KH Hasyim Asy’arie: Urgensi Pendidikan Islam

Dok Tebuireng

Faiz Amanatullah

Kala itu malam hari pada tanggal 7 Ramadhan 1366 H adalah waktu dimana kalangan santri Pesantren Tebu Ireng berduka, rakyat Indonesia pun mengalami duka yang mendalam ketika beperginya ulama kharismatik sekaligus revolusioner Indonesia. Seakan waktu itu adalah mimpi yang tidak pernah terbayangkan ditinggalkan oleh seorang guru yang selama ini menjadi sandaran dan panutan ummat. Ulama itu adalah Kyai Haji Hasyim Asy’arie.

Adab Dalam Bergaul

KH. Hasyim dikenal sebagai ulama dan pejuang Indonesia yang berkiprah dalam dunia pendidikan pesantren guna membina generasi bangsa dengan penanaman nilai-nilai luhur berupa adab dan ilmu. Terkait dengan ajaran adab, maka sudah tidak diragukan lagi apa yang sudah dipelajari dan diamalkan oleh KH. Hasyim Asy’arie.

Pernah suatu ketika, santri dari KH. Ahmad Dahlan ingin sekali belajar di Tebu Ireng bersama KH. Hasyim. Santri tersebut bernama Basyir, ketika Basyir bertemu dengan KH. Hasyim ia bercerita tentang keluh kesahnya atas ajaran KH. Dahlan yang ditentang oleh banyak orang, ketika KH. Dahlan melakukan perubahan kiblat di lingkungan Kampung Kauman, tidak dapat dipungkiri sehingga ikhtiarnya tersebut mendapatkan pertentangan dari warga.

Kemudian KH. Hasyim bertanya, “gurumu siapa?”. Basyir menjawab, “KH. Ahmad Dahlan kyaii, yang berada di Kampung Kauman Yogyakartaí”. Maka ketika KH. Hasyim mendengar nama Dahlan, tentu beliau memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Ahmad Dahlan, bahkan dua ulama ini pernah satu guru, yaitu belajar kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. KH. Hasyim pun menyuruh santri tadi untuk mengikuti apa yang diajarkan oleh KH. Dahlan.

Walaupun memang KH. Hasyim dan KH. Dahlan sudah berpisah, bahkan sudah mendirikan organisasi Islam masing-masing, mereka masih saling menghormati dan saling menhargai, karena adab yang mereka miliki sudah mapan. Padahal kala itu banyak sekali orang yang menilai dua organisasi tersebut bermusuhan hanya karena masalah perbedaan dalam ibadah. 

Dari cerita tersebut kita dapat mengambil hikmah bahwa perbedaan bukan berarti menjadi alasan suatu golongan atau seseorang dapat bermusuhan. Terkadang memang yang menjadi pimpinan dari suatu golongan merasa baik-baik saja terhadap golongan lain, hanya karena golongan arus bawah yang belum memahami makna ukhuwa sehingga dapat menyebabkan pecah belah.

Baca Juga:   Kala Guru dan Murid Bersua

Semangat Ilmu KH. Hasyim Asy’arie

Spirit yang ditanamkan oleh KH. Hasyim Asy’arie kepada generasi muda, kala itu khususnya santri pondok pesantren, beliau berkata: “Hendaknya segera mempergunakan masa muda dan umur untuk memperoleh ilmu, tanpa terpedaya oleh rayuan ‘menunda-nunda’ dan ‘berangan-angan panjang’, sebab setiap detik yang terlewatkan dari umur tidak akan tergantikan”. Kenyataan yang terjadi pada dewasa ini yang terjadi pada generasi muda terdapat banyak sekali rayuan yang berdampak terhadap terkikisnya ilmu (adab) dengan adanya rayuan IPK tinggi, nilai bagus, beasiswa dan semacamnya. Sebenarnya hal yang disebut boleh saja dikejar asalkan jangan lupa akan ilmu agama dan adab sebagai landasan untuk mendapatkan ilmu lainnya.

