Pandemi menjadi Sarana Soliter dan Solider

Oleh: Ahmad Zia Khakim

Hampir dua bulan pandemic ini berlangsung, masyarakat harus dibenturkan dengan realitas kehilangan daya tahan ekonominya untuk bertahan hidup. Hal-hal mendasar dan pokok menjadi faktor utama yang tidak mampu mereka beli hatta urusan makan dan sewa tempat tinggal menjadi sangat sulit untuk dilakukan.

Wal akhir, peristiwa mengenaskan nan miris ada yang meninggal dunia karena belum makan dua hari, atau bahkan mereka harus bertempat tinggal sementara di emperan-emperan toko karena terusir dari kostnya menjadi realitas yang tak terbantahkan (Baca; Berita CNN 21/4/2020).

Seharusnya, skema bantuan sosial yang harusnya dilakukan pemerintah adalah menjamin pendapatan dasar masyarakat, fokus pada kebutuhan dasar dan bertahan hidup.

Sungguh ini pelajaran dan ujian kemanusiaan buat pemerintah dan untuk kita semua sebagai bangsa.

Muhammadiyah mengambil Peran

Muhamamdiyah selalu fokus pada aksi-aksi kongkrit yang komplit bahkan segera membentuk team gugus khusus untuk menangani Covid-19 ini di namakan MCCC (Muhammadiyah Covid-19 Command Center), bersama dengan Lazismu, MPKU (Majelis Pembina Kesehatan Umum) dan MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center),  Team MCCC terdiri perwakilan ‘Aisyiyah, Lazismu, Majelis Diktilitbang, Majelis Dikdasmen, Majelis Tabligh, IPM, IMM, NA, HW, TSPM, PM, secara garis besar tugas team ialah pencegahan, berupa edukasi kesehatan masyarakat, mitigasi, pengobatan, dan psikososial. Edukasi kepada khalayak public terus digencarkan lewat platform-platform digital online.

Terkait Edukasi secara langsung kepada msyarakat, MCCC mengupayakan penyebaran informasi soal Covid-19 ini hingga ke ranting-ranting Muhammadiyah dipelosok daerah. Salah satunya dengan berkoordisasi dengan masjid-masjid di daerah untuk memberikan formula pencegahan wabah ini. Dengan memberikan anjuran agar tidak berkerumun, dan memeberikan arahan agar banyak berada diruah, termasuk meniadakan sementara ibadah-ibadah yang biasanya dilakukan berkerumun atau berjama’ah seperti shalat wajib berjama’ah hingga shalat jumat, shalat tarawih dibulan ramadhan ini.

Baca Juga:   Almarhum Pak Malik Yang Saya Kenal

Adapun disaat yang bersamaan selalu ada polemik didalam pemerintahan kita, baik eksekutif maupun legislatif. Sikap konstitusi Muhammadiyah terhadap beberapa hasil Legislasi pemeritah ditengah realitas sosial yang sangat membutuhkan kehadiran Muhammadiyah ditengah-tengah mereka.

Abdul Mu’ti selaku Sekretaris Umum PP Muhammadiyah menegaskan tidak akan ada upaya-upaya JR (Judicial Review) Perppu nomor 1/2020. Yang mengatas namakan Muhammadiyah adapun, Mahutama organisasi yang mengajukan JR ke Mahkamah Konstitusi, bukanlah institusi resmi dalam struktur Muhammadiyah. dalam situasi pandemic Covid-19, Muhammadiyah lebih fokus melayani (delivery service) masyarakat dan menggerakan kegiatan kemanusiaan melalui rumah sakit, Lazismu, amal usaha Muhammadiyah, organisasi Otonom (ortom) dan pimpinan Persyarikatan di semua tingkatan.

