6 Hal Perusak Hati

Penyakit Hati
Penyakit Hati Ilustrasi Dok Rebiz Zield

Saudaraku, dalam banyak hal, kita sering diperintahkan untuk bertanya kepada hati kita. Kata orang bijak, hati nurani tidak pernah bohong. Namun, bukankah semua orang juga mempunyai hati? Tapi, mengapa banyak pula manusia yang tidak baik?

Dalam hal ini, ada seoarang bijak yang berkata, “hati itu bagaikan cermin”. Ketika cermin itu bersih, maka dia bisa dijadikan alat untuk melihat banyak hal. Namun, ketika cermin itu terlalu kotor, maka tidak akan ada lagi yang bisa dilihat dalam cermin itu. Setiap manusia dikarunia hati yang bersih. Namun  dosa-dosa yang diperbuat membuat hati itu menjadi kotor.

Kata-kata orang bijak itu sebenarnya diilhami oleh sabda Rasulullah SAW “dalam tubuh setiap orang terdapat organ yang keberadaannya sangat berpengaruh terhadap organ lainnya, yaitu hati (kalbu). Jika hatinya baik, baiklah seluruh organ tubuh lainnya. Jika hatinya rusak, rusaklah seluruh organ tubuh lainnya”.

Oleh karena itu, jika hatinya baik, maka kita akan hidup dengan baik. Namun jika hati kita rusak, maka kita akan celaka dunia dan akhirat. Dengan begitu, kita harus senantiasa menjaga hati kita agar tetap berada dalam kategori baik. Ini sangat penting kita lakukan karena itu akan menentukan keselamatan kita. Tidak hanya di dunia namun juga di akhirat kelak.

Apa saja yang bisa membua hati kita rusak? Menurt Hasan al-Basri, ada enam hal yang bisa membuat hati kita rusak. Pertama, menganggap remeh dosa. Yakni, setiap melakukan dosa, kita berangan-angan akan segera bisa bertobat dan yakin Allah akan menerima tobatnya. Kedua, kita mengetahui ajaran Islam, tetapi tidak berusaha diamalkan. Ketiga, mengamalkan ajaran Islam, tetapi tidak ikhlas. Keempat, menikmati rizki dari Allah, tetapi tidak berusaha mensyukurinya. Kelima, tidak ridha pada ketentuan Allah. Keenam, menguburkan jenazah saudaranya, tetapi tidak mengambil pelajaran darinya.

Baca Juga:   Dongeng

Oleh karena itu, agar hati kita tidak rusak, jangan sekali-kali kita meremehkan perbuatan dosa. Sekecil apa pun dosa dan pelanggaran yang kita lakukan akan dapat berkembang menjadi dosa yang sangat besar. Misalnya, agar urusan lancar, kita memberikan suap kepada petugas. Nominalnya mungkin tidak seberapa, namun kalau kebiasaan itu kemudian ditiru oleh orang lain dan kemudian ditiru lagi, maka sistem yang dikembangkan oleh pemerintah akan tidak berjalan. Akibatnya, orang-orang yang jujur atau orang yang tidak bisa memberikan suap kepada petugas akan banyak yang menjadi korban.

Atau, ketika kita menjadi petugas, kita tahu bahwa menerima suap atau tips atau uang terimakasih itu tidak diperbolehkan oleh sistem di tempat kerja kita, namun karena kita tergoda menerimanya, kita beralasan bahwa kita tidak meminta, tapi diberi. Pada mulanya, mungkin kita tidak merasa salah, namun lama kelamaan kita akan ketagihan. Kita tidak akan melakukan tugas dengan baik kalau tidak diberi uang tips tambahan. Akhirnya, kita akan berani meminta untuk disuap. Kalau hati kita sudah bisa menerima kalau kita minta suap berarti hati kita benar-benar sudah rusak atau sudah kotor.

Maka kita harus bekerja ekstra keras untuk tidak mendekati dosa. Apabila kita sadar telah melakukan dosa, jangan ragu segera berhenti dan segara meminta pengampunan kepada Allah SwT. Rasulullah SAW yang dijaga dari perbuatan dosa (ma’shum) tidak kurang seratus kali beristighfar setiap hari. Kedua, kita tidak boleh membiarkan pengetahuan kita tentang agama Islam sebagai sekedar pengetahuan, namun harus mengamalkannya semampu daya kita. Misalnya, kita tahu bahwa Islam memerintahkan kita untuk memperlakukan orang tua dengan baik. Maka hal itu harus kita lakukan dan kita praktikkan dalam amal keseharian kita. Atau kita tahu bahwa Islam mengharuskan para penganutnya untuk membayar zakat, maka harus segera kita lakukan. Jangan sampai kita hanya suka berdebat tentang barang yang harus dizakati, namun tidak pernah mengeluarkan zakatnya. Dalam istilah orang Jawa, jangan sampai kita termasuk bangsa gajah diblangkoni, isa kojah ora gelem nglakoni (bisa ceramah namun tidak mau melakukan yang diceramahkan itu). Kalau kita termasuk orang yang seperti itu, maka hati kita sudah benar-benar rusak.

Baca Juga:   Memperkuat Spiritualitas Umat Islam di Tengah Pandemi

Ketiga, marilah kita mejalankan semua ajaran Islam secara ikhlas karena Allah semata. Bukan karena ingin mendapatkan pujian dari sesama manusia. Kalau kita mengamalkan ajaran Islam karena hanya mengharap pujian dari sesama manusia, maka kita termasuk orang yang memperalat agama Allah.  Keempat dan kelima, marilah kita berusaha mensyukuri semua karunia yang telah diberikan kepada kita. Kalau kita mau melihat ke bawah, melihat nasib orang-orang yang berada di bawah kita, maka kita pasti akan merasa bersyukur. Namun, kalau selalu mendongak melihat orang-orang yang di atas kita dan terus merasa iri serta merasa kurang pada setiap karunia-Nya, maka kita benar-benar akan mengalami kerusakan hati. Kita akan mudah terserang penyakit hati dalam arti kiasan maupun yang sebenarnya. Oleh karena itu, kita harus merasa ridha pada setiap keputusan Allah yang telah diberikan kepada kita. Apa yang diberikan kepada kita adalah hal yang paling pantas kita terima. Allah akan selalu mencukupkan apa yang kurang.

Dan yang terakhir, kita harus selalu ingat bahwa kalau saat ini kita menguburkan saudara kita, suatu saat nanti kita juga akan dikuburkan. Maka, kita harus senantiasa mengumpulkan bekal yang cukup untuk menghadap Allah Swt.

Isngadi Marwah Atmadja, Catatan Bulan Suci, Kumpulan Bahan Kultum Ramadhan