah mempunyai kebiasaan sendiri dari nenek-moyangnya
  4. Khawatir tercerai dengan sanak-saudara dan teman-temannya dan
  5. Khawatir kalau berkurang atau kehilangan kemuliaan, pangkat, kebesaran, kesenangannya dan sebagainya.

Sedikit peringatan supaya menjadi pemikiran

  • Orang itu perlu dan harus beragama
  • Agama itu pada mulanya bercahaya, berkilau-kilauan, akan tetapi makin lama makin suram. Padahal yang suram bukan agamanya akan tetapi manusianya yang memakai agama
  • Orang itu harus menurut aturan dari syarat yang sah dan yang sudah sesuai dengan pikiran yang suci, jangan sampai membuat keputusan sendiri
  • Orang itu harus dan wajib mencari tambahan-tambahan pengetahuan, jangan sekali-kali merasa cukup dengan pengetahuannya sendiri, apalagi menolak pengetahuan orang lain
  • Orang itu perlu dan wajib menjalankan pengetahuannya yang utama, jangan sampai hanya tinggal pengetahuan saja

Makhluk Allah

Segala makhluk Allah itu mempunyai kehendak (hajat). Semua kehendak itu mesti ada maksud (tujuan)nya. Dan sampainya (tercapainya) maksud itu pasti dengan jalan.

Sudah nyata bahwa Tuhan Allah telah mengadakan masa (waktu) dan mengadakan jalan untuk menyampaikan (mencapai) segala maksud. Kalau demikian, maka semua maksud (tujuan) makhluk itu pasti tercapai asalkan menurut jalan dan masanya. Sebab segala keadaan itu kehendak Allah, dan Tuhan telah menyediakan segala keadaan yang dimaksudnya.