Puasa, Takwa, dan Keselamatan Jiwa di Masa Pagebluk

SuaraMuhammadiya.id. Puasa Ramadhan tahun 2020 ini akan menjadi puasa dengan situasi yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya akibat pagebluk Covid-19 yang mewabah hampir di semua negara di belahan bumi. Hingga 17 April 2020, wabah ini telah masuk di 34 propinsi di seluruh Indonesia dengan jumlah kasus penularan yang terus bertambah, sedangkan bulan puasa telah di depan mata. Artinya, sebagai upaya untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini, beragam kegiatan ibadah dan tradisi sosial keagamaan terpaksa diadakan dengan pembatasan fisikal (physical distancing) atau istilah yang lebih dahulu populer pembatasan sosial (social distancing).

Ini adalah situasi yang tidak mudah bagi umat Muslim. Hal-hal yang terkait dengan pelaksanaan (kaifiyat) ibadah mahdah dan tradisi sosial keagamaan adalah soal prinsip dan telah mandarah-daging dalam bilangan waktu yang lama, khususnya di bulan Ramadhan yang setahun hanya sekali/sebulan. Bulan yang dinanti-nanti kehadirannya ini akan disambut tidak sebagaimana biasanya, tanpa keramaian, tanpa keriuhrendahan suara anak-anak di pelataran masjid, dan tanpa kebersamaan dalam buka bersama dan shalat tarawih berjamaah di masjid. Meskipun barangkali, ini tidak berlaku di sebagian lingkungan masjid di seluruh Indonesia karena masih melaksanakan sebagaimana biasanya.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 serta lembaga-lembaga keagamaan dan ormas Islam seperti Muhammadiyah, NU, dan MUI telah satu suara agar pelaksanaan ibadah puasa di bulan Ramadhan tahun ini tetap mengindahkan imbauan supaya dilaksanakan di rumah saja, tanpa kerumunan, bahkan tidak perlu mudik terlebih dahulu. Upaya ini dilakukan semata-mata demi keselamatan jiwa banyak orang dengan memutus mata rantai penyebaran Covid-19 untuk selama-lamanya.

Puasa sebagaimana diterangkan dalam surat al-Baqarah ayat 183 adalah supaya menjadikan orang bertakwa (la’allakum tattaqūn). Sedangkan takwa adalah satu kata yang memuat dimensi iman, Islam, dan ihsan sekaligus. Jadi tidak hanya soal iman dan Islam saja, namun bagaimana keimanan dan keberislaman itu memiliki dampak moral dan sosial kemasyarakatan seluas-luasnya dalam wujud ihsan. Setidaknya, demikian penjelasan Buya Yunahar Ilyas di buku Kuliah Akhlak terhadap makna takwa dalam al-Baqarah: 177, al-Baqarah: 2-4, dan Ali Imran: 133-135.

Baca Juga:   Prof Malik Fadjar; Aktualisasi Islam Berkemajuan Tak Boleh Jumud
https://www.suaramuhammadiyah.id/2020/04/24/agar-selamat-dalam-kondisi-darurat/.

Bertakwa, menurut Fazlur Rahman, berarti melindungi diri dari berbagai konsekuensi tingkah laku seseorang yang merusak. Diambil dari akar istilah tersebut, w-q-y, yang sejatinya bermakna melindungi atau berlindung dari sesuatu. Lebih jauh lagi, Rahman mengartikan takwa sebagai suatu posisi yang berada secara tepat dalam keseimbangan di antara tensi-tensi moral, yaitu berada di batas-batas yang ditetapkan Tuhan, dan bukan melampaui atau melanggar keseimbangan batas-batas tersebut. Dalam bahasa yang sangat populer, kita mendapati makna takwa sebagai satu upaya mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Dalam situasi pagebluk seperti saat ini, implementasi takwa sebagaimana penjelasan di atas, semestinya ditunjukkan dengan mengutamakan kepentingan dan keselamatan jiwa banyak orang di atas kepentingan diri sendiri, termasuk dalam hal ibadah mahdah, apalagi tradisi sosial keagamaan. Ihsan sebagai satu upaya untuk berbuat baik kepada sesama dalam masa pagebluk ini dibuktikan dengan tidak berkerumun dan tetap di rumah saja. Puasa yang secara harfiah bermakna menahan diri (imsak) menjadi sangat relevan agar umat Muslim tetap menahan diri dan bersabar mengindahkan imbauan yang ada demi kemaslahatan bersama.

Dalam tafsir al-Azhar, Buya Hamka menjelaskan bahwa puasa bagi orang yang beriman adalah agar mereka mengambil faedah yang besar tentang pengendalian diri, dalam ungkapan yang lain dikatakan sebagai menahan diri atau bersabar. Saking pentingnya aspek ini, Nabi Muhammad Saw mengatakan bahwa puasa adalah separuh dari sabar (HR Ibnu Majah). Jadi, puasa kali ini tidak hanya menahan diri dari lapar, dahaga, dan hubungan suami istri saja, namun juga menahan diri untuk tetap di rumah saja dan tidak berkerumun. Kebersamaan di bulan Ramadhan tahun ini cukup untuk keluarga di rumah saja.

Baca Juga:   Pemimpin Belia Dulu, Pemimpin Berida Sekarang

Agama Islam menempatkan aspek keselamatan/menjaga jiwa (hifzhu an-nafs) di posisi yang sangat penting. Bahkan ia menjadi bagian dari tiang maqasyidu asy-syari’ah (tujuan-tujuan syari’at). Maka kemudian ada banyak sekali keringanan (rukhsah) demi keselamatan jiwa manusia, bahkan demi memudahkan urusan manusia itu sendiri. Salah satu prinsip dalam ibadah adalah memudahkan. Jika tidak mampu atau susah dengan berdiri, shalat dengan duduk, jika masih tidak mampu, bisa dengan berbaring, dan seterusnya. Memaksakan diri dengan mengabaikan rukhsah, sama artinya mengabaikan ajaran Nabi Muhammad Saw dan menzalimi diri sendiri.

Berdasarkan surah al-Anbiya’ ayat 107, ditegaskan bahwa risalah Nabi Muhammad Saw adalah untuk men