IMMawati sebagai Pilihan Berproses

Oleh: Sri Lestari

Berbicara tentang emansipasi kaum perempuan, di ujung dunia manapun, slalu menjadi tema perbincangan yang menarik dan hangat. Bukan saja karena sisi “perempuan” – nya, melainkan lebih karena isu-isu yang diusungnya senantiasa menjadi titik perbincangan menarik ditengah dunia yang didominasi kuasa lelaki ini. Di indonesia sendiri gerakan emansipasi perempuan sudah dimulai sejak awal, sejak jaman kolonialisme, bahkan jauh sebelum berdirinya negara Republik Indonesia. Nama-nama seperti Ken Dedes, Tribuana Tunggadewi , Roro Jonggrang, Kartini dan yang lainya sudah cukup populer sebagai perempuan legendaris. Bahkan sejarah islam juga melahirkan sosok tauladan seperti ibunda Khodhijah saudagar perempuan kaya di masa itu, dengan kekayaan dan kebijaksanaanya beliau membantu Rasululloh dalam mensyiarkan dakwahnya dengan memberikan seluruh hartanya untuk mendukung dakwah rasul. Kemudian Aisyah R.A yang begitu lihai dalam ilmu pengetahuan sehingga dengan kecerdasanya Aisyah menjadi sosok perempuan yang sangat membantu dakwah nabi, kemudian ada Fatimah yang begitu pemberani kala rasul sedang sakit, Fatimah menjadi perempuan pertama yang menyusun strategi perang dan memimpin perang itu sendiri dengan menyamar menjadi sosok laki-laki, dan banyak tokoh perempuan lainya yang menjadi pelopor utama di sejarah islam berdiri, sehingga gerakan emansipasi perempuan yang kita kenal saat ini sudah dipersilahkan untuk dibaca jejak langkahnya sejak islam menuju kejayaanya.

Penulis lebih memilih penjelasan menggunakan termonologi “Perempuan” karena lebih menarik dijadikan sebuah narasi dari pada “wanita” mengingat dua terminologi sering diperdebatkan dalam tulisan yang menghadirkan pengalaman perempuan, terutama dikalangan feminis. Kata “wanita” mendapat stiqma, sebuah akronim dari “wani ditata” atau “berani ditata” yang bermakna positif. Selain itu, terminologi “wanita” dianggap sebagai salah satu terminologi yang digunakan oleh pemerintah Orde Baru dalam mendomestifikasi perempuan dalam progam-progamnya, seperti Dharma Wanita. Hal inilah yang kemudian condong menggunakan terminologi “Perempuan” sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah dan budaya patriarki.

Sudah banyak hasil yang terlihat dan bisa dinikmati dari gerakan emansipasi perempuan berabad-abad lamanya itu. Namun demikian, dalam konteks sejarah perjuangan bangsa, peran perempuan kerap diabaikan, bahkan dipandang sebelah mata. Umumnya sejarah memandang kaum lelaki lebih berperan dan bernilai ketimbang perempuan. Inilah sejarah yang bias, yang banyak kita jumpai dalam catatan-catatan historiografi nasional. Padahal peran mereka sangatlah besar, baik sebagai penunjang di balik layar bagi para pejuang yang didominasi laki-laki maupun sebagai avant garde langsung berhadapan dengan penjajah. Sifat dan budaya yang masih kaku inilah yang kemudian gerakan emansipasi perempuan ini melahirkan Gerkan Feminisme, Ibunda Ulimatul Qibtiyah, M.Si., M.A., Ph.D. selaku Ketua Penelitian dan Pengembangan Aisyiyah dan Komisioner Komnas Perempuan RI menyatakan “Feminisme adalah perempuan atau laki-laki yang menyadari ada persoalan tentang perempuan, sehingga ada usaha untuk melakukan sesuatu sehingga keadaan perempuan itu menjadi lebih baik”.

Baca Juga:   Rektor UMSU Ajak IMM Peduli Pandemi Corona

Hal inilah yang kemudian perlu dipahami dan telaah lebih dalam oleh jajaran perempuan dan laki-laki yang saat ini mengaku menjadi aktivis, jika kedua mahkluk ini (perempuan dan laki-laki) tidak memahami fungsi dan tanggung jawab masing-masing saya kira gerakan emansipasi ini akan melemah dan perempuan semakin terbelakang karena kurangnya tempaan tanggung jawab yang diberikan oleh perempuan. Hal ini dikarenakan laki-laki semakin memberikan belas kasih sayang yang berlebihan maka perempuan ini bukan semakin terdidik akan tetapi semakin lebih memanjakan dirinya dan akhirnya sifat lemahnya akan mucul secara tidak sadar begitu sebaliknya. Narasi ini kemudian diperkuat oleh Kartini yang menilai perilaku para bangsawan tidak patut pada zamanya. Demikian pula dengan sistem pendidikan Eropa yang dititik beratkan kepada pengembangan akal semata, padahal manusia adalah mahkluk yang berakal budi. Sudah sepatutnya apabila penyempurnaan manusia harus mencangkup kedua unsur manusiawi tersebut, yaitu penyempurnaan cipta dan rasa. Menurut kartini, jawa pendidikan akal yang mampu merasionalisasikan tatakrama tradisinya (cipta), tetapi sebaliknya ia juga membutuhkan pendidikan budi pekerti (rasa) yang mampu memoralisasikan akhlak dari cengkraman foedal jawa yang menindas dan membelenggu hak asasi manusia. Dalam suratnya kepada Nyonya R.M Abendanon _Mandri bertanggal Agustus 1900, kartini menyampaikan betapa besar perhatianya kepada nasib perempuan yang “tertindas” Oleh tatasusila Jawa yang dianggapnya terlalu kaku dan berlebihan. Tidak terbilang perempuan yang tertindas, suatu perlakuan yang masih terdapat di berbagai-bagai negeri abad terang ini, saya bela dia dengan senang dan setia (surat Kartini untuk Abendanon-Mandri, Agustus 1900).

