Pandemi Covid -19 dan Masyarakat Separuh Sehat

Foto Dok 10 TV

Oleh: Wildan dan Nurcholid Umam Kurniawan

Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah buta,
Agama tanpa ilmu pengetahuan adalah lumpuh.
(Albert Einstein, 1879-1955)

Nabi Muhammad SAW menjelaskan tentang agama/keberagamaan dalam satu kalimat singkat namun padat dan sarat makna, ad-Din al-Mu’amalah, agama adalah interaksi. Interaksi yang dimaksud di sini adalah hubungan antara manusia, dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dengan lingkungan-baik hidup atau tidak-serta diri sendiri. Semakin baik interaksi itu, semakin baik pula keberagamaan pelakunya, demikian pula sebaliknya (Shihab, 2006).

Kenyataan di lapangan selama ini yang disampaikan ke masyarakat, hanyalah hablun minaallah dan hablun minannas. Jarang sekali disampaikan hablun minal’alam, apalagi hablun minafsihi dapat dikatakan sama sekali tidak pernah disebut. Maka, jangan salahkan masyarakat apabila mereka “separuh” saleh, saleh ritual dan saleh sosial. Mereka tidak saleh lingkungan akibatnya jadi banjir, longsor, abrasi. Tidak juga saleh individual sehingga mereka jadi perokok, pelaku seks bebas, pembuat hoax (tak sadar bahwa sebelum orang itu membohongi orang lain, sebenarnya lebih dulu membohongi dirinya sendiri,  jadilah Homo mandex – manusia pembohong, bukan Homo sapiens – manusia arif bijaksana). Adapun menjaga kesehatan dikategorikan menjaga hubungan dengan diri sendiri (hablun minafsihi).

Lagi, kenyataan di lapangan, selama ini yang disampaikan ke masyarakat hanyalah sehat jasmani dan sehat ruhani. Akibatnya masyarakat jadi separuh sehat. Mereka tidak sehat secara kaaffah, tidak holistik, tidak menyeluruh. Mestinya sehat itu selain sehat jasmani juga sehat nafsani (jiwa, mental), sehat ruhani (spiritual-Nasrani, maknawi-Persia), serta sehat mujtama’i(sosial kemasyarakatan). Jadi, individu yang sehat adalah apabila sehat jasmani, nafsani, spiritual, dan sosial. Dengan kata lain kesehatan adalah keadaaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis (UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan).

Peristiwa penolakan sebagian masyarakat terhadap jenazah korban musibah Covid-19 adalah salah satu contoh konkret bahwa mereka itu hanya seperempat sehat, hanya sehat jasmani semata. Mereka itu tidak sehat nafsani. Hal ini dapat terjadi karena tokoh masyarakat lokal bisa jadi punya ciri kepribadian paranoid lalu bereaksi emosional. Bahwa reaksi emosional itu munculnya seperempat detik. Bersifat spontan, reaktif, tanpa mikir, muncul dalam bentuk perilaku hadapi (fight) atau lari (flight). Tokoh lokal itu karena tidak berani menghadapi sendirian lalu memprovokasi warga terjadilah shared paranoid, perilaku paranoid berjamaah. Munculnya keberanian menolak petugas pengubur jenazah karena mereka berkelompok. Sedangkan reaksi nalar munculnya dua detik. Mereka tidak menggunakan akal budi, tindakannya merupakan pantulan hati yang tidak nurani, tidak bercahaya. Yang muncul hati zhulmani, hati yang gelap (black heart). Ini gambaran riil selain tidak sehat nafsani sekaligus tidak sehat rohani menolak jenazah yang mati syahid dan tidak sehat mujtama’i karena miskin empati.

Baca Juga:   MKS PP ‘Aisyiyah Review Kebijakan Perlindungan Sosial Anak di Indonesia

Health is not everything but without it everything is nothing, memang kesehatan itu bukan segalanya, tapi tanpa kesehatan segalanya jadi tidak ada maknanya (Arthur Schopenhauer, 1788-1860).

Bagaimana upaya menjaga kesehatan era pandemi Covid-19? Bahwasanya status kesehatan itu ditentukan oleh 1) faktor keturunan (10%); 2) faktor pelayanan kesehatan, seperti Puskesmas, Rumah Sakit (10%); 3) faktor lingkungan, seperti bencana alam, banjir, gempa bumi (25%); dan 4) faktor perilaku (55%). Kesehatan itu berkaitan dengan sifat Tuhan Ar-Rahman (Tuhan Maha Kasih tanpa pilih kasih). Meskipun manusia itu beriman, tapi abai pola hidup sehat akibatnya akan jatuh sakit. Maka, pola pikir sehat (healthy mindset) akan menghasilkan gaya hidup sehat (healthy lifestyle). Oleh karena itu beberapa hal berikut penting untuk dilakukan:

Pelihara kesehatan jasmani

Tuhan dalam kitab suci ketika berbicara tentang hidup menggunakan kosakata Aku, hanya Tuhanlah semata yang mampu memberi hidup. Ketika berbicara tentang kematian menggunakan kosakata Kami. Maka Tuhan memberi perintah dilarang membunuh atau bunuh diri karena tindakan itu menyebabkan kematian prematur. Manusia modern usia harapan hidupnya berkisar 110-120 tahun. Di Pulau Okinawa, Jepang, terkenal sebagai immortal land, warganya berumur 100 tahun tertinggi di dunia. Mereka jarang yang sakit jantung, obesitas, kanker, stroke, diabetes. Apabila penderita penyakit ini terpapar virus Covid-19 akan meningkat risiko kematiannya. Makanan mereka sayuran, produk kedelai, dan sari laut. Rahasia mereka berumur panjang hara hachi bu, makan sampai 80 persen kenyang!

Merokok meningkatkan risiko kematian apabila terpapar Covid-19 dibandingkan dengan non perokok. Sebatang rokok memperpendek umur 12 menit. Jadi, tindakan merokok termasuk tindakan bunuh diri pelan-pelan (slow suicide). Nikotin dalam rokok menyebabkan adiksi. Dampaknya timbul Gangguan Jiwa dan Perilaku Akibat Tembakau yang kode penyakitnya F17.

Olahraga yang teratur dan terukur dengan intensitas sedang dalam waktu 150 menit per minggu akan meningkatkan imunitas tubuh. Maka stay active.

Ikuti dan patuhi petunjuk Kemenkes RI senantiasa menjaga jarak fisik (physical distancing), hindari kerumunan warga, rajin mencuci tangan dengan sabun, memakai masker jika keluar rumah. Tidur cukup 7-8 jam per malam. Ternyata yang tidur 7 jam lebih panjang umur.

Pelihara kesehatan nafsani

Salah satu ciri individu yang sehat jiwa adalah mampu menghadapi stres kehidupan secara wajar. Stres adalah suatu bentuk ketegangan yang mempengaruhi fungsi organ tubuh (jantung, paru-paru, lambung). Jika ketegangan itu berlebihan dampaknya timbul gangguan fungsi organ tubuh, keadaan ini disebut dengan distress. Stres dalam kehidupan termasuk adanya pandemi Covid-19 suatu hal yang tidak dapat kita hindari. Oleh karena itu hadapilah stres tanpa mengalami distress.

Adapun stres yang dapat menimbulkan gangguan jiwa jika stres itu bersifat kumulatif, menumpuk (cumulative stress), tidak diharapkan (unexpected), mendadak (unpredictable), tidak direncanakan (unplanned), dan tidak bisa terselesaikan dengan tuntas (chronic). Sedangkan corak kepribadian yang mudah mengalami distress adalah apabila individu tadi punya sifat 1) serba hati-hati, takut gagal, takut memperoleh hinaan, dan takut apabila berbuat kesalahan; 2) butuh keberhasilan tinggi, ingin segala sesuatunya serba sempurna (perfectionist); 3) workaholic, pecandu kerja, bangga bila tidak pernah libur; 4) kaku dalam proses pikir, kurang lentur/rigid; dan 5) usia tengah baya yang menghadapi krisis tengah umur, hati-hati individu yang glamur (golongan lanjut umur)!