Akan tetapi yang identik dengan nasihat dari KH. Hasyim Asy’ari kepada generasi muda menyangkut dua jenis rayuan, yaitu seringnya “menunda-nunda” dan “berangan-angan panjang”. Dua hal tersebut yang ditekankan oleh KH. Hasyim karena memang akan berdampak pada penyesalan yang amat sangat. Di kala masa muda, musuh yang harus kita lawan adalah diri kita sendiri serta sifat menunda-nunda. Sifat menunda yang sering diwarnai dengan kata “ahh nanti saja”, “mumpung masih muda, umur masih panjang”. Hal itulah yang akan berdampak pada kegagalan di masa muda.

Point kedua adalah berangan-angan panjang. Hal ini sama halnya dengan banyak mengkhayal sehingga banyak sekali hal penting yang terlewatkan. “seandainya aku nanti setelah lulus cepat mau langsung kerja apaa ya enaknya”, begitu saja yang dilakukannya dan malas belajar, sehingga tidak ada aktivitas. Berharap banyak tetapi tidak ada satupun yang terwujud, jatuhnya hanya pada keinginan saja. Dua hal tersebut memang saling berkaitan satu sama lain serta sering dialami oleh generasi muda. Maka dari itu, KH. Hasyim Asy’arie memprovokasi kepada generasi muda untuk memprioritaskan ilmu, kalau ada apapun yang bertentangan dengan ilmu, maka prioritaskan ilmunya.

Baca Juga:   Bagi Pak AR Semua Malah Kebetulan

Urgensi Pendidikan

Dari sekian besarnya kiprah KH. Hasyim dalam dunia pendidikan, beliau juga mendirikan Pondok Pesantren Tebu Ireng yang kemudian bertanformasi menjadi Madrasah Nidzamiyah atas usulan A. Wahid Hasyim dan KH. Muhammad Ilyas, yang mengajarkan 70% ilmu pengetahuan umum berupa matematika, geografi, sejarah, menulis huruf latin dan bahasa Belanda. Sehingga KH. Hasyim Asy’arie pun dijadikan ikon pondok pesantren oleh masyarakat Indonesia.

Hidup beliau dari pagi sampai malam senantiasa diwarnain dengan keilmuan, beliau memiliki keahlian dalam ilmu hadits. Adapun urgensi pendidikan yang diusung oleh KH. Hasyim Asy’arie yaitu:

Pertama, mempertahakan predikat makhluk hidup paling mulia yang dimiliki manusia. Artinya, makhluk hidup dapat dikatakan sebagai makhluk yang mulia karena ilmunya, bukan karena akalnya. Ilmu itu adalah hasil dari akal ketika sudah didayagunakan. Kalau predikat mulia hanya diukur dari akal, maka semua manusia sudah mulia karena memang dikaruniai akal. Maka manusia itu mulia karena ilmu. Sedangkan ilmu bisa didapatkan lewat proses pendidikan. Dunia paling penting dalam peradaban manusia adalah dunia pendidikan. Disitulah manusia bertahan dalam status kemanusiaannya, level kemakhlukan paling mulia. Gagasan memanusiakan manusia juga diperoleh dari pendidikan.

Kedua, melahirkan masyarakat yang berbudaya dan beretika, melalui pengamalan ilmu. Jika ada  suatu masyarakat yang selalu konflik terus menerus, kemudian selalu jatuh pada kesalahan yang sama pula, artinya masyarakat tersebut kurang belajar atau bahkan salah ilmu. Di Indonesia, masyarakat yang belajar di kampus bisa dibilang cukup banyak, bahkan dapat menghasilkan beribu-ribu skripsi. Tetapi pertanyannya, apakah skripsi tersebut berguna bagi public atau hanya sekedar pajangan di perpustakaan?. Jangan menilai jika seseorang sudah menulis buku, maka itu puncak ilmunya. Padahal puncak ilmu tersebut berada pada pengamalannya yang merubah sikap pribadi menjadi lebih baik dan bermartabat.