Menghidupkan Waktu Dan Ruang

Surat Al ‘ASHR atau populer dengan nama surat Wal’ashri pernah menggegerkan Yogyakarta karena selalu diulang oleh KHA Dahlan kemudian ditafsirkan secara Amali sehingga pesan surat itu fungsional dalam kehidupan sehari-hari.Bahkan tafsir Amali fungsional ini diterjemahkan lagi dalam bentuk lembaga (menghasilkan proses institusionalisasi) pendidikan dan tabligh. Pendidikan berkemajuan dan tabligh interaktif transformatif.

Pelembagaan pesan Wal’ashri ini membuat masyarakat bergerak maju dan sukses mengalami transformasi sosial menjadi masyarakat modern yang menyumbang wajah Islam Indonesia yang cerah, segar, menggembirakan dan membahagiakan. Kunci utama untuk langkah progresif ini adalah keberhasilan KHA Dahlan dan sahabat serta penerusnya dalam menggali pesan penting dalam surat itu.

Pesan penting yang terkandung dalam surat itu adalah ajakan untuk menghidupkan waktu dan menghidupkan ruang. Menghidupkan waktu dengan iman dan menghidupkan ruang dengan amal sholeh yang dipandu oleh edukasi tentang kebenaran (akurasi, validitas, yang pener) dan edukasi tentang kesabaran (graduasi gerakan, pentingnya proses).

Kalau ini tidak dilakukan maka manusia atau umat Islam atau masyarakat akan dikalahkan oleh waktu. Waktu itu jelas, manusia, umat Islam dan masyarakat bahkan bangsa Indonesia bisa terjajah karena dikalahkan oleh waktu dan dilumpuhkan oleh ruang. Waktu yang berlaku dan ruang yang terkendali tengah menjadi milik penjajah. Yang dilakukan oleh KHA Dahlan dan penerusnya dengan mendirikan lembaga pendidikan dan tabligh adalah untuk merebut kembali waktu dan memerdekakan kembali ruang hidup manusia, umat, masyarakat dan bangsa Indonesia. Tentu perjuangan merebut waktu dan ruang ini merupakan perjuangan permanen.

Oleh karena itu, Muhammadiyah senantiasa memperbarui perjuangannya dengan langkah strategis berupa langkah tajdid dan ijtihad. Sedetik dua detik kita berhenti berijtihad dan mencari alternatif tajdid, saat itu juga kita akan menjadi kaum yang merugi. Kaum yang dikalahkan oleh waktu, dikalahkan oleh perubahan ruang dan dikalahkan oleh masa depan. Ini yang tidak boleh terjadi. (Mustofa W Hasyim)

Baca Juga:   Gelar Seminar Lintas Agama dan Budaya, ICMI DIY Kokohkan Yogyakarta sebagai City of Tolerance