Ujian Spiritualitas Diri di Tengah Pandemi

Foto Dok Ilustrasi

Oleh: Muhammad Adib Syihabudin

Marhaban Ya Ramadhan, selamat datang di bulan yang mulia ini, bulan yang dimana Allah melipatgandakan amalan-amalan kebaikan, bulan dimana Alquran diturunkan untuk seluruh manusia dan bulan dimana manusia merindukan bulan yang mulia ini. Teringat pada akhir Ramadhan tahun lalu, umat islam sedih dan berdoa agar senantiasa dipertemukan pada Ramadhan berikutnya dan syukur alhamdulillah pada tahun ini masih diberi kesempatan dari yang Maha Pencipta untuk kembali bertemu bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.

Dipertemukannnya di bulan Ramadhan ini adalah suatu anugrah, karena tidak semua umat manusia pada Ramadhan tahun lalu dipertemukan kembali pada Ramadhan tahun ini. Berarti manusia yang kembali dipertemukan pada bulan Ramadhan ini adalah manusia pilihan Allah yang diberi kesempatan untuk muhasabah diri, bertaubat dan untuk mengabdi pada jalan kebaikan lainnya. Itulah kita, manusia penuh dosa dan kelalaian ini yang masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, maka pergunakanlah kesempatan ini dengan sebaik mungkin.

Ada suasana yang berbeda pada Ramadhan tahun ini, apalagi kalau bukan karena wabah yang melanda dipenjuru bumi ini. Banyak yang mengatakan tidak meriahnya Ramadhan karena tidak ada kegiatan di masjid, tidak adanya bukber dengan berbagai macam kelompok, tidak ada ngabuburit dan lainnya. Namun hati ini terasa berdesir mengingat petuah ustaz saya dulu bahwa kerinduan pada Ramadhan terletak pada ibadah dan amalan-amalannya, bukan kemeriahan suasana yang bersifat seremonial saja. Kalimat itu yang mengetuk hati bahwa apapun kondisi bumi saat ini, Ramadhan tetaplah Ramadhan, yang dijanjikan Allah sebagai bulan yang mulia, bulan peningkatan amal dan peleburan dosa-dosa.

Himbauan baik dari pemerintah, MUI maupun ormas-ormas islam bahwa melakukan ibadah dirumah tentunya tidak menyurutkan semangat beribadah dan melakukan amalan-amalam lainnnya, apalagi membuat kita malas untuk beribadah karena suasan tidak semeriah Ramadhan sebelum-sebelumnya. Tidak tarawih di masjid bukan berarti meniadakan tarawih, tidak ada kultum di masjid bisa diganti di rumah. Tidak ibadah di masjid juga tidak boleh mengurangi keikhalasan dan kekhusuan ketika ibadah di rumah.

Baca Juga:   Muhammadiyah dari Sudut Gereja

Pada masa pandemi ini, ujian spiritualitas diri sedang diuji oleh sang Pencipta. Bagaimana tidak, pada Ramadhan sebelum-sebelumnya sudah ada wadah bagi kita untuk beribadah, seperti masjid sudah ada jamaah tarawih, tadarus alquran di masjid, i’tikaf, dan lainnya yang kegiatan ibadah itu sudah ada yang mengatur dari pihak masjid dan kita tinggal menghadiri dan mengikuti. Namun pada kali ini, individu setiap manusia sedang diuji apakah kita tetap bisa melakukan ibadah-ibadah layaknya Ramadhan sebelumnya, atau justru tidak mau melaksanakan ibadah itu karena berbagai macam alasan.

Terutama bagi pasangan suami istri baru, yang sudah mempunyai anak maupun sudah belum, bagi keluarga baru atau sudah lama, Ramadhan di tengah pandemi adalah ujian spiritual bagi mereka. Bagi para imam kelurga, apakah bisa membimbing anggota keluarganya untuk salat bersama, tadarus bersama, membuat jadwal ta’lim bersama dan ibadah lainnya.

Ada istilah al ummu madrasatul ula yang artinya ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Kata ibu jika diperluas adalah orangtua yang menjadi sekolah pertama bagi anaknya. Istilah tersebut benar-benar menjadi ujian spritualitas bagi kelurga. Saat inilah waktu yang tepat untuk kembali mengimplementasikan istilah tersebut untuk membimbing anak-anak kita. Membimbing ibadahnya, memberi contoh akhlak baik, membari nasehat kebaikan dan lainnya. Maka dari itu, saatnya mengembalikan fungsi keluarga sebagai ruang pendidikan bagi anak-anak yang pertama.

Bagi anak, Ramadhan di tengah Pandemi ini juga merupakan suatu ujian spiritual. Ketika orang tua diuji menjadi imam spiritual bagi anak-anaknya, maka ujian bagi anak adalah belajar mendalami ilmu-ilmu keagamaan dan mengimplementasikan dalam bentuk ibadah sehari-hari. Belajar memaksa diri untuk membaca alquran, memahami dan menghafalnya, bagi laki-laki baligh belajar menjadi imam salat untuk orangtuanya dan yang lainnya. Ketika di sekolah atau kampus mampu menjadi pilar di organisai, maka praktekkan dihapan orangtuamu bahwa kalian mampu menjadi pilar kebaikan bagi keluarga.

Baca Juga:   Memastikan Muhammadiyah sebagai Gerakan Pencerahan

Apabila ada keterikatan dan kesinambungan pada keluarga, maka kebaikan-kebaikan senantiasa akan selalu hadir dalam keluarga tersebut. Terlebih pada masa pandemi ini, keluarga harus dikembalikan pada fungsi semula. Maka kelak apabila pandemi ini berakhir, setiap manusia akan merasakan dampak kebaikan-kebaikan yang bersumber dari keluarga itu sendiri.

Ketika kesadaran beribadah dan beramal sudah masuk dalam diri kita, saatnya menjalankan itu sebagai suatu tindakan ibadah kepada Allah, bukan hanya sebagai angan-angan bahwa kita ingin melakukan ibadah dan amalan-amalannya. Seperti pepatah bahwa kesempatan tidak akan datang dua kali, secara akal sehat pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan, pasti akan bersikeras memaksimalkan kesempatan itu semaksimal mungkin. Maka dari itu, marilah pergunakan waktu Ramadhan kali ini dengan sebaik-baiknya, maksimalkan apa yang kita punya, tebar kebaikan pada semua. Semoga senantiasa diberi kekuatan dan keikhalsan dalan menjalani ibadah Ramadhan ini.

Muhammad Adib Syihabudin, Alumni dan Musyrif Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta