Doa, Sebuah Totalitas Kepasrahan

nadzar
Foto Dok Ilustrasi

Suyanto Thohari

Dalam kitab Nashaihul Ibad karangan Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi atau yang lebih dikenal Muhammad Nawawi al-Bantani, disebutkan nasehat penting terkait doa. Kitab Nashaihul ‘Ibad adalah syarah (penjelasan) terhadap kitab al-Munabbihat ‘ala al-isti’dadi  li yaumil mi’ad (pengingat untuk mempersiapkan akherat) karya Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Asqalani atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Hajar al-Asqalani. Kitab tersebut tidak terlalu tebal, tetapi padat makna. Jika ditelusuri dan ditelaah secara tekun, akan banyak sekali nasehat yang dapat diambil.

Secara keseluruhan, isi kitab merupakan nasehat yang telah diurutkan menurut jumlah isi nasehat atau jumlah isi poin yang menjadi nasehat. Dimulai dengan khutbatul kitab (pendahuluan), dilanjutkan dengan bab tsunai (dua butir, berisi 30 nasehat), bab tsulatsi (tiga butir, berisi 55 nasehat), bab ruba’I (empat butir, berisi 37 nasehat), bab khumasi (lima butir, terdiri 27 nasehat), bab sudasi (enam butir, terdiri 17 nasehat), bab suba’i (tujuh butir, terdiri 10 nasehat), bab tsumani (delapan butir, terdiri 5 nasehat), bab tusa’i (sembilan butir, terdiri 5 nasehat), dan bab ‘usyari (sepuluh butir, terdiri 29 nasehat). Maksud dua butir, tiga butir dan seterusnya disitu bahwa nasehat-nasehat dalam bab itu berisi dua hal, tiga hal, dan seterusnya. Isi nasehat bercampur antara sabda nabi, perkataan sahabat, tabi’in atau qaul hikmah (nasehat ahli hikmah). Untuk sabda nabi dalam kitab itu diistilahkan dengan khabar sedang perkataan sahabat dan tabi’in disebut atsar.

Pada bab tsulasi bagian awal, disebutkan sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud rasul bertanya kepada para sahabat dengan maksud hendak menyampaikan pelajaran (kalau dalam konteks metode pembelajaran untuk membangkitkan rasa curiosity (rasa ingin tahu) dari peserta didik):

أَلَا أُعَلِّمُكُمْ الْكَلِمَاتِ الَّتِى تَكَلَّمَ بِهَا مُوسَي حِيْنَ جَاوَزَ الْبَحْرَ مَعَ بَنِي إِسْرَائِيلَ؟   فَقُلْنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ. قُولُوا “اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ وَ إِلَيْكَ الْمُشْتَكَي وَ أَنْتَ الْمُسْتَعَانُ وَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ.

Baca Juga:   Menjadi Penulis Itu Mudah, Ini Syaratnya

maukah kalian aku ajarkan doa yang dibaca Nabi Musa ketika di tepi laut bersama bani Israil (dalam kejaran Firaun dan pasukanny)? Sahabat menjawab :”tentu ya Rasulallah” Rasul mengajarkan: “bacalah doa, ya Allah segala puji bagiMu, kepadaMu tempat mengadu, Engkau tempat mohon pertolongan, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung”

Dari mana rasulullah mendapatkan doa itu? Apakah hasil  membaca riwayat terdahulu? Tentu tidak, karena beliau seorang ummi, yang tidak pandai baca tulis (tidak usah diperdebatkan, karena ada yang memaknai ummi bukan itu, tapi bukan disini tempatnya membincang itu). Dugaan keyakinan kita beliau diajari Malaikat Jibril. Tetapi yang lebih penting isi doa itu.

Dari isi doa yang diajarkan, terbayang sebuah peristiwa masyhur ketika Nabi Musa bersama kaum bani Israil diusir dan dikejar oleh raja Fir’aun dan pasukannya hendak dibunuh. Sampai ke tepi laut merah, tidak ada jalan lagi untuk melarikan diri. Ke depan lautan, mundur pasukan, maju kena mundur kena. Dalam situasi itu, ketika sudah dalam posisi seolah tidak ada solusi, ternyata Nabi Musa tidak meminta apa-apa kepada Allah, kecuali pasrah totalitas terhadap Allah sebagai Dzat Yang Maha Penolong. Mari kita resapi kalimat per kalimat dari doa di atas “Ya Allah segala puji bagiMU…Engkaulah tempat mengadu…Engkau tempat mohon pertolongan, la haula wa la quwwata illa billah….”. Terasa makna penyandaran totalitas Nabi Musa kepada Allah. Dari kepasrahan total itu, kita tahu kisah berikutnya, Nabi Musa diperintahkan untuk memukulkan tongkatnya ke laut, dan terbelahlah lautan sehingga Nabi Musa dan pasukannya bisa melintas, dan dari situ justru menjadi puncak kehancuran musuh dan kemenangan Nabi Musa, meski Nabi Musa sebenarnya tidak bermaksud mengalahkan, tetapi hanya menyadarkan Firaun dan menyelamatkan umatnya.

Baca Juga:   Buya Bagai Rumah Terbuka

Dua hal yang bisa kita ambil dari doa dan peristiwa di atas. Pertama, doa adalah sebuah kepasrahan total. Dalam bahasa senior saya sesama alumni madrasah “donga sing paling apik sing ora nyangking kekarepan (mas SC) (doa terbaik adalah yang tidak disertai dengan keinginan (yang kadang terbalut nafsu))”. Kedua, respon terhadap perintah Allah tidak perlu disikapi secara kritis, dipertanyakan, seperti halnya Nabi Musa yang tidak bertanya-tanya, untuk apa tongkat dipukulkan ke laut. Karena Allah seringkali memberikan kejutan setelah perintah itu dilaksanakan sepenuh hati, sebagaimana kejutan yang diberikan kepada Nabi Musa setelah melaksanakan perintah memukulkan tongkat ke laut.

Dalam situasi pandemic, banyak orang mengalami situasi yang sulit, bahkan sangat sulit, terkadang terasa sudah mentok, buntu tidak ada jalan lagi. Dalam kondisi ini, totalitas penyandaran kepada Allah dan melaksanakan perintahnya dengan tulus sepenuh hati menjadi sangat penting. Semoga […]

Yogyakarta, Senin, 27 April 2020, 02.37 WIB

Suyanto Thohari, Alumni MAPK Yogyakarta pengasuh Pondok Pesantren Universitas  Islam Indonesia Yogyakarta