Belajar Penyesalan dari Nuh ‘Alaihi Salam

Ilustrasi Foto Dok Beattie

Royyan Mahmuda Al’Arisyi Daulay

Pernah ada suatu riwayat yang dituliskan oleh Muhammad bin Hammad Ibnu Iyas al-Mishri dalam kitab Badai’ al-Zuhur fi Waqai’ al-Duhur tentang kisah Nabi Nuh dan seekor anjing. Dalam kitab itu, Imam Kisai berkata bahwa, nama asli Nabi Nuh a.s. adalah Abdul Ghafar atau Yasykur. Berubah nama karena suatu ketika Nabi Nuh a.s. bertemu dengan seekor anjing yang sangat aneh. Anjing tersebut memiliki wajah yang teramat buruk dan memiliki empat buah mata. Lantas terbesit di dalam hati Nuh a.s. untuk menilai kondisi anjing, ” Ah jelek sekali rupa hewan itu”. Seperti itu kalimat yang ada di batinnya.

Namun secara tidak terduga, anjing tersebut dapat berbicara atas izin Allah Swt, lantas berkata kepada Nuh, ” Wahai makhluk yang sempurna, bukankah aku tidak memiliki daya untuk memilih ingin diciptakan seperti apa? Aku pun tidak ingin diciptakan seperti ini, akan tetapi aku hanyalah makhluk sama sepertimu. Lantas Tidaklah Pencipta kita sama Allah Swt?”.

Mendengar ucapan demikan Nuh a.s. merasa menyesal karena telah memiliki pikiran negatif terhadap makhluk ciptaan Allah. Nuh merasa telah berbuat dosa teramat besar karena telah merendahkan Allah dengan menghina makhluk ciptaanNya. Semenjak saat itulah  Abdul Syukur atau Yastkur berubah menjadi Nuh, karena selalu mengisi kehidupannya dengan ratapan dan tangisan penyesalan yang tak pernah usai hingga akhir hayatnya.

Jika kita melihat realitas kehidupan saat ini, tentu cerita Nabi Nuh a.s. di atas sangat patut kita renungkan. Fenomena pembullyan korban covid-19, penolakan jenazah korban covid-19, hingga pengucilan tenaga medis yang berjuang di garda terkahir dalam melawan covid-19 merupakan tindakan-tindakan yang tidak patut dilakukan.

Pendemi corona memang menjadi musuh bersama, dan sama-sama tidak disukai oleh segenap umat manusia. Akan tetapi perilaku-perilaku tidak manusiawi seperti itu, yang keluar dari koridor akhlak islami, seharusnya tidak perlu dilakukan, apalagi oleh seorang muslim. Sikap-sikap dehumanis tersebut sangat melukai ciptaan Allah lainnya. Baik korban maupun paramedis adalah makhluk Allah yang diciptakan dengan sebaik-baiknya.

Baca Juga:   Bermuhammadiyah yang Menyenangkan di Belawan

Padahal dalam kasus Nabi Nuh a.s., yang menjadi korban kejumawaan manusia adalah seekor anjing, yang mana anjing merupakan hewan yang diharamkan dalam islam. Bahkan Nabi Nuh a.s. pun hanya berkata di dalam batin, tidak sampai keluar dari mulut apalagi menjadi tindakan. Tentu ini jadi peringatan keras bagi hamba yang berfikir, bahwa sesungguhnya Allah Swt. menciptakan seluruh makhluknya tidak dengan sia-sia. Sehingga kita, yang juga hamba, tidak berhak untuk menghakimi atau berbuat buruk kepada makhluk lain hanya karena merasa mulia sebagai manusia.

Mungkin rasa ketakutan akan bahayanya virus corona ini membuat manusia menjadi khawatir, terlebih lagi belum ada vaksin yang dapat menanganinya. Akan tetapi kekhawatiran itu tidak boleh menghilangkan rasa empati kita sebagai manusia, apalagi sebagai sesama kaum muslimin. Maka dari itu, di bulan yang penuh barokah ini perlulah kita lebih melapangkan dada dan menjernihkan pikiran untuk dapat memetik hikmah dari setiap takdir yang telah ditetapkan oleh Allah Swt.

Adanya virus corona ini pun tidak lepas dari ketetapan Sang Pencipta, dan tentu itu semua tidak akan sia-sia. Selalu ada hikmah serta ibroh yang mengiringi setiap kejadian takdir. Ketika covid-19 ini kita yakini sebagai takdir Ilahi, sudah seharusnya sikap membully korban, menolak jenazah, hingga mengucilkan paramedis tidak perlu dilanjutkan. Mereka semua pun ditakdirkan oleh Allah Swt seperti itu dan pasti akan ada pelajaran yang menyertainya.

Terlebih lagi, baik mereka ataupun kita, adalah sama-sama ciptaan Allah Yang Maha Penguasa. Tidak ada daya dan upaya kecuali atas kehendak-Nya. Sembari menunggu adanya vaksin yang dapat meredakan wabah ini, alangkah bijaknya kita mencegah dengan tidak banyak kegiatan di luar rumah serta menjaga kebersihan setiap waktu. Tidak lupa juga kita harus meningkatkan empati kemanusian dengan tidak melakukan hal-hal negatif kepada sesama makhluk Tuhan agar tidak muncul penyesalan dan ratapan seperti yang dialami oleh Nabi Nuh ‘alaihi salam. Mudah-mudahan virus covid-19 ini dapat hilang atas izin dan keridhaan Allah Swt.

Baca Juga:   Satu Bahtera, Beragam Dermaga

Wallahu a’lam bisshawab

Royyan Mahmuda Al’Arisyi Daulay,  alumni Mu’allimin Muhammadiyah dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta