Antara Cinta dan Keyakinan

Cinta Hati
Ilustrasi: amuba

Cerpen Oleh: Putri Ambarwati

Saat itu ada seorang lelaki yang berusaha mendekati Ati. Tapi ia tak menghiraukannya, karena tau maksud dari segala tingkah lelaki itu. Ibu Ati dan Bapak Ridwan selalu menjodoh-jodohkan Ati dengan lelaki yang dikenalnya. Lelaki itu bernama Dimas. Mereka tak pernah tau bahwa hati anak gadisnya ini sudah ditawan oleh hati lelaki lain rupanya. Sudah empat tahun lamanya ia menyimpan rasa pada seorang lelaki yang juga dekat dengan Ibunya itu. Namun, apalah daya seorang perempuan, ia tak berani mengatakannya dan hanya bisa menyimpannya dalam diam tanpa suara.

“Dimas itu anak yang baik. Sabar. Gak banyak maunya. Ramah dan mudah bergaul. Dia ingin mengenalmu lebih jauh. Menjadi teman dekatmu.” Ucap Ibu pada Ati sambil membangga-banggakan Dimas di depannya.

“Kami sudah saling mengenal bu, kami pun sudah saling berteman baik. Menurutku belum saatnya untuk mengenal seorang lelaki lebih dekat dari biasanya. Semua masih membutuhkan batasan. Dan juga waktu.” Balas Ati datar pada pernyataan ibu.

“Kamu sudah cukup umur. Sebentar lagi kuliahnya selesai. Sudah saatnya untuk membuka hati dan tidak berdiam diri seperti ini.” Kata ibu pada Ati yang khawatir jika putrinya nanti menikah di umur yang tak lagi muda.

“Aku masih perlu waktu untuk berpikir bu. Beri aku waktu untuk mempertimbangkannya.” Jelas Ati pada Ibunya.

Nyatanya saat itu hatinya sedang berkecamuk. Hati yang sedang berperang dengan pikirannya. Ia berpikir keras bahwa bagaimana mungkin ia menerima dan menjalin hubungan dengan seorang lelaki yang kenyataannya juga disukai oleh teman dekatnya, Ratih. Ia bisa saja membuka hatinya pada Dimas, akan tetapi hal itu merupakan pantangan baginya, ia tak bisa menjatuhkan hati pada seseorang yang telah disukai sahabatnya itu. Teman macam apa namanya yang tega bersenang-senang di atas air mata sahabatnya. Lagi pula, rasa memang tidak bisa dipaksa. Nyatanya ada orang lain yang telah mendiami hati Ati terlampau lama.

Iya, dia adalah seorang lelaki yang telah lama ia kagumi dalam diam. Namanya Ridwan. Lebih tepatnya ia memanggil dirinya dengan sebutan Mas Ridwan. Seorang lelaki yang dua tahun lebih dewasa darinya. Ia tinggal dengan bapaknya yang bersebelahan dengan rumah baru Ati. Anggap saja tetangga dan memang begitulah. Ati sudah sangat dekat dengan Ridwan sejak hari pertama ia pindah. Saat itu Ridwan membantu Ibu Ati untuk memasukkan barang-barang ke dalam rumah. Bagi kedua orang tuanya, mereka sudah seperti sepasang kakak adik. Saling menjaga satu sama lain, melindungi, dan berbagi rasa sakit. Padahal ada rasa yang berbeda di hati salah satu antara mereka, Ati. Tapi lagi-lagi tidak ada yang menyadari bahwa rasa itu mulai tumbuh di antara mereka. Rasa yang tak biasa.

Mereka telah banyak menghabiskan waktu bersama. Ati pikir, dia adalah satu-satunya perempuan yang dekat dengan Ridwan dan tau segala hal tentangnya. Kenyataannya tidak. Tanpa Ati ketahui, Ridwan sudah lama menjalin hubungan istimewa dengan perempuan lain (baca: pacar). Ati yang mengetahui hal itu seketika terkejut, tak menyangka bahwa Ridwan yang ia kenal sebagai seorang lelaki religius, akan memilih jalan pacaran untuk menentukan pasangan hidupnya. Selama mengenal Ridwan, Ati tau betul bahwa dia bukan tipekal lelaki yang seperti itu.

“Jadi mas sudah resmi menjalin hubungan dengan perempuan itu? Sejak kapan?” tanya Ati penasaran.

“Ah itu sudah lama. Setahun sebelum kamu pindah ke tempat ini.” Jawab Ridwan santai.

“Aku pikir mas beda dengan lelaki lainnya. Mau menjaga diri dan gak mau pacaran sebelum akad.” Balas Ati dengan nada sinis.

“Hehhhh aku gak sepolos itu juga kali. Aku juga normal, aku ini laki-laki. Gapapa dong kalau aku suka sama cewek. Kamu kenapa sih tiba-tiba sensi gitu? Lagi PMS ya Ti?” Jawabnya sambil bertanya balik sekaligus bermaksud menggoda Ati.

“Cinta sih cinta mas. Tapi cara mas mengekspresikan cinta itu sendiri yang salah. Dan Ati gak suka itu.” Balas Ati dengan sedikit nada sinis menandakan ketidaksukaannya.

“Hayoo gak suka atau kamunya aja ya yang cemburu nih? Takut nanti gak punya teman main lagi kalau aku udah punya pasangan? Hahahahaha.” goda Ridwan sambil tertawa memperlihatkan giginya yang berjejer rapi.

“Enggak sih. Biasa aja. Bukan hal itu yang aku permasalahkan mas. Aku kecewa aja sama mas. Mas sudah banyak datang ke berbagai kajian di kota ini kan? Mas tau kan gimana hukumnya pacaran dalam Islam? Zina mas. Zina! Masih ingat makna dalam surat Al-Isra’ ayat 32? Allah gak suka perbuatan itu mas.” Papar Ati dengan raut muka yang tak mengenakkan.

“Aku tau kok. Tapi kamu gak tau kan kalau gaya pacaranku beda dari yang lain? Kita tau batasan dan mas bisa jaga diri.” Balas Ridwan membela diri dengan mengelak nasihat Ati.

“Emang ya kalau nasehatin orang yang lagi menderita penyakit ‘isyq (jatuh cinta) kayak gini. Rasanya seperti menyorot cahaya ke depan cermin. Sekeras apapun kita nyorotin cahaya ke cermin itu, pasti cahayanya mantul lagi dan lagi. Gak akan pernah bisa nembus cermin itu. Ati sayang sama mas. Mas sudah Ati anggap seperti abang Ati sendiri. Seorang adik yang sayang sama abangnya, gak bakalan diem aja disaat ngeliat abangnya di jalan yang salah.” Ungkap Ati dengan hati teriris karena cemburu, kecewa, dan sakit hati.

Baca Juga:   Terpapar

“Lalu selama ini kemana aja ilmu yang udah mas dapetin dari kajian-kajian yang mas datengin di masjid-masjid itu? Ilang gitu aja? Atau mas timbun di dalam tumpukan buku-buku mas itu? Allah gak menghukum orang yang gak tau mas, tapi Allah gak suka sama orang yang gak mau tau. Apalagi sama orang yang udah tau, tapi dia berpura-pura gak tau. Aku gak mau Allah marah dan menegur mas secara langsung. Lebih baik Ati yang bertindak lebih dulu.” Lanjutnya. Kali ini Ati tenggelam dalam kemarahan dan kekecewaan yang teramat dalam. Sedalam rasa cinta dan sakitnya yang terpendam selama ini.

“Cukup Ati. Aku gak suka kamu yang ngegas kek gini. Aku gak suka kamu sok nasehatin aku kayak gini. Oke aku akui kalau aku emang cowok yang gak baik. Terus kenapa kamu mau bertahan temenan sama cowok yang gak baik kek aku gini?” Bentak Ridwan tak terima dengan cara penyampaian Ati yang seperti itu.

“Maaf mas, Ati tak bermaksud seperti itu.” Ucap Ati dengan suara parau, mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh di pipinya.

Pertemuan sore itu adalah pertemuan yang berbeda dari biasanya. Dengan suasana tegang dan tak secerah seperti hari-hari kemarin. Hujan dan bunga mawar putih menjadi saksi bisu perdebatan mereka di teras rumah Ridwan. Hujan yang mendinginkan suasana, lantas tak dapat mendinginkan hati mereka berdua yang kian memanas. Ada dua tatap yang beradu seakan mengedepankan ego masing-masing. Lalu panggilan bapak Ridwan menghentikan lamunan sekaligus menutup pembicaraan di antara mereka yang saat itu tak kunjung dingin.

“Ridwan… Ati… Ayo masuk ke rumah. Bapak buatin salad buah kesukaan kalian. Cepat kesini!” Panggil bapak Ridwan dari dalam rumah.

“Iya pak bentar lagi.” Balas Ridwan untuk mengiyakan panggilan bapaknya.

“Ayo masuk.” Ajak Ridwan kepada Ati.

(mereka berdua pun masuk ke dalam rumah)

“Nah… ini nih salad buah kesukaan kalian. Ayo dimakan. Jangan rebutan seperti biasanya, kayak kucing sama tikus aja, kerjaannya tengkar terus.” Kata Bapak pada mereka berdua.

“Apaan sih pak.” Sanggah Ridwan sambil mengambil mangkok untuk tempat salad.

“Oh iya gimana Ati kelanjutannya kamu sama Dimas?” tanya bapak.          

“Biasa aja sih pak.” Jawab Ati datar.

“Sebenarnya kamu kenapa sih nduk kok banyak nolak cowok-cowok yang mau kenalan sama kamu? Kamu loh sebentar lagi lulus, embok yo sambil nyari. Perempuan itu gak baik kalau menunggu terlalu lama. Emmm, jangan bilang kalau kamu sebenarnya takut jatuh cinta terus takut patah hati ya?” tanya bapak Ridwan mencoba menggali informasi agar Ati sedikit terbuka padanya. Namun, Ati hanya bisa tersenyum datar mendengar ucapan itu.

“Saya tau saya berasal dari keluarga yang tidak utuh. Tapi bukan karena itu alasan saya menolak banyak lelaki yang datang mengetuk pintu. Saya ingin menjadikan suami saya sebagai lelaki satu-satunya yang berhak menerima cinta dari saya seutuhnya pak. Saya tidak ingin jatuh cinta sebelum waktunya, jika hari ini saya mencintai seseorang dan menjalin hubungan dengannya. Lalu ternyata kita tak berjodoh. Lantas apa yang akan suami saya dapatkan? Saya tak ingin dia hanya mendapatkan raga saya, namun tidak dengan hati saya. Padahal, ia sudah berani memikul tanggung jawab atas perempuan asing yang baru ia kenal ini. Jadi itulah mengapa saya tak ingin dekat-dekat dengan para kaum adam untuk menetralisasi rasa agar tidak mudah jatuh ke lain hati yang tak pasti. Saya hanya menunggu ia yang benar-benar siap memperjuangkan saya. Bukan hanya dengan kata tapi juga dengan aksi nyata.” Jelas Ati panjang kali lebar kepada bapak. Hal itu seakan tamparan keras yang ia tujukan kepada Ridwan.

“Tapi ingat! Mengenal itu juga penting. Bukan asal pilih saja loh ya.” Balas lelaki separuh baya itu.

“Maksud bapak mengenal seseorang melalui jalan pacaran?” perjelas gadis itu.

Lelaki itu mengangguk sambil memakan buah salad di depannya.

“Subhanallah. Tidak pak. Selamanya saya tidak mau menggunakan cara yang namanya pacaran itu.” Tegas Ati

“Hush… jangan ngomong seperti itu. Pacaran itu penting untuk mengenal seseorang. Asal ya tau batasannya, jangan sampek kebablas. Biasa aja.” Bantah lelaki itu.

“Perkenalan tidak harus dengan cara seperti itu. Islam tidak mengajarkan hal itu. Masih ada cara lain yang lebih baik dari itu, taaruh misalnya. Ini masalah prinsip yang sudah lama saya pegang sejak tau bagaimana hukumnya dalam Islam. Saya yakin aja pak. Kuncinya percaya dan yakin sama Allah. Perempuan baik akan dijemput dengan cara yang baik. Dan laki-laki baik akan menjemput perempuannya dengan cara yang baik. Saya hanya ingin menjadi salah satu dari perempuan baik itu dan saya juga ingin suami saya termasuk salah satu dari lelaki baik itu.