Bully-an Mahasiswa Luar Negeri Bikin Greget karena Corona

Suasana sebelum sesudah lockdown di Sudan Dok PCIM

Suara Muhammadiyah – Sejak penghujung tahun 2019 lalu, ketika Covid-19 yang pertama kali melanda Cina, warga dan masyarakat global khususnya Indonesia masih merasa aman dan bersikap sama seperti biasanya saja. Semua aktivitas masih terlihat baik-baik saja dan berjalan pada mestinya. Termasuk mahasiswa yang sedang melanjutkan study di luar negeri  khususnya Sudan masih sama pada umumnya.  Melaksanakan aktivitas kuliah setiap harinya.

Hingga ketika terdengar kabar bahwa penyebaran virus tersebut semakin meluas, kami para mahasiswa Sudan yang berasal dari Asia, terutama Cina seringkali mendapatkan perlakuan “istimewa” dari penduduk lokal maupun sebagian mahasiswa yang berasal dari Afrika. Perlakuan istimewa seperti apakah yang kami peroleh? Ya, beberapa mahasiswa dari Asia, termasuk kami yang dari Indonesia sempat menjadi korban bulliying dari mahasiswa lain, namun tidak berpengaruh terlalu buruk. Contohnya saja, mereka suka memanggil kami (mahasiswa Asia) dengan sebutan “Cina” dan kemudian dilanjut dengan “Corona!”. Hal itu terjadi hanya beberapa waktu saja ketika pemerintah Sudan memberlakukan sistem Lockdown.

Pemerintah Sudan mulai melakukan pembatasan sosial berskala besar sejak 23 Maret 2020. Selanjutnya, sebagian besar Universitas juga menghentikan kegiatan belajar mengajar serta menutup aktivitas kampus lainnya untuk sementara waktu. termasuk asrama perempuan khusus kampus IUA (Internasional University of Africa), yang memberikan ketentuan kepada seluruh penghuni asrama untuk tidak keluar asrama sama sekali hingga bulan April 2020.

Tentu saja tujuan utamanya agar berkurangnya potensi penularan virus dari paisen positif virus corona kepada orang lain. Maka dari seluruh rakyat dianjurkan untuk berpartisipasi dalam pencegahan tersebarnya virus corona ini dengan menaati peraturan pemerintah Sudan dan kebijakan pihak universitas serta asrama IUA.

Terhitung sejak 23 Maret 2020 hingga awal April 2020 adanya lockdown. Bukan berarti kita hanya berdiam diri saja selama di asrama. Kamis malam lalu, para anggota Aisyiyah melaksanakan kegiatan rutin membaca surat Al-Kahfi bersama. Kemudian, dilanjut dengan tausiyah yang disaampaikan oleh satu perwakilan secara bergantian setiap pekannya. Setelah itu, biasanya kita isi dengan diskusi ringan.

Baca Juga:   85th Buya Syafii, Mengabdi Tiada Henti

Berawal dari kegiatan tersebut, tercetuslah malam itu, tepatnya pada tanggal 26 Maret 2020, keinginan untuk merealisasikan kegiatan tahsin bacaan Quran yang sudah lama ingin direncanakan namun belum terwujud pelaksanaannya. Pada akhirnya disepakati bahwa kegiatan tahsin bacaan Quran akan kami mulai esok pagi.

Di samping belajar tahsin bacaan Quran, kita juga melaksanakan kegiatan latihan Tapak Suci bersama di lapangan asrama sebagai selingan kegiatan tahsin setiap pagi, enam hari dalam satu pekan dari pukul tujuh pagi hingga pukul sembilan pagi.

Dan karena banyak waktu luang, beberapa dari kita juga berjualan makanan atau minuman dingin. Pada bulan ini, kita mulai memasuki musim panas, dimana rata-rata suhu per hari berkisar antara 38 ֯C hingga 42֯C. Dan ini baru awal dari musim panas. Yang artinya kita akan menghadapi suhu yang lebih tinggi daripada saat ini. Di sisi lain, kita juga mengikuti seminar online atau kajian online dari Sudan maupun luar negeri untuk menambah ilmu dan wawasan.

Selama kita berada pada masa karantina, sebagian besar mahasiswi disini melakukan aktivitas seperti biasa dalam asrama, seperti belajar, berolahraga, memasak, melakukan kegiatan pribadi seperti biasa, dan menjaga kebersihan tentunya. Namun, ada juga yang tidak diperbolehkan selama karantina, yaitu keluar dari pintu gerbang asrama, bertemu terlalu lama dengan orang dari luar asrama yang berkunjung ke asrama, serta melakukan perkumpulan terlalu sering.

Mahasiswa yang berada di Indonesia gencar disuguhkan dengan kuliah online serta tugas yang diberikan juga bersifat online pula lain. Berbeda halnya dengan kita, mahasiswa Sudan yang kegiatan kampus diliburkan secara total, karena disini belum terbiasa dengan sistem pembelajaran online.

Maka dari itu, kita sendiri harus aktif mencari kegiatan seperti mendengarkan kajian secara online atau mengikuti seminar ketika diadakan seminar online, baik dari Timur Tengah seperti Mesir, atau dari Indonesia, maupun dari pihak PPI atau PPPI Sudan sendiri. Bisa dibilang perkuliahannya menjadi tidak efektif dan efisien, karena dalam kurun waktu selama ini dengan ditiadakannya jam belajar di kampus maka materi yang harusnya kita dapat dari bangku kuliah pun telah tertunda cukup lama.

Baca Juga:   Belajar Kesungguhan Hidup dari Hajar dan Ismail (bagian 1 dari 2)

Meskipun begitu, sebagian besar mahasiswa banyak memanfaatkan kesempatan libur panjang ini dengan membaca kitab secara mandiri, mulai dari menghafal hadits, menghafal atau mengulang hafalan Quran serta kegiatan belajar mandiri lainnya tentu tidak akan rugi. Karena waktu mereka tetap mereka gunakan untuk belajar sehingga tidak akan habis terbuang dengan sia-sia.

Besar harapannya, semoga wabah ini segera berakhir dan tak bersisa. Dan bumi beserta isinya bisa kembali baik-baik saja. Terutama untuk manusia, baik atasan maupun bawahan semoga semuanya tidak ada yang berbuat kerusakan lagi dan lagi. Dan semoga pemerintah tetap selalu dalam kebijaksanaannya dan teguh memegang amanah serta tanggung jawab. Berharap bersama datangnya Ramadhan, bumi akan dipenuhi dengan keteduhan kepada semua yang saling menyebar kebaikan. (Faza/Rahel)