Perempuan harus sesegera mungkin sadar akan potensinya, berani menyampaikan kritikan, pendapat dan solusi kepada khalayak umum, bukan kemudian terus-menerus menjadi nomor dua dibelakang laki-laki (sekedar memberi rangsangan critical thinking perempuan). Akan tetapi ada faktor pendukung lainya agar perempuan segera sadar dari tidurnya yang panjang adalah kesadaran laki-laki untuk terus memberi suport dan dukungan serta memberikan tanggung jawab yang lebih bagi perempuan sesuai dengan kemampuan perempuan tersebut berdasarkan analisis laki-laki yang melihatnya. Perempuan-perempuan masa kini juga perlu mempertajam akhlak agar mampu mengambil tanggung jawab yang lebih besar lagi sehingga dikemudian hari, lahirlah generasi-generasi yang lebih tangguh dan bermoral. Perempuan mulai hari ini, bukanlah saatnya lagi menjadi dominasi pria disemua lini kehidupan, namun sudah selayaknya mitra dalam mengarungi bahtera kehidupan dengan saling pengertian, membantu, dan sharing dalam menyelesaikan tugas bersama, baik dalam keluarga, masyarakat, dunia kerja, maupun kehidupan global.

Baca Juga:   Kader IMM Harus Menguasai Literatur Klasik dan Kontemporer

Abad saat ini sudah banyak organisasi keperempuanan yang dibentuk, salah satunya organisasi Muhammadiyah yang kemudian melahirkan AISYIYAH di tingkat tataran ibu rumah tangga, kemudian ada NASYIATUL AISYIYAH yang diisi oleh ibu-ibu muda dan mahasiswa, kemudian juga ada IMMawati sebutan dari organisasi IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) yang didominasi kalangan mahasiswi dan dibawahnya masih ada IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah). Penulis akan membahas lebih detail tentang IMMawati itu sendiri karena berhubung penulis sebagai pelaku dan dengan ini penulis bisa menceritakan fakta tentang peran IMMawati itu sendiri dimasa berprosesnya melalui organisasi IMM.

IMMawati adalah label yang didalamnya mempunyai makna dan peran yang sangat luar biasa, karena menjadi IMMawati adalah masa berproses dengan tempaan dan tamparan seperti halnya kata Tan Malaka “Terbentur, Terbentur, Terbentur maka Terbentuk”, banyak hal yang perlu IMMawati ketahui makna-makna dan peran tersembunyi yang harus segera dipelajari disaat label IMMawati ini sudah melekat dalam diri seorang perempuan. Orientasi gerakan IMMawati berdasarkan tanwir 2003 menyebutkan bahwa IMMawati sebagai gerakan akademisi islam yang terkait dengan pengejewantahan trilogi IMM, yakni kemahasiswaan, Keagamaan dan Kemasyarakatan yang membangun suatu peradaban bagi bentuk revitalisasi gerak dan langkah IMMawati kini dan esok. Idiologi Gerakan IMMawati itu sendiri adalah Pengejawantahan Trilogi IMM dan sebagai bagian integral dari IMM (mempunyai nilai etika dan moral islam).

Langkah pertama menjadi IMMawati yang seutuhnya yaitu sadar akan pentingnya mempunyai ahklak terpuji, mengengam Iman dalam hati seluas samudra dan memahami arti dari rahmatan lil alamin, sehingga langkah pertama sudah melekat dalam diri pribadi maka itu menjadi benteng untuk tetap teguh pendirian. Langkah kedua IMMawati mengetahui peran dan tanggung jawab seorang perempuan itu sendiri (mengetahui potensi diri sendiri), hal tersulit di langkah kedua dikarenakan memahami potensi diri ini yang kemudian banyak masalah yang harus dihadapi, dan tahap ini yang kemudian menjadi proses yang panjalang kala itu, penulis begitu merasakan banyak hal yang harus difikirkan, dipertimbangakan, dan harus segera memutuskan, proses inilah yang kemudian membuat kematangan dalam berfikir dan bertindak. Langkah ketiga, IMMawati mempunyai sikap yang Open Mind dalam cara berfikir agar nantinya mampu memilah mana ya