Jangan Sok Tahu, Itu Cerminan Ibadahmu!

Ilustrasi Dok Skot Waldron

Royyan Mahmuda Al’Arisyi Daulay

Dalam suatu cerita, salah satu ulama mazhab yakni Imam Malik Bin Anas pernah ditanya oleh seseorang dari negeri jauh. Orang tersebut menanyakan tentang hukum agama kepada Imam Malik. Akan tetapi Imam Malik mengaku tidak mendalami perihal yang ditanyakan itu, sehingga beliau menjawab “La Uhsinuha, saya tidak tahu dengan baik hal tersebut.” Lantas orang yang bertanya tadi merasa tidak puas dan mengulangi pertanyaan sampai tiga kali. Imam Malik pun tetap teguh menjawab tidak tahu.

Apa yang dilakukan oleh Imam Malik adalah hal yang sangat luar biasa. Kita tahu bahwa beliau adalah ulama besar, Al ‘Alim Al ‘Alamah wa Al Faqih Al Din. Tidak ada yang meragukan kepakaran beliau dalam bidang agama, bahkan kitab Al-Muwattho yang ditulisnya, menjadi referensi ulama-ulama besar setelahnya. Guru-gurunya pun sangat populer dalam dunia keilmuan Islam. Saking terpercaya tingkat keilmuan Imam Malik, dalam ilmu hadis, beliau termasuk perowi dalam kategori silsilah emas.

Dengan kualitas yang tidak diragukan seperti itu pun Imam Malik masih mau mengatakan tidak tahu terhadap sesuatu yang diluar kemampuannya. Tentu ini merupakan cerminan akhlak karimah dari seorang ahli ilmu yang tawadhu. Sangat berbanding terbalik apabila dikontekstualisasikan dengan kondisi kita pada hari ini. Di mana orang-orang berlomba untuk menjadi yang paling tahu. Bahkan untuk sesuatu yang belum teruji validitasnya, mereka tidak sungkan untuk bersikap sok tahu.

Bukannya apa-apa, perilaku sok tahu atas segala hal akan sangat membahayakan, terlebih di era teknologi informasi seperti saat ini. Penyebaran berita hoax (klik share atau copy paste) adalah salah satu contoh dari sekian banyak sikap sok tahu kita terhadap suatu hal. Padahal islam menganjurkan umatnya untuk menjaga diri dari sifat demikian dan lebih mengutamakan diam. Dalam kitab Nasoihul ‘Ibad, ada sebuah riwayat yang berbunyi, ” Shalat adalah tiang agama, tetapi berdiam diri itu lebih utama. Sedekah itu dapat menahan murkanya Tuhan, tetapi berdiam diri itu lebih utama. Puasa itu bentengnya neraka, justeru berdiam diri lebih utama. Dan berjuang di jalan Allah itu puncaknya agama, tetapi berdiam diri lebih utama.”

Baca Juga:   Duka Mendalam untuk dr Adriani Kadir

Menurut Syaikh Nawawi Al-Bantani, maksud berdiam diri adalah tidak mengucapkan sesuatu kecuali dia tahu dan bermanfaat bagi dunia dan agama. Diam itu dianggap ibadah tingkat tinggi, karena sebagian besar kesalahan manusia disebabkan oleh lisannya. Maka tidak heran ada pribahasa yang mengatakan bahwa “lidah lebih tajam dari pada pedang”, karena memang ucapan seringkali lebih menyakitkan ketimbang perbuatan.

Pada konteks sekarang, komunikasi manusia tidak sebatas bertemunya antar individu. Teknologi informasi telah berhasil merekayasa bentuk komunikasi manusia agar semakin mudah dan luas jangkauannya. Maka berdiam diri itu bukan hanya dimaknai menjaga lisan agar tidak berkata yang dia tidak ketahui, ataupun informasi yang tidak benar. Namun menjaga diri agar tidak menyebarkan informasi yang tidak diketahui keabsahannya serta di luar kapasitasnya, baik secara lisan di dunia nyata ataupun tulisan di dunia maya, bahkan video-video di jagad sosial media.

Selain itu sikap diam dan tidak sok tahu juga merupakan implikasi dari kualitas ibadah seseorang. Kualitas dalam makna hakikat, bukan kaifiyat. Jika berbicara kaifiyat maka hanya terbatas pada syarat, tata cara ataupun rukun dalam suatu pelaksanaan ibadah. Namun jika berbicara hakikat berarti sedang melihat bagaimana dampak ibadah tersebut terhadap kehidupan manusia yang fana ini. Ibadah shalat dalam makna hakikat dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan munkar. Ibadah sedekah hakikatnya menuntun manusia menjadi makhluk yang peka terhadap permasalahan sosial. Ibadah puasa menuntut manusia untuk mengendalikan syahwatnya bahkan untuk perkara manusiawi seperti makan dan minum. Sedang berjuang di jalan Allah secara hakikat menyadarkan manusia untuk tidak tunduk pada apapun juga selain hanya pada Sang Pencipta.

Dalam riwayat diatas, ibadah shalat, puasa, sedekah bahkan jihad disandingkan dengan keutamaan diam bukan tanpa alasan, akan tetapi mengandung hikmah bahwa seorang muslim yang taat beribadah sejatinya selaras dengan kualitas dirinya dalam mengendalikan perbuatannya. Imam Malik sudah mencotohkan demikian, dan para ulama yang lain pun sama, semakin tinggi kualitas ibadah maka semakin berhati-hati dalam bersikap dan berucap. Lantas kita yang masih setengah dalam beribadah ini kok bisa dengan mudah untuk mengumbar sesuatu yang tidak pasti akibat dari kebodohan dalam diri. Andai para ulama itu hidup di zaman ini, mungkin berita hoax tidak akan laku karena semua tidak bersikap sok tahu sehingga setiap informasi akan dicek kebenarannya terlebih dahulu. Sayangnya tidak, ah, andai saja.

Baca Juga:   Buya Yunahar di Mata Sang Putra

Wallahu a’lam bisshowab.

Royyan Mahmuda Al’Arisyi Daulay, alumni Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta