Muhammadiyah Yang Selalu Gembira

Suaramuhammadiyah.id. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata gembira diterjemahkan sebagai berikut: suka; bahagia; bangga; senang;  bergembira/ber·gem·bi·ra/ v merasa bangga dan berani; bersuka hati; berbesar hati: mereka ~ karena dapat naik kelas;~ ria bersuka ria; bersenang-senang; menggembirakan/meng·gem·bi·ra·kan/ v 1 menjadikan gembira; membangkitkan rasa gembira; menyenangkan: kedatangannya ~ hati saya; 2 menyenangkan dan menggiatkan: gemuruh bunyi genderang ~ hatinya untuk menuju ke medan laga; 3 bergembira tentang sesuatu: ia ~ kepandaian anaknya;  mempergembirakan/mem·per·gem·bi·ra·kan/ v menjadikan bergembira; menjadikan bersenang hati: sekadar ~ diri, ia bersiul-siul sambil berjalan-jalan; penggembira/peng·gem·bi·ra/ n 1 orang yang selalu atau mempunyai sifat gembira (suka, bangga); periang: ia anak yang ~; 2 orang (sekelompok orang) yang memberi semangat, dukungan, dan sebagainya kepada favoritnya yang akan bertanding; suporter; kegembiraan/ke·gem·bi·ra·an/ n kesenangan hati; perasaan senang (bangga) yang menimbulkan kegiatan: semua bekerja dengan ~

Istilah ini memang bukan istilah khas milik Muhammadiyah. Namun, sejak mula berdirinya, Muhammadiyah sudah identik dengan istilah itu. Seakan meneladani Nabi Muhammad  yang juga diutus untuk menggembirakan seluruh alam. Muhammadiyah sejak lahir seakan juga didesain untuk senantiasa menggembirakan umat. Bahkan di dalam permusyawaratan Muhamamadiyah, ada istilah khusus yakni penggembira. Suatu istilah yang saat ini mungkin hanya dipakai oleh Muhammadiyah.

Watak dasar Muhammadiyah memang selalu bergembira dan menggembirakan serta mencipta suasana gembira di tengah masyarakat. Pada masa awal kelahiran Muhammadiyah, wong cilik yang mempunyai akses terbatas di seluruh sektor kehidupannya tergembirakan oleh Muhammadiyah.

Orang yang miskin dan anak yatim tergembirakan dengan hadirnya rumah miskin dan rumah yatim Muhammadiyah, yang tidak mempunyai akses ke sarana kesehatan tergembirakan dengan hadirnya Rumah Sakit Muhammadiyah. Yang tidak bisa mengakses sekolah tegembirakan dengan hadirnya sekolah Muhammadiyah.

Baca Juga:   Masa Saling Berbagi

Bahkan yang merasa tidak dapat mengakses rahmat Allah ,juga tertolong dengan berbagai ajaran pembebasan Muhammadiyah. Orang Islam yang semula merasa dirinya sebagai “wong cilik” di hadapan Allah SwT dan merasa tidak berhak memohon apapun kepada Allah, dengan mengikuti pengajian Muhammadiyah, mendapat pencerahan bahwa tidak ada “wong cilik” dan “kaum elite” di hadapan Allah SwT. Semua manusia mempunyai hak dan peluang yang sama di hadapan-Nya.

Semua berhak mengakses langung seluruh rahmat Allah. Semua manusia tidak perlu membayar upeti kepada siapapun yang menyatakan diri sebagai kaum elite yang mengaku mempunyai hak monopoli akses kepada-Nya. Yang tidak tahu cara mengakses Tuhan, diajari supaya bisa shalat dan berdoa secara benar. Bukan malah dibohongi, dibodohi, dan ditakut-takuti supaya semakin tergantung kepada elite tertentu sebagaimana ketergantungan pemadat dengan candunya.

Itulah watak dasar Muhammadiyah, yang di manapun dia hadir selalu menciptakan kegembiraan bagi warga masyarakat. Warga Muhammadiyah sendiri juga terdidik untuk selalu bergembira dan bersyukur ketika bertemu dengan apapun. Bahkan ketika bertemu dengan bencana, Muhammadiyah juga selalu bergembira. Gembira bukan karena ada orang yang menderita, namun gembira karena ada peluang untuk berbuat baik dengan menolong sesama.

Kalau kita mau jujur membaca catatan sejarah, tidak usah terlalu lama, sepuluh tahun terakhir saja. Maka akan kita jumpai fakta bahwa hampir tidak ada peristiwa bencana di negeri ini (dan sebagian luar negeri) yang tidak mendapat uluran tangan oleh para relawan Muhammadiyah.

Hari ini, ketika bencana Covid-19 hampir merata di seluruh negeri, seluruh jaringan dan relawan Muhammadiyah juga terlihat bangkit melawa sampar ini. Beberapa Cabang dan Ranting yang selama ini terlihat adem ayem banyak yang terlihat bangkit menggeliat. Mungkin inilah watak dasar Muhammadiyah yang selalu gembira ketika mendapatkan peluang untuk berbuat bukan untuk mendapat. Seperti lagu anak tentang Sang Surya yang hanya memberi tanpa pernah berharap untuk kembali. (mjr8)

Baca Juga:   Merasa Jawara dalam Beragama