Bahkan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir tidak henti-hentinya memberikan ajakan seraya berkata mari Bersatu lawan corona, semua pihak hendaknya fokus bersatu melawan covid-19 yang dampaknya sangat berat. Para elite tunjukkanlah sikap kenegawanan, utamakan kepentingan bangsa, dan kasihanilah rakyat kecil yang kian susah hidupnya, Warga masyarakat agar makin dewasa, buktikan kepedulian terhadap sesama, serta jangan ingin serba mudah di saat musibah ini. Kedepankan kerjasama antarpihak, saling instrospeksi untuk perbaikan langkah, serta tiak memanfaatkan situasi. Semuanya dilandasi jiwa agama, Pancasila dan kebudayaan luhur bangsa. Semoga Allah SWT mengeluarkan kita dari musibah yang berat ini disertai ikhtiar, sabar, dan tawakal kepada-Nya.

Inilah sikap puritan khas muhammadiyahyang telah disandang sejak didirikan oleh Kyai Dahlan, ciri gerakan yang melekat pada tubuh Muhammadiyah sikap puritan itu adalah hemat, suka memberi, pekerja keras, mementingkan orang lain, bersahaja, jujur, berlomba berbuat bajik, ikhlas, tidak pamrih dan gotong-royong atau taawwun. Ini sikap dasar warga persyarikatan Muhammadiyah,

Muhammadiyah dalam pentas kebangsaan

Muhammadiyah tidak pernah menjadi beban politik atau sosial lainnya, Robert N Bellah sosiolog dari Universitas California Amerika Serikat, memberi catatan menarik dan singkat, Muhammadiyah ditakdirkan sebagai gerakan dengan arus “transformatif-solutif” yang kental. Kerap solusi yang di tawarkan itu dibantah dan ditentang namun kemudian ramai-ramai dibenarkan.

Baca Juga:   Sumbangsih Pendidikan Kedokteran Gigi UMY di Masa Pandemi

Ciri gerakan ini adalah selalu berhasil membumikan gagasan dan ide besar menjadi sebuah amal saleh, inilah yang dimaksud beragama harus senafas dengan amal. Ilmu tanpa amal kosong, begitu sebaliknya mari berMuhammadiyah dengan hentakan nafas kesadaran berempati ditengah situasi sulit penuh ketidak pastian, tengok kanan kiri tetangga kita, masihkah membutuhkan uluran tangan kita.

Guncangan-guncangan sosial diakar rumput terus terjadi, dari pencurian, kekhawatiran yang berlebihan alias paranoid,  hingga persoalan keagamaan hatta penolakan jenazah. maka berlapang dadalah ditengah situasi seperti ini. Sembari terus kita meyakinkan diri kita masing-masing seraya memohon kepad Dzat yang memberi pertolongan, pasti kita semua dapat keluar dari ujian kemanusiaan ini, sekarang inilah  gotong royong dan solidaritas kita di uji, bangsa kita dalam sejarahnya memiliki modal sosial dalam hal itu. Maka mari saling menguatkan dan  menebar energi positif saling support dan optimis.

Pesan moral dari Haedar Nashir tidak henti-hentinya terus mengalir menenangkan situasi sosial masyarakat kita, serasa ada kehendak menguatkan jiwa ruhaniah bangsa Indonesia, “ insan beriman diuji sikap hidupnya di kala musibah, jadikan iman sebagai landasan ikhtiar dan tawakal tanpa terjebak pada keangkuhan atau sebaliknya jatuh diri. Diri ini harus semakin dekat kepada Allah (taqarrab ila-Allah) serta menebar ihsan terhadap sesame di lingkungan. Tunjukkan sikap tawadhu’ dan jauhi egoism, sesungguhnya manusia itu tidak digdaya. Jalin ta’wun terhadap sesama serta jangan merasa diri bebas dari musibah. Sikap empati itu buah dari ihsan, lebih-lebih terhadap sesame yang tengah dilanda duka.

Insan beriman, jangan merasa diri paling bersih dan suci sebagaimana diingatkan Allah; “ Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (QS An-Najm: 32)