Menguji Kesempurnaan Islam di dalam Kehidupan

Rangkaian wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW ditutup surat Al-Maidah ayat 3, …al-yauma akmal-tu lakum dina-kum wa atmam-tu alai-kum nimatiy wa radhi-tu lakum  al-Islama dina..(pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu….

Lewat wahyu terakhir ini Allah seakan mengirimkan pesan tentang kesempurnaan ajaran Islam. Sempurna untuk menjadi panduan hidup manusia. Panduan hidup bagi sesama manusia habl min al-nas maupun panduan untuk menjadi panduan manusia dengan khalik-Nya (habl minallah). Juga panduan untuk manusia dengan alam lingkungan kehidupannya. Kalau dikaji lebih mendalam maka akan didapati terlalu banyak argumentasi  untuk menunjukkan keluasan, kedalaman, keutuhan, dan kebaikan Islam yang multiaspek dan multiperspektif bagi kehidupan seluruh umat manusia dan alam semesta.

Pendek kata, Islam itu agama bagi  kehidupan yang membawa keselamatan di dunia dan akhirat. Tenti saja dengan catatan, kalau semua ajaran itu dipatuhi. Karena itu Islam disebut sebagai agama yang membawa risalah rahmatan lil-‘alamin.

Dari zaman ke zaman, kesempurnaan Islam ini selalu diuji dalam kehidupan ummat manusia dengan berbagai kompleksitas problemnya masing-masing. Ujian dan tantangan sebenarnya bukan tertuju pada Islam sebagai ajaran, karena setiap muslim yakin sepenuh hati bahwa ajaran Islam pasti mampu dan cocok untuk menjawab setiap kehadiran zaman apapun dan kapanpun. Namun, Ujian dan tantangan justru jatuh ke tangan para pemeluknya, yakni setiap muslim selaku pribadi maupun kaum muslimin atau umat Islam sebagai jama’ah keseluruhan. Bagaimana mewujudkan seluruh ajaran Islam baik itu aqidah, ibadah, akhlak maupun mu’amalat-dunyawiyah dalam keseluruhan atau totalitas kehidupan nyata di dunia ini.

Jika tolok ukur kesempurnaan terletak pada dimensi habl min Allah dan habl min al-nas, maka bagaimana setiap muslim dan umat muslim mewujudkan seluruh aspek ajaran Islam itu (aqidah, ibadah, akhlak, dan mu’amalah) dalam kehidupan di dunia ini secara seimbang pula. Di situlah ujian dan tantangan ke-Islaman  yang sesungguhnya, yakni Islam dalam bukti, Islam dalam praktek kehidupan Muslim. Bukan Islam dalam teks-teks kitab suci Al-Qur’an yang pada bulan ramadhan  ini selalu kita khatamkan beberapa kali

Baca Juga:   Bahaya Mesianisme Kontemporer

Di antara kelemahan kaum muslimin saat ini adalah semakin kuatnya normativitas habl min Allah yang tidak diimbangi dan memiliki implikasi pada habl min al-nas, sehingga kehidupan berjalan secara sekuler. Baik sekuler karena kehidupan dunia terputus dari nilai-nilai agama maupun sekuler dalam bentuk keagamaan yang terputus dengan kehidupan, sehingga Islam berjalan terputus ke satu arah ekstrem baik yang serba habl-min Allah tanpa habl min al-nas maupun sebaliknya.

Ada orang yang hidup sukses duniawi tetapi terputus dari nilai-nilai Islam, sebaliknya ada pula orang terlihat khusuk di hadapan Allah, namun dalam kehidupan bersama manusia lain terlihat jauh dari nilai kemanusiaan dan kebersamaan. Atau dalam bahasa Moeslim Abdurrahman allauyarham, ada kesenjangan antara keshalehan ritualnya dengan kesalehan sosialnya dan dalam bahasa Amien Rais disebut sebagai tauhid sosial nya tidak berjalan.

Di musim wabah di bulan ramadhan kali ini klaim kesempurnan Islam sebagaimana tercantum dalam ayat terakhir di atas semakin nyata ujiannya. Salah satu ujian itu adalah sejauh mana kita peduli pada nasib dan juga keselamatan orang lain.  Apakah kita termasuk bagian dari masyarakat yang saling menguatkan sesama atau menjadi bagian dari warga masyarakat yang malah memanfaatkan aji mumpung untuk kepentingan diri sendiri. (red)