Puasa dan Kemuliaan Manusia

Oleh : Muhda Ashari D. Wibawa

Suara Muhammadiyah – Puasa merupakan amalan yang telah disyariatkan sejak sebelum masa Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Ramadhan sudah dikenal sebagai bulan untuk berpuasa yang pada bulan-bulan lainnya tidak berpuasa. Orang Arab jahiliyah pun ada yang melaksanakan puasa pada pertengahan Sya’ban untuk menyambut musim panas. Maka ketika Nabi Muhammad membawa risalah kenabiannya, disyariatkan kepada orang-orang yang sudah memeluk agama Islam untuk berpuasa pada bulan Ramadhan, sebagaimana orang-orang dahulu berpuasa juga.

Hal tersebut telah dijelaskan pada ayat ke 183 surat Al-Baqarah seperti yang kita semua sudah hafal. Allah Subhaanahu wa ta’ala menyampaikan bahwa puasa itu untuk Allah. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap amal anak Adam itu untuk dirinya sendiri ; satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat semisalnya hingga tujuh ratus kali lipatnya. Allah berfirman, ‘Kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu untukKu, dan akulah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwatnya, makanannya dan minumannya kerana Aku.’ Orang yang berpuasa itu memiliki dua kebahagiaan : kebahagiaan ketika dia berbuka, dan kebahagiaan ketika dia bertemu dengan Tuhannya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi di sisi Allah daripada wanginya minyak misik (kasturi).”

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abu Hurairah. Pada redaksi hadis di atas, Allah menyampaikan bahwasanya “Puasa itu untukKu”, bahwa Allah mengkhususkan amalan puasa itu akan Allah balas langsung. Maksudnya adalah Allah sendirilah yang akan membalasnya (dengan balasan yang utama). Muncul pertanyaan, ‘Mengapa Allah sendiri yang membalas amalan puasa? Dan mengapa puasa, bukan amalan yang lain?’ Jawaban yang paling cocok dan tepat adalah karena puasa adalah amalan yang sangat mulia. Maka orang yang berpuasa akan mendapatkan kemuliaan dari Allah sebagai balasannya. Imam Ibnu Rajab dalam kitabnya Latha’iful Ma’arif memberikan penjelasan, sedikitnya ada 2 hal yang menjadikan puasa itu dibalas oleh Allah sendiri.

Baca Juga:   Pemimpin Belia Dulu, Pemimpin Berida Sekarang

Pertama, karena sejatinya pada hari dimana manusia itu berpuasa, ia meninggalkan segala hal yang menjadi fitrahnya hanya untuk Allah semata. Ia meninggalkan segala bentuk makanan dan minuman padahal itu halal baginya, ia tinggalkan syahwatnya, ia redam amarah dan ia bersabar dengan penuh kesabaran tatkala ia berpuasa. Hal tersebut tidak didapati dalam ibadah yang lainnya. Maka orang yang berpuasa sebenarnya adalah orang yang sedang benar-benar menghamba kepada Allah dan sangat dekat posisinya dengan Allah Subhaanahu wa ta’ala.

Kedua, karena puasa adalah suatu amalan rahasia yang hanya ia sendiri dan Allah yang mengetahuinya. Puasa itu terdiri dari niat yang tersembunyi yang hanya diketahui oleh Allah. Bahkan ada yang berpendapat bahwa amal puasa itu tidak dicatat oleh para malaikat pencatat. Ada juga yang berpendapat bahwa tidak terdapat riya’ di dalam puasa sebagaimana disampaikan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya. Allah sangat mencintai orang yang beramal secara sembunyi-sembunyi, dan puasa termasuk yang demikian itu.

Maka bagi orang yang berpuasa, terdapat manfaat yang tidak didapatkan pada amalan ibadah lainnya, di antaranya adalah, pertama bagi orang yang berpuasa, ia sedang berusaha menahan hawa nafsunya daripada makan dan minum, melampiaskan syahwat (menggauli istri) ketika berpuasa, marah tatkala emosi, serta rasa angkuh dan sombong.Sungguh, ia telah benar-benar menjadi pribadi yang shalih ketika berpuasa.

Kedua, bagi orang yang berpuasa, ia sedang belajar agar hatinya selalu berkonstrasi untuk berdzikir dan berpikir positif. Banyak hal-hal yang dapat mengeraskan dan membutakan hati manusia, sedang dengan berpuasa ia mampu menahan seseorang untuk tidak su’udzon kepada orang lain. Ia akan terbiasa berpikir positif. Kemudian dzikir menjadikan hatinya lembut dan terhindar dari sifat lalai.

Baca Juga:   Allah Memperkenalkan Diri (7) Satu-Satunya Yang Berhak Disembah

Ketiga, senantiasa bersyukur atas nikmat Allah dengan dijadikannya seorang yang berpuasa itu merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang serba kekurangan, seperti makan dan minum. Dengan berpuasa, ia terhalang dari keinginan untuk berlebihan pada apa-apa yang sebenarnya mampu ia dapatkan. Sehingga ia senantiasa menjadi orang yang bersyukur.

Keempat, puasa itu menyehatkan, dengan puasa Allah jadikan saluran tempat mengalirnya darah sempit. Setan itu berada pada tempat mengalirnya darah anak Adam, sehingga dengan berpuasa ia menjadi tenang dari bisikan-bisikan setan yang biasanya membuat manusia menuruti hawa nafsunya.

Kelima, balasan bagi orang yang berpuasa, ia akan memasuki surganya Allah melalui pintu Ar-Rayyan.

Sungguh banyak balasan dan keutamaan yang akan didapat bagi orang yang berpuasa, karena Allah sendiri yang akan membalasnya. Manusia hanya bisa memberikan gambaran berdasarkan apa yang telah Al-Qur’an dan hadis jelaskan mengenai keutamaan bagi orang yang berpuasa. Puasa kali ini kita lalui dengan kondisi sedang diuji oleh Allah dengan wabah. Mari berpikir sejenak, bisa jadi Allah telah menyiapkan balasan bagi orang-orang yang mampu menjalankan dan menghidupkan Ramadhan dalam kondisi wabah seperti ini, balasan seperti apa? Kita tidak ada yang tahu. Wallahu a’lamu bishshowab

Muhda Ashari D. Wibawa, Alumni